Tuntut Kepedulian Sosial Santri, Kiai Amari Tegaskan Pentingnya Ilmu Pemulasaraan Jenazah

9
Seluruh santri baru mengikuti sesi materi Pemulasaraan Jenazah yang disampaikan oleh KH. Mahfudz Ali Amari di Gedung KH. Yusuf Hasyim Lantai 3, Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Senin (06/07/2026). foto: fatih

Tebuireng.online- Rangkaian Masa Orientasi Santri Baru (MOSBA) Pesantren Tebuireng 2026 kembali diisi dengan pembekalan materi dasar keislaman yang berorientasi pada pengabdian masyarakat. Seluruh santri baru mengikuti sesi materi Pemulasaraan Jenazah yang disampaikan oleh KH. Mahfudz Ali Amari di Gedung KH. Yusuf Hasyim Lantai 3, Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Senin (06/07/2026).

Dalam pemaparannya, Kiai Amari menegaskan bahwa penguasaan tata cara mengurus jenazah merupakan kompetensi religius dan sosial yang wajib melekat pada diri setiap santri. Mengingat hukumnya yang masuk dalam kategori fardu kifayah, keahlian ini akan selalu dicari dan dibutuhkan secara riil oleh masyarakat luas di lingkungan domestik maupun publik.

“Saya tegaskan bahwa materi pemulasaraan jenazah ini sangatlah penting, bahkan bisa dikatakan sebagai kewajiban hidup yang tidak boleh ditinggalkan oleh setiap santri. Mengurus muhtadhor (orang yang sedang sakaratul maut) dan merawat jenazah adalah urusan yang pasti akan senantiasa ada di tengah masyarakat, karena kematian adalah hak setiap makhluk yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan dunia ini,” urai Kiai Amari, Senin.

Kiai Amari menjelaskan, pemahaman mengenai perawatan jenazah tidak boleh berhenti pada koridor teoretis di atas kertas, melainkan harus dikuasai secara presisi sesuai dengan ketentuan baku hukum fikih. Para santri baru dituntut memahami urutan penanganan, mulai dari mentalitas menghadapi orang sakaratul maut, metode memandikan, teknik mengafani, struktur shalat jenazah, hingga tata cara penguburan.

Guna mempermudah penyerapan materi, pola penyampaian dirancang secara interaktif dengan memadukan ceramah konseptual, demonstrasi praktik langsung menggunakan alat peraga, serta ruang tanya jawab. Model simulasi ini sengaja dipilih agar aspek motorik dan mentalitas santri terlatih, sehingga mereka tidak canggung saat harus terjun langsung membantu warga yang tertimpa musibah kematian.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Di samping pemenuhan aspek hukum keagamaan, prosesi belajar merawat jenazah ini didesain sebagai media refleksi batin. Melalui materi ini, santri diharapkan mampu mengasah rasa tanggung jawab, keikhlasan, empati sosial, serta kesadaran spiritual terdalam mengenai hakikat kematian bahwa setiap manusia akan kembali kepada Sang Pencipta.

Menutup sesi pembekalan, Kiai Amari berpesan agar spirit pelayan umat ini terus dipelihara dan dikembangkan oleh santri di daerah asal masing-masing. Alumni Tebuireng diwajibkan memiliki keberanian moral untuk memimpin dan memuliakan sesama muslim hingga akhir hayatnya, sebagai perwujudan profil santri yang berilmu, berakhlak, dan siap mengabdi penuh untuk kemaslahatan bangsa.

Baca Juga: Gagas Hidup Bersih, Kepala BST Tebuireng Gembleng Karakter 500 Santri Baru


Pewarta: Fatih

Editor: Sutan