
Dunia Industri dan Fashion terus berkembang dan menciptakan Fast Fashion. Semua berbondong-bondong membeli trend baju terbaru, dengan tujuan tidak mau dianggap tertinggal. Pakaian di mall maupun di toko baju terus berganti seiring perubahan trend. Dari yang kaya sampai yang miskin membeli baju tanpa memikirkan jangka panjang, apakah baju tersebut bisa dipakai dalam jangka panjang? atau hanya mengikuti trend sementara. Trift atau baju bekas kiriman dari luar negeri muncul seperti angin segar, karena masih bagus dengan kualitas bagus namun harga miring. Lantas apakah trifting menjadi solusi atau menampah polusi limbah kain?
Trend Fast Fashion
Manusia dengan segala keinginaanya untuk mencapai eksistensinya selalu ingin terlihat paling menonjol dan terbaik. Fashion muncul menawarkan pakaian yang trendi, menarik dan memukau tanpa harus berbuat lebih. Ini dianggap cara paling mudah agar tidak tergerus eksisensi manusia lainnya. Dengan dorongan eksistensial manusia untuk diakui, diterima, dan menegaskan dirinya di tengah masyarakat konsumtif membuat industri pakaian berlomba-lomba membuat pakaian paling mewah, bagus dan mudah diterima masyarakat.
Baca Juga: Pengusaha Sayur Sukses Manfaatkan Koneksi Bisnis
Trifting merupakan kegiatan membeli barang bekas yang dijual lebih murah dari harga pasaran. Kegiatan ini muncul akibat tren mode fast fashion. Setiap minggu pabrik pakaian memproduksi pakaian yang sangat banyak dan tidak semuanya terjual habis. Produksi berlebihan ini akan dibuang, dibakar atau dijual kembali dengan harga miring. Negara maju yang terus memproduksi pakaian dan membuang limbah pakaian tidak terpakai ke negara berkembang awalnya seperti menyumbangkan pakaian. Faktanya tidak lebih hanya sebagai tempat pembuangan sampah.
Negara maju memiliki sistem pemilahan sampah, dan orang-orang akan membersihkan lemarinya dari pakaian yang sudah tidak terpakai ke pembuangan sampah baju atau kain. mereka senang hati membayangkan pakaiannya akan didonasikan dan membantu banyak orang diluar sana. Orang-orang di negara maju akan mengganti pakaiannya dengan pakaian baru lagi, menjadi lingkaran setan yang mnyesatkan. Negara berkembang atau bahkan tertinggal senang hati menerima pakaian bekas yang masih bagus, minim cacat bahkan tampak seperti baru. Namun, berjalannya waktu, dari sekian ton yang dikirim tidak semuanya layak pakai. Sehingga menjadi tumpukan kain dan menjadi sampah tekstil.
Dengan maraknya trifting ini akan mengancam banyak hal. Banyaknya pakaian atau barang tak layak pakai menumpuk akan menjadi gunungan sampah. Indonesia hanya menjadi sampah buangan negara luar. Pakaian bekas juga menimbulkan penyakit, karena tidak tahu pasti bekas dipakai siapa dan memiliki riwayat penyakit apa, dengan begitu penyebaran kuman dan penyakit akan mudah menghampiri. Selain itu trifting dapat mematikan pasar lokal, seperti yang terjadi pada pabrik sritex. Anak muda terutama Gen-Z lebih senang belanja barang trift daripada membeli yang baru. Karena menganggap sebagai penghematan dan mode slow living. Selain itu, barang trift seringkali masih bagus, layak pakai, unik dan bermerek mahal namun bisa dibeli dengan murah dan mudah.
Masalah trifting ini terus berlanjut dan menjadi dilema anak muda yang ingin tetap tampil trendi tanpa mengeluarkan biaya banyak. Dampaknya, negara akan terancam bangkut, rusaknya lingkungan akibat trifting dan penyakit akan timbul akibat pakaian yang tidak jelas kebersihannya.
Islam Merespon
Agama islam mendorong umat muslim untuk hidup sederhana tidak berlebih-lebihan apalagi foya-foya. Menahan nafsu sangat diperhatikan agar tidak terjerumus dengan kesenangan duniawi yang fana. Manusia dianugerahi akal pikiran dan nafsu secara bersamaan. Namun, seringkali nafsu diunggulkan daripada akal. Sehingga manusia disetir menuju hal-hal yang sia-sia. Sudah jelas disebutkan dalam ayat alquran mengenai larangan berlebihan dan keutamaan menjaga nafsu.
Baca Juga: Sukses Menjadi Pengusaha dan Hilangkan Kata Malas
“Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (Qs Al Ma’dah :77)
Semestinya ini menjadi pengingat bagi kaum muslim untuk menjaga nafsu dan tidak berlebihan. Barang yang dimiliki cukup yang dibutuhkan saja. Dengan membeli barang diskon padahal tidak dibutuhkan, atau trifting padahal sudah memiliki barang yag layak pakai dan tidak membutuhkan barang baru lagi kita sudah diperbudak oleh nafsu. Menjauh dari hal-hal yang tidak dibutuhkan sama halnya menerapkan hidup sederhana.
Penulis: Aulia
Editor: Rara Zarary


















