
Kulirik arlojiku. Sudah pukul 13.10 WIB. Aku baru saja pulang dari mengajar di sekolah. Biasanya, di akhir pekan aku hanya bermalas-malasan sambil bersih-bersih rumah tipis-tipis, mengumpulkan baju-baju kotor untuk kucuci sore hari agar keesokan harinya aku bisa bersantai. Tapi tidak untuk hari ini. Esok, hari Minggu, aku akan menghadiri wisuda Ma’had Aly di Jombang, sekitar satu jam perjalanan dari sini, Kabupaten Kediri.
Rencananya, pukul setengah empat sore nanti kami, para tamatan, akan mengadakan gladi bersih wisuda. Kuperkirakan aku akan tiba sebelum waktu itu jika berangkat pukul setengah tiga. Saat ini aku masih sibuk melanjutkan kegiatanku merangkai bunga untuk dibuat buket. Bunga-bunganya sudah kususun sejak kemarin malam, lembur hingga pukul setengah dua dini hari, karena sempat terjeda mendengarkan sahabatku yang ingin bercerita lewat panggilan. Pukul lima aku sudah harus bangun untuk persiapan sekolah. Benar-benar waktu istirahat yang singkat.
Sebenarnya aku agak bingung merangkai bunga. Ini pertama kalinya. Aku memang tipe orang yang ingin melakukan segala sesuatu dengan tanganku sendiri. Aku menyukai keterampilan tangan, tetapi membuat buket adalah pengalaman pertamaku. Membuat bunganya cukup mudah, tetapi menyusunnya membutuhkan teknik. Bukan apa-apa, aku hanya ingin mengapresiasi perjuanganku selama ini. Alih-alih menunggu buket bunga dari seseorang yang mengistimewakanku, aku memilih membuatnya sendiri, dari diriku, untuk diriku.
Sudah pukul setengah empat sore ketika akhirnya aku selesai. Buketnya kutitipkan pada Ibu untuk dibawakan besok. Aku bersiap dan segera berangkat menuju Jombang. Entah mengapa hatiku terasa tidak nyaman, seolah akan terjadi sesuatu. Baru satu menit perjalanan, aku teringat tas selempang yang tertinggal. Aku pun kembali untuk mengambilnya. Lalu kulanjutkan perjalanan dengan rute berbeda. Jika biasanya aku lewat arah barat, kali ini aku memilih jalur timur. Meski begitu, rasa tak enak itu kembali muncul saat kupandangi rumahku yang semakin jauh dari pandangan.
Kutepis perasaan itu. Kucoba menenangkan diri dengan banyak membaca selawat. Ini pertama kalinya aku mengendarai motor ke Jombang sendirian lewat jalur ini. Kuperkirakan jalurnya kurang lebih sama seperti biasanya—lurus dan mengikuti jalan. Aku sudah cukup sering melewati jalur ini ketika bersama kakak. Katanya, lebih enak lewat sini.
Di perempatan lampu merah dekat gapura jam besar, aku langsung lurus seperti biasanya. Baru beberapa meter, aku menyadari tidak ada kendaraan lain yang menuju arah utara. Hanya aku. Ternyata ini jalan satu arah. Aku segera berputar balik dan belok ke kiri. Namun aku merasa ada motor yang mengikuti dari belakang. Benar saja, itu motor polisi, dan mereka menghentikanku. Baiklah, kuikuti saja, karena aku sadar telah melanggar aturan lalu lintas.
Kucoba membuat hatiku setenang mungkin. Seperti biasa, sebelum menghadap seseorang, kuketukkan kakiku tiga kali sambil membaca selawat tanpa jeda napas. Aku berusaha setenang mungkin menghadapi pertanyaan polisi. Sebelumnya, sudah kusiapkan KTP dan STNK. SIM? Tidak ada.
“Namanya Nida An-Khofiyya, ya?” tanya polisi yang bertugas di ruang pemeriksaan sambil membaca KTP-ku.
“Iya, Pak. Benar,” jawabku.
“Namanya sama seperti guru agamaku dulu,” sahutnya.
“Saya kebetulan juga guru agama,” ucapku yang kemudian agak kusesali.
Tiba-tiba polisi itu berbicara dengan bahasa yang lebih sopan, mungkin karena teringat guru agamanya dulu yang kebetulan namanya sama denganku.
“Bu Nida, semerap kesalahane nopo nggih?”
Aku hanya mengangguk lemah dari balik masker yang menutupi wajahku.
“Menerabas jalan satu arah dan tidak membawa SIM. Monggo, silakan dilihat daftar berikut.” Ia menyodorkan sebuah buku berisi aturan lalu lintas beserta jumlah dendanya. Di buku itu tertulis: melanggar lalu lintas Rp500.000, tidak memiliki SIM Rp1.000.000. Total dendaku satu juta lima ratus ribu rupiah.
Melihat daftar itu, seketika sikap sok-kuatku runtuh menjadi kepanikan. Aku tidak membawa uang sebesar itu. Harus kudapat dari mana? Ini pertama kalinya aku menghadapi masalah serumit ini.
“Silakan dirundingkan dulu dengan keluarga terdekat. Bisa dibayar sekarang atau nanti, bisa cash atau transfer. Kalau dibayarkan sekarang, saya bantu Rp500.000,” katanya.
Ah, apa-apaan ini? Kenapa harus ada potongan pula? Rasanya seperti sedang bertransaksi. Huf.
Aku keluar dari ruangan itu. Detik ini pikiranku kosong. Mataku mulai memanas menahan kalut. Untung saja aku memakai masker; setidaknya kecengenganku tidak terlihat oleh seorang ibu yang kebetulan berhenti di lampu merah. Ya, kantor polisi itu tepat berada di belokan lampu merah.
Kutarik napas perlahan. Meski belum tahu harus berbuat apa, aku mencoba menenangkan diri. Di ponselku ada file PDF Hizb Bahr. Kubaca saja, meski biasanya tak pernah. Hanya karena kebetulan ada. Lalu kukirim Al-Fatihah untuk pak polisi tadi, bukan dengan maksud apa-apa, hanya berusaha menenangkan diri.
Di sebelahku, ada sepasang sejoli yang tampaknya mengalami hal serupa denganku. Bedanya, aku menghadapi ini sendirian. Gestur tubuhku tampak tenang, padahal di dalam, hati dan pikiranku sudah kacau.
Kutelepon adikku. Tidak ada jawaban, mungkin karena waktu sudah menjelang petang. Aku hanya mengirim pesan suara untuk mengabarkan keadaanku. Lalu kutelepon kakakku. Sayangnya, saldo e-wallet-nya tidak cukup. Ia justru menyarankan agar aku meminta bantuan tetangga yang kebetulan agen BRILink. Karena benar-benar terdesak, kucoba menghubungi orang-orang yang mungkin bisa membantu. Sayangnya, tidak ada respons.
Tak lama kemudian, kakakku menelepon kembali. Setelah bertanya kepada beberapa orang yang pernah mengalami hal serupa, ia menyuruhku meminta surat tilang dan bersedia disidang. Dalam bayanganku, sidang itu seperti narapidana yang berdiri di hadapan pengacara dan hakim. Tapi, di sudut hatiku, aku percaya bahwa semua kekacauan ini pada akhirnya akan terlewati dengan baik.
Maka, setelah mengeringkan air mata dan menguatkan hati yang sedang panas, kulangkahkan kaki masuk kembali ke ruang polisi tadi. Dengan tegas kukatakan, “Saya putuskan untuk meminta surat tilang saja dan saya bersedia disidang.”
“Baiklah,” ujarnya datar. “Kamu bawa uang berapa?”
Aku merogoh tas selempangku. Tadi kukatakan bahwa aku hanya membawa uang sekitar seratus lima puluh ribu rupiah. Aku bahkan melupakan fakta bahwa di dalam jaketku ada uang lain yang asal kumasukkan untuk membeli bensin nanti. Aku menyerahkan uang seratus ribu, lalu kukatakan bahwa lima puluh ribu sisanya untuk membeli bensin. Aku juga bercerita bahwa aku sedang melakukan perjalanan ke pondok di Jombang untuk menghadiri sebuah acara. Waktu sudah menjelang magrib; mungkin polisi itu juga mulai lelah sehingga menanggapiku dengan agak malas, tidak seperti sebelumnya.
Dan ya, polisi itu menerima saja uang yang seadanya kubawa, hanya seratus ribu rupiah. STNK yang tadi dibawa pun diserahkan kembali. Aku sempat sangsi, tetapi kuterima saja. Setidaknya, artinya aku aman.
Keluar dari kantor polisi, aku dibantu menyeberang oleh seorang polisi yang berjaga. Tidak ada rasa marah sedikit pun di hatiku; justru ada rasa melankolis. Rasanya ingin berkata panjang kepada polisi itu karena telah memberiku pengalaman berharga dalam hidup. Namun yang keluar dariku hanya, “Terima kasih, Pak, telah memberi pelajaran berharga dalam hidup.” Yang kuterima hanyalah tanggapan seadanya, bahkan cenderung tak menyenangkan. Tidak apa-apa, yang penting aku sudah keluar dari zona bahaya.
****
Aku melanjutkan perjalanan, kali ini dengan Google Maps agar tak tersesat lagi. Sepanjang jalan, pikiranku tak berhenti memutar kejadian tadi sedih, terharu, campur aduk. Di sebuah perempatan, saat lampu merah menyala, seorang bocah perempuan mengintip dari balik mobil dengan wajah polos. Ia menatapku dan tersenyum manis. Kubalas senyumnya lewat mata dan anggukan kecil. Ibunya yang duduk di samping sopir ikut menoleh, mungkin penasaran siapa yang diteguri putrinya. Anehnya, aku merasa sedikit terhibur. Ada keharuan lembut yang menyelimuti hati. Aku terpikir bahwa setiap kesedihan yang Allah turunkan selalu Dia sertai pula dengan penghibur. Luar biasa sekali takdir Allah, bukan?
Sampai di wilayah Jombang, aspal terlihat menghitam basah. Pertanda hujan deras baru saja reda. Semakin dekat ke pondok, jalanan tampak gelap karena listrik padam. Saat memasuki area pesantren, listrik akhirnya menyala—tentu saja menggunakan genset. Aku langsung memarkir motor, lalu mengambil sebungkus nasi goreng yang kubeli di perjalanan. Rasanya tenagaku terkuras habis setelah menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan itu. Perjalanan yang seharusnya hanya satu jam berubah menjadi dua jam setengah.
Dan benar saja, latihan wisuda sudah selesai. Bahkan beberapa temanku sudah pulang ke rumah masing-masing. Hanya ada dua orang kawan—kebetulan sama-sama dari luar Jombang. Mereka tentu kaget melihatku baru tiba, padahal pukul empat sore sebelumnya aku sudah mengabarkan sedang dalam perjalanan. Kuceritakanlah apa yang baru kualami. Tetapi hal yang paling membuatku menerima semuanya adalah ketika mereka memberitahuku bahwa sore tadi telah turun hujan lebat disertai angin kencang.
Seketika aku bersyukur. Mungkin itu cara Allah melindungiku dari bencana tersebut. Tak bisa kubayangkan jika aku tidak “tertahan” di kantor polisi. Mungkin aku harus berhadapan dengan hujan deras, tidak tahu harus berteduh di mana, di jalanan gelap akibat listrik padam, di tempat asing, sendirian.
Agak malam, aku bertemu kembali dengan anak-anak didikku dulu yang kini telah belajar Alfiyyah Ibnu Malik. Begitu aku datang, mereka menyambut dengan kejutan berupa sebuket bunga indah. Mereka berebut memeluk tubuhku yang mungil sambil menggumamkan kata rindu—padahal tubuh mereka jauh lebih besar—dan tentu saja satu melawan sepuluh orang.
Ternyata takdir Tuhan memang begitu indah, ya? Dari setiap perjalanan panjang yang kutempuh sendirian di jalanan, entah mengapa Allah selalu membukakan pintu hikmah. Pelajaran demi pelajaran dari kisah-kisah yang kulalui selalu Allah singkapkan tabirnya melalui pikiranku yang tak pernah diam. Dan kali ini aku mengerti bahwa terkadang Allah menahanmu di tempat dan dalam keadaan yang tidak menyenangkan untuk melindungimu dari sesuatu yang jauh lebih buruk. Lalu, pada akhirnya, Allah menghadiahkan sesuatu yang bahkan tidak pernah kau bayangkan. Takdir Allah memang selalu yang terbaik.
“Wa ‘asâ an takrahû syai’an wa huwa khairul lakum, wa ‘asâ an tuḥibbû syai’an wa huwa syarrul lakum. Wallāhu ya‘lamu wa antum lā ta‘lamūn.”
Kediri, 20 September 2025
Penulis: Kuunii Mas’adah.
Editor: Rara Zarary


















