Oleh: Nur Indah*

“Menulis diibaratkan membangun rumah. Ada rumah bambu, dibuat sehari selesai. Ada rumah dari batu bata dan genteng, mungkin perlu waktu sebulan. Ada juga rumah bertingkat dari beton, butuh waktu setahun.”[1]. Merupakan sebuah kata motivasi yang menggiring pembacanya untuk jangan bosan menulis atau literasi, setiap hal memiliki tolok ukur kemampuannya masing-masing begitu juga dalam menulis,  setiap orang memiliki proses yang berbeda.

Berbicara tentang dunia jurnalistik, seperti yang kita tahu sangat jarang terlahirnya tokoh literasi dari pesantren, ketika kita membaca kembali sebuah sejarah, selain Hadrastussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang gemar menulis, maka akan kita temukan di sana tokoh jurnalistik sarungan dari Pesantren Tebuireng, di antaranya adalah:

  • KH. Abdul Wahid Hasyim, merupakan sosok penulis di abad ke-19
  • KH. Moh Ilyas
  • KH. Saefuddin Zuhri
  • KH. M. Ishomudin Hadziq
  • KH. M. Yusuf Hasyim
  • KH. Abdurrahman Wahid
  • KH. Salahuddin Wahid

KH. A. Wahid Hasyim, beliau merupakan edukator para santri, beliau banyak mengedukasi bagaimana pentingnya literasi pada zaman itu. Beliau juga merupakan pendiri perpustakaan Abdul Wahid Hasyim, yang mana notabenenya perpustakaan tersebut merupakan perpustakaan terlengkap di Jawa Timur. Menurut catatan sejarah, KH. Abdul Wahid Hasyim tidak mengikuti kegiatan belajar di sekolah formal pada umumnya, akan tetapi hal yang unik adalah beliau merupakan bapak penggagas sekaligus penjunjung tinggi pendidikan di Indonesia, beliau berhasil memadukan antara pelajaran agama dengan umum,dalam artian beliaulah yang berhasil memasukkan pelajaran agama yang mulanya tidak ada di sekolah pada umumnya.

Kaderisasi ini berlanjut kepada KH. Moh. Ilyas, beliau merupakan dubes Arab Saudi sekaligus tokoh jurnalis dari Tebuireng. Di antara ketekunannya dalam bidang akademik, beliau membuat terobosan terbaru untuk menciptakan agent of change. Di antara langkah yang ditempuhnya adalah memasukkan kurikulum umum seperti membaca dan menulis huruf latin, ilmu aljabar, ilmu bumi, dan bahasa.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tokoh selanjutnya adalah KH. Saefuddin Zuhri, beliau merupakan mantan Menteri Agama Indonesia, beliau juga merupakan staff pribadi KH.Abdul Wahid Hasyim. Beliau senantiasa berkontribusi di majalah NU dan koresponden syarat kabar pemandangan untuk wilayah Solo. KH. Saefuddin Zuhri merupakan mertua dari KH Salahuddin Wahid.

Tidak ketinggalan KH. Ishomuddin Hadziq beliau merupakan cucu Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari, beliau merupakan pakar dalam bidang kitab-kitab salaf, hal tersebut mengantarkan beliau menjadi pengedit kitab karangan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang berjudul “Irsyadu sari”. Dan Gus Ishom juga mengarang beberapa kitab berbahasa Arab.

Kemudian ada KH. Yusuf Hasyim, beliau penulis aktif di Radar Jawa pos sekaligus pelopor majalah Tebuireng, dalam catatan sejarah, majalah Tebuireng adalah majalah tertua kategori majalah pondok pesantren. Selanjutnya ada kakak adik yang turut serta terjun dalam bidang kepenulisan,yakni KH. Abdurrahman Wahid dan KH. Salahuddin Wahid. Kakak dan adik ini aktif dalam menulis artikel-artikel keagamaan ,dan juga keduanya memiliki gemar yang sama yakni gemar membaca.

Dalam menjaga eksistensi dunia literasi, KH. Abdurrahman Wahid menggunakan strategi sebagai berikut:

    1. Memfasilitasi buku
    2. Menggerakkan lingkungan sekitar dengan menumbuhkan jiwa-jiwa penulis
    3. Mengasah skill menulis

Dengan menulis, pemikiran dan gagasan kita tidak akan lenyap begitu saja. Maka teladan dari tokoh-tokoh di atas paling tidak menggambarkan bahwa menulis itu penting, tanpa tulisan kita tidak akan dikenal. Semoga kita bisa melanjutkan semangat ini dan menjadi penulis-penulis berbakat dari kalangan santri dan pesantren.


[1] (Andreas Harsono, Agama Saya Jurnalisme, Yogyakarta, Kanisius, 2010, hal, 87.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaKH. Hasan Genggong, Sosok Rembulan yang Sesungguhnya
BerikutnyaUpaya Mengatasi Problematika Pembina Santri