Tidur Saat Puasa, Ibadah atau Kemalasan?

32

Pada bulan suci Ramadan, setiap umat muslim berkewajiban menunaikan ibadah puasa. Dalam pelaksanaannya, kita juga dianjurkan untuk mengintensifkan berbagai aktivitas ibadah lainnya, seperti mendaras Al-Qur’an, berzikir, melantunkan selawat, serta termasuk memanfaatkan waktu untuk beristirahat atau tidur.

Namun, terdapat satu narasi keagamaan yang perlu kita telaah secara kritis, yakni ungkapan bahwa “tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah.” Persoalannya, apakah premis tersebut dapat dijadikan legitimasi untuk menghabiskan waktu dengan tidur sepanjang hari? Mari kita tinjau kembali ungkapan ini melalui perspektif logis yang mengedepankan prinsip keadilan.

Secara logika, ungkapan ini memiliki nilai kebenaran apabila dikomparasikan dengan perbuatan maksiat atau aktivitas tercela. Apabila seseorang tidak mampu menjaga lisannya dari perilaku bergunjing (ghibah) atau menyebarkan keburukan saat berpuasa, maka tidur menjadi pilihan yang lebih maslahat.

Dalam konteks ini, tidur berfungsi sebagai mekanisme preventif yang menghalangi seseorang melakukan dosa. Maka, pada titik inilah tidur dapat bernilai ibadah karena menjaga martabat puasa dari noda kemaksiatan.

Puasa sebagai Instrumen Peningkatan Kualitas Diri

Akan tetapi, pemaknaan tidur sebagai ibadah menjadi kurang relevan apabila dikomparasikan dengan aktivitas positif yang bernilai amal saleh, seperti membaca al-Quran, menuntut ilmu, bersedekah, atau berzikir.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sebab, puasa sejatinya merupakan instrumen ibadah yang bertujuan membentuk kedisiplinan serta meningkatkan kualitas diri (upgrade value), bukan melatih seseorang menjadi pribadi yang pasif atau malas. Puasa juga mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih peka dan gemar introspeksi diri.

Lantas, jika seluruh waktu kita selama berpuasa di sepanjang hari hanya dihabiskan untuk tidur, tentu saja hal tersebut tidak akan mendatangkan dampak-dampak positif sebagaimana tersebut di atas kepada diri kita. Di samping itu, tindakan tidur sepanjang hari selama berpuasa ini juga tidak sejalan dan relevan dengan tujuan disyariatkannya puasa itu sendiri.

Esensi Takwa dan Kesungguhan Ibadah

Tujuan utama disyariatkannya puasa adalah agar kita menjadi pribadi yang bertakwa. Hal ini sebagaimana Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, yang berbunyi:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Yā ayyuhal-lażīna āmanū kutiba ‘alaikumus-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alal-lażīna min qablikum la’allakum tattaqūn(a).

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Dalam definisi sederhana, takwa secara substansial dapat kita artikan sebagai kesungguhan diri dalam melaksanakan apa yang menjadi perintah Allah SWT dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya.

Pencapaian derajat taqwa yang sedemikian rupa ini tentu saja membutuhkan ikhtiar yang kuat dan determinasi yang tinggi. Sebab, kalau kita renungi bersama, kualitas ketaqwaan yang luhur memang sulit dicapai ketika seseorang hanya mengedepankan kemalasan dan mengabaikan produktivitas selama berpuasa. Bukankah demikian faktanya? Betul, kan?

Etika Beristirahat dan Keadilan bagi Tubuh

Sampai di sini, kita juga perlu memahami bahwa Islam tentu tidak pernah melarang seseorang untuk beristirahat. Islam bukan agama yang ekstrem, apalagi kejam dan memberatkan umatnya. Tidur pada siang hari saat berpuasa merupakan hal yang diperbolehkan karena dapat membantu memulihkan energi serta menyegarkan fungsi kognitif otak kita. Namun, hal tersebut harus dilakukan secara proporsional dan tidak berlebihan.

Di sinilah prinsip keadilan diterapkan—adil terhadap waktu dan adil terhadap hak tubuh. Tidur yang bermartabat adalah istirahat yang bertujuan agar saat terbangun, kita memiliki kekuatan baru untuk melanjutkan pengabdian dan ibadah kepada-Nya, bukan tidur yang menjadi manifