
Tebuireng.online— Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz, menegaskan bahwa para pimpinan unit pendidikan di lingkungan Pesantren Tebuireng memikul amanah besar untuk menjaga sekaligus meningkatkan mutu pendidikan yang diwariskan oleh Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.
Baca Juga: Gus Hasyim: Pesantren Tebuireng Harus Menjadi Lembaga Pembentukan Karakter
Pesan tersebut disampaikan saat membuka secara resmi kegiatan Pembekalan Pimpinan Sekolah, Madrasah, Pondok, dan Ma’had Aly yang diselenggarakan Mudir II Bidang Pendidikan Pesantren Tebuireng di Villa Selorejo, Malang, pada 23–25 Juli 2026.
Di depan para kepala unit dan wakil kepala unit, Gus Kikin mengingatkan bahwa Pesantren Tebuireng memiliki karakter yang berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya karena didirikan oleh seorang ulama besar sekaligus tokoh nasional, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.
“Pesantren Tebuireng ini menjadi pembeda dengan pondok atau sekolah lainnya karena didirikan oleh seorang tokoh nasional yang sekaligus menjadi Bapak Pemersatu Umat Islam Indonesia,” ujar Gus Kikin.
Menurutnya, para pimpinan saat ini mewarisi sebuah lembaga pendidikan yang tidak hanya dibangun di atas fondasi keilmuan, tetapi juga pembentukan karakter.
“Kita mewarisi sebuah lembaga pendidikan yang didirikan oleh seorang tokoh besar. Yang diwariskan bukan hanya keilmuan, tetapi juga bagaimana membangun manusia dan membentuk karakter,” lanjutnya.
Karena itu, Gus Kikin berpesan agar seluruh peserta mengikuti pembekalan dengan niat mencari rida Allah. Baginya, kepemimpinan di lingkungan pesantren merupakan bagian dari ibadah dan pengabdian yang harus dijalankan dengan penuh keikhlasan.
Beliau juga mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai pendidikan yang diajarkan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, termasuk tradisi menghormati guru sebagaimana termaktub dalam berbagai karya beliau.
Baca Juga: Tebuireng Lantik Pimpinan Baru, Gus Kikin Ajak Perkuat Organisasi dan Pengembangan Ilmu
“Saya membayangkan bagaimana lembaga ini dikelola sebagaimana dahulu Hadratussyaikh mengelolanya, seperti yang tertuang dalam kitab-kitab beliau tentang menghormati guru dan nilai-nilai lainnya. Semua itu bernilai ibadah. Insyaallah, jika nilai-nilai itu kita hidupkan kembali, sinar Tebuireng akan kembali seperti dahulu,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Kikin juga menyinggung peran historis Pesantren Tebuireng sebagai pusat pergerakan ulama Nusantara. Ia mengutip buku Bapak Pemersatu Umat Islam Indonesia karya KH. Abdul Wahid Hasyim yang menggambarkan besarnya pengaruh Hadratussyaikh dalam menyatukan para ulama di berbagai daerah.
“Sekitar 20.000 ulama dan tokoh dipimpin oleh Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Ini menjadi bukti bahwa begitu banyak orang terhubung dengan Pesantren Tebuireng. Dari modal itulah, ketika Hadratussyaikh menyampaikan Resolusi Jihad, ulama dari Banten, Madura, Bali, hingga berbagai daerah lainnya bergerak bersama,” ungkapnya.
Menurut Gus Kikin, kekuatan tersebut lahir dari ketekunan Hadratussyaikh dalam membangun jaringan ulama yang berlandaskan kedalaman ilmu agama dan keteladanan akhlak. Nilai-nilai itulah yang harus terus dijaga dan diwariskan oleh para pimpinan unit agar Pesantren Tebuireng tetap menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan generasi berilmu, berkarakter, dan berkhidmat kepada umat.


















