Revolusi Literasi Keluarga di Era Globalisasi

Pentingnya pemahaman literasi: ilutrasi www.google.com

Oleh: Seto Galih Pratomo*

Seiring perkembangan zaman yang membuat budaya mengalami perubahan, dimanjakan oleh kehadiran dan kemajuan teknologi yang serba canggih membuat gaya hidup serba ingin instan. Hingga tak ayal jika saat ini kebanyakan orang lebih menyukai konten video daripada tulisan yang menuntutnya untuk membaca dibandingkan dengan hanya sekadar menonton saja. Inilah yang disebut globalisasi. Globalisasi adalah proses masuknya ke ruang lingkup dunia atau bisa dikatakan modernisasi. Bisa diartikan juga sebuah perkembangan dan integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran suatu budaya dan lain-lain. Dari pertukaran tersebut semakin luas pandangan dan gaya hidup di berbagai belahan dunia yang menuntutnya untuk maju dan memperkembangkan. Dalam tulisan ini, penulis menyajikan tulisan opini ini dengan menyertakan data didalamnya.

Di era globalisasi ini budaya literasi mengalami pergeseran makna. Literasi tidak hanya sebatas kemampuan mengeja, menulis, atau membaca, namun lebih dari pada itu, literasi di era digital ini menuntut masyarakat untuk melek media. Nakmun sayangnya, di tengah masyarakat budaya literasi seperti membaca dan menulis saat ini seakan-akan menjadi sebuah budaya yang keberadaannya tergerus oleh derasnya perkembangan teknologi dan komunikasi seperti gadget yang sudah menjadi sebuah kebutuhan di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Pemuda saat ini lebih senang dengan berbagai macam gadget daripada pena dan buku. Lebih senang mengupdate status di media sosial yang terkesan alay dan tidak bermanfaat. Menjadikan sebuah budaya menulis sulit diterapkan pada kehidupan sehari-hari.

Gaya hidup yang serba ingin instan membuat malas untuk membaca. Melihat sebuah tulisan panjang di media sosial hanya dilihat saja tanpa dibaca lebih lanjut. Hanya membaca kutipan tanpa keseluruhan. Kemudian dishare atau dibagikan ke orang lain. Dari sini lah muncul yang namanya hatespeech dan hoaks. Sebuah budaya asal sharing tanpa menyaring atau memastikan berita itu benar atau hanya buatan. Padahal membaca adalah sebuah proses dalam menulis, karena menulis adalah buah dari membaca.

Maka dari itu tidak dipungkiri jika minat baca bangsa Indonesia berada pada ranking dua dari bawah. Central Connecticut State University (CCSU) mengeluarkan hasil penelitian terkait “World Most Literate Nations” atau peringkat literasi negara-negara dunia pada Maret 2016. Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei. Indonesia masih unggul dari satu negara, yakni Botswana yang berada di kerak peringkat literasi ini. Nomor satu ada Finlandia, disusul Norwegia, Islandia, Denmark, Swedia, Swiss, AS, dan Jerman.Korea Selatan dapat ranking 22, Jepang ada pada ranking 32, dan Singapura berada di peringkat ke-36. Malaysia ada di barisan ke-53. Literasi secara umum merupakan sebuah kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca dan menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dari sinilah terlihat bahwa masyakat Indonesia masih apatis atau bersikap bodo amat terhadap budaya literasi. Menulis merupakan sebuah budaya yang sudah turun menurun. Sejak 14 abad yang lalu pada zaman Nabi Muhammad SAW sudah membudaya dikalangan para sahabat yang menulis firman Allah dan sabda Rasulullah. Kegiatan menulis ini menggunakan media seadanya seperti pelepah kayu, batu, dan tulang. Dalam Al-Qur’an surah Al-Alaq ayat 3 dan 4 disebutkan, “Bacalah, dan Tuhanmulah yang maha pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantara kalam.” Kalam di sini berarti dengan perantara menulis. Bahkan, sebelum tahun masehi, kegiatan menulis telah berlangsung dengan dibuktikannya tulisan yang ada disitus-situs kuno yang biasanya terdapat didinding-dinding yang berupa ukiran atau relief.

Setelah itu pada masa selanjutnya budaya menulis ini diturunkan kepada cendekiawan yakni para ulama sebagai pewaris para nabi. Dilihat pada karangan kitab-kitab klasik para ulama terdahulu yang rajin menulis sampai berjilid-jilid. Contohnya kitab karangan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani bernama Fathul Bari’ yang berjumlah 17 jilid berisi 400 sampai 800 halaman perjilidnya. Dan masih banyak ulama lainnya yang memiliki karya sampai berjilid-jilid dan berjudul-judul. Pendiri Pesantren Tebuireng Jombang, KH. Hasyim Asy’ari yang menulis berbagai judul kitab, ada 18 karya tulis beliau yang kini dikumpulkan menjadi satu kitab bernama Irsyadus Sari. Ini merupakan sebuah budaya yang bagus untuk dicontoh dan diterapkan pada saat ini. Sebagai uswatun hasanah atau contoh baik yang perlu dilakukan pada saat ini.

Menggalang kepedulian masyarakat terhadap budaya literasi sangatlah penting, karena tanpa literasi khusunya membaca kita adalah manusia yang tidak tahu apa-apa. Membaca adalah jendela dunia. Semakin banyak membaca, semakin banyak pengetahuan yang kita ketahui. Sementara persaingan membutuhkan keilmuan yang tinggi, jadi untuk menciptakan negara yang berintegritas dan maju. Seyogianya pemuda memiliki daya saing yang tinggi. Di Jombang ada sebuah pergerakan menggalang minat membaca dan menulis yang dilakukan oleh sekumpulan pemuda melek literasi yang dinamakan Aliansi Perpus Jalanan Jombang. Komunitas ini setiap harinya melapak buku untuk dibaca di tempat. Melapak di tempat yang ramai sehingga banyak yang tertarik untuk membaca buku. Tujuannya sungguh mulia yakni untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia. Komunitas ini juga mensosialisasikan pentingnya membaca bagi setiap orang dan dampak buruk bagi negara jika rakyatnya enggan untuk membaca dan menulis.

Adapun di lingkungan sekolah, seperti pada sekolah MTsN 7 Kediri, bahwa siswa-siswi di sekolah tersebut difasilitasi penuh untuk menulis dan membaca. Sekolah membuat program penerbitan buku sendiri dan lebih menariknya buku itu sudah ISBN (nomor buku standar internasional). Kegiatan ini dimulai dari 2016 dan sampai saat ini sudah 50 judul buku yang sudah diterbitkan. Ini adalah sebuah gebrakan baru untuk menghidupkan budaya literasi yang telah mati. Siswa akan semangat karena budaya menulis tertanam dilingkungan sekitarnya, secara tidak langsung mereka terdorong untuk membudayakan menulis tanpa keterpaksaan.

Di Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, ada progam Gerakan Literasi. Gerakan ini adalah wujud sekolah dalam mendobrak pergerakan minat membaca dan menulispara siswa. Programnya dilaksanakan setiap hari Senin sesudah shalat duha dengan membaca 15 menit lalu dipresentasikan hasil bacaannya di depan banyak orang oleh perwakilan kelas. Kemudian setelah selesai membaca, para siswa diberi tugas untuk membuat resensi dari buku tersebut. Buku disediakan dan dipinjamkan oleh sekolah. Di Pesantren Tebuireng juga menyediakan berbagai wadah para siswa atau santri untuk berkarya khususnya menulis. Ada Majalah Tebuireng yang dibagikan kepada seluruh santri setiap 2 bulan sekali, dan didalam majalah itu memuat tulisan-tulisan santri. Juga disediakan penerbitan buku milik pesantren yang dinamakan Pustaka Tebuireng, santri yang memiliki karya tulis buku bisa diterbitkan melalui penerbitan ini. Dalam mengikuti perkembangan globalisasi, disediakan juga wadah menulis yaitu di website tebuireng.online yang mempersilakan santri-santri untuk mengirim karyanya untuk dimuat di website dengan ribuan viewers atau pengunjung perharinya. Website ini berafiliasi ke media-media lain yaitu Facebook, Instagram, dan Twitter.

Dari semua pergerakan guna meningkatkan minat baca masyarakat, sebenarnya masih sangat jauh peradabannya dibandingkan budaya literasi di negara-negara lainnya. Di antara negara-negara Asean saja, Indonesia menempati urutan ketiga terbawah bersama Kamboja dan Laos. Bagaimana tidak, penelitian UNESCO mengenai minat baca pada tahun 2014, lagi-lagi menyebutkan bahwa anak Indonesia rata-rata membaca hanya 27 halaman buku dalam satu tahun. Kondisi tersebut merupakan tidak bersabatnya masyarakat Indonesia dengan buku. Tak heran jika UNESCO pada tahun 2012 menunjukkan bahwa indeks tingkat membaca Indonesia hanyalah 0,001. Itu artinya, dari 1.000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius. Dengan rasio ini, berarti di antara 250 juta penduduk Indonesia, hanya 250.000 yang punya minat baca. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 88,1 Juta pada 2014.

Fakta tersebut didukung juga oleh survei tiga tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai minat membaca dan menonton anak-anak Indonesia, yang terakhir kali dilakukan pada tahun 2012. Dikatakan, hanya 17,66% anak-anak Indonesia yang memiliki minat baca. Sementara, yang memiliki minat menonton mencapai 91,67%. Itu disebabkan oleh perkembangan globalisasi yang tidak bisa dibendung. Di manjakan dengan teknologi yang serba canggih membuat gaya hidup serba ingin mudah atau instan. Kebanyakan lebih memilih menonton daripada membaca bersusah payah. Dengan melihat apa yang sudah jadi seperti video atau film dari pada membaca buku ataupun novel. Di sinilah letak bangsa Indonesia sulit untuk maju. Hanya menjadi negara berkembang saja. Padahal negara-negara maju mempunyai indeks literasi yang tinggi. Dari buku terdapatlah ilmu-ilmu dan pemikiran luas yang bisa membuat seseorang bisa berpikir maju dan memiliki pandangan luas. Disinilah masyarakat bisa memilah informasi yang benar dan salah. Maka masyarakat bisa terhindar dari hoaks yang mengancam bangsa Indonesia saaat ini. Maka perlu digenjot kembali minat masyarakat Indonesia dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat menulis.

Namun berbalik dari fakta pengunjung Perpustakaan Nasional di Jakarta. Pada situs GenPI.co melaporkan saat bertandang ke gedung perpus dengan 24 lantai yang ada di kawasan Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Tampak ratusan pengunjung memadati setiap lantai. Banyak di antara mereka dari kalangan milenial dan sisanya orang dewasa yang sedang melakukan literasi membaca atau sekadar mengambil data dari buku bacaan. Perpustakaan Nasional ini mulai diresmikan 14 september 2017 sampai sekarang grafiknya justru meningkat. Dalam sehari kunjungan sekitar 800 orang. 500 orang yang on site (datang langsung), sekitar 200 sampai 300 itu yang online di Perpusnas Digital Library. Hal ini didukung juga oleh sarana wisata dan berfoto, sehingga membuat orang tertarik untuk mengunjungi perpustakaan ini. Dan juga data yang dipublikasikan London Book Fair 2019, Indonesia merupakan negara yang paling aktif menerbitkan buku di antara negara-negara anggota Asean. Setiap tahun setidaknya ada 30 ribu judul buku yang diterbitkan di Indonesia. Malaysia berada diposisi kedua dengan 19 ribu judul buku yang diterbitkan per tahun. Thailand diposisi ketiga dengan 17 ribu judul buku per tahun. Singapura diposisi keempat dengan 9.952 judul buku per tahun. Sementara itu, Filipina di urutan kelima dengan 7 ribu judul buku per tahun.

Memang untuk mewujudkan budaya menulis ini perlu adanya afiliasi dari berbagai elemen seperti pemerintahan, perusahaan, organisasi, ataupun sebuah instansi yang harusnya ikut berperan dalam menggalang kepedulian literasi. Lebih pentingnya lagi budaya literasi sudah ditanamkan sejak di lingkungan keluarga. Di era modern ini semua hal mudah untuk didapat. Maka dari itu, dakwah literasi ini bisa dijangkau oleh banyak orang dengan memanfaatkan Revolusi Industri 4.0 untuk menggalang kepedulian literasi di media sosial atau dunia cyber. Dengan dibuatnya akun-akun menulis dan progam menulis online. Salah satunya Gerakan Nulis Yuk (GNY) yang didirikan oleh Seto Galih Pratomo dalam menggalang budaya menulis masyarakat dengan menggunakan grup Whatsapp dan website Segap Media. Maka sebenarnya siapapun bisa membuat pelajaran apapun itu terkait literasi via online seperti akun media sosial tentang literasi, gagasan, sastra, kutipan kata tokoh, dan lain-lain. Contoh semacam itu sudah termasuk menciptakan literasi menulis di era globalisasi ini yang menuntut akan digitalisasi. Saat ini perpustakaan konvensional mengalami penurunan dengan adanya gadget yang bisa dibawa ke mana-mana melalui buku elektronik atau e-book. Di sinilah peran pemanfaatan era globalisasi dengan mengikuti perkembangan zaman yang beralih dari konvensional menuju digital.

Revolusi literasi bisa mengubah menjadi kepedulian yang berbuah minat. Dari bodo amat menjadi aktif menulis dengan adanya sebuah dakwah literasi seperti pergerakan-pergerakan yang telah dipaparkan pada bagian isi. Data di atas tersebut menyajikan bahwa sebagai bangsa Indonesia, perlu meningkatkan daya saing literasi yang kuat sebab minat membaca dan menulis masih dalam titik terendah. Jika ini dibiarkan begitu saja maka akan berdampak buruk bagi roda kemajuan bangsa. Dari minat tersebut, maka seseorang akan mencari-cari dan melakukan dengan senang hati tentang apa yang diminati tersebut khususnya menulis. Di dukung dengan perkembangan globalisasi yang menyajikan kemudahan didalam dunia cyber yakni media sosial yang beragam. Dengan membuat akun literasi dan progam menulis online yang mampu mendobrak minat menulis. Inilah revolusi yang menjadikan apatis menulis menjadi aktif menulis di era globalisasi.

Semua usaha menggalang minat literasi tersebut harus di imbangi dengan menanamkan minat literasi pada lingkungan awal atau dari rumah. Budaya literasi dimulai dari lingkungan keluarga. Karena keluarga adalah taman pendidikan pertama bagi anak. Dalam Islam terdapat sebuah pribahasa yang artinya Ibu adalah sekolah pertama. Kebanyakan para cendekiawan mempunyai banyak penggemar atau menjadi tokoh publik yang bisa memengaruhi banyak orang. Hal ini merupakan ajang menggalang minat literasi yang dimulai dari lingkungan keluarga. Seperti program Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dalam acara IBF (Islamic Book Fair) yang mencanangkan budaya literasi dari keluarga, tentu ini adalah sebuah gerakan meningkatkan minat literasi yang fleksibel, adanya sosialisasi ke masyarakat bahwa harus membudayakan membaca mulai dari lingkungan paling kecil yakni lingkungan keluarga. Bila usaha tersebut mampu dilaksanakan oleh keluarga, niscaya akan terjadi perubahan yang signifikan.

Peringatan Hari Keluarga Nasional yang diperingati setiap tanggal 29 Juni merupakan ajang untuk meningkatkan minat literasi di lingkungan keluarga. Hal ini sesuai dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia no.39 Tahun 2014 tentang Hari Keluarga Nasional (Harganas). Pada tahun 2019, tema peringatan Harganas XXVI ini adalah “Hari Keluarga: Hari Kita Semua”, dengan tagline “Cinta Keluarga, Cinta Terencana”. Melalui tema dan tagline tersebut diharapkan dapat mendekatkan dan meningkatkan kembali interaksi antara anggota keluarga. Dimana, salah satunya terwujud dalam “Gerakan Kemballi ke Meja Makan” sebagai satu dari beberapa kegiatan yang digalakkan dalam momentum Harganas XXVI Tahun 2019.

Perlunya untuk menumbuhkan minat literasi. Karena dari minat tersebut, seseorang akan mencari-cari apa yang diminatinya. Terutama dalam minat membaca yang berbuah pada menulis. Dimulai dengan cara pembiasaan yang berkelanjutan. Satu hari orang tua mewajibkan kepada anaknya untuk membaca minimal 2 jam per hari dan orang tua 3 jam perhari. Dan menulis apapun satu lembar perhari. Saling mengingatkan untuk tidak lepas dalam membaca dan menulis. Jika ini terus dilakukan, maka pembiasaan ini akan menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Ini adalah revolusi literasi yang ampuh dimulai dari lingkungan terkecil yakni lingkungan keluarga. Kalau orang tua sudah menerapkan budaya literasi sejak di lingkungan keluarga, maka sang anak akan berkembang dengan budaya literasi yang bagus. Budaya literasi keluarga sangatlah penting untuk kemajuan bangsa. Karena di negara maju, pasti indeks literasi nya tinggi. Contohnya negara yang menempati indeks literasi pertama, Finlandia yang merupakan negara maju. Di sini terlihat bahwa budaya literasi masyarakat mempengaruhi majunya suatu negara.

*Santri Pesantren Tebuireng Jombang.

🤔  Apresiasi Islam dan Indonesia terhadap Perempuan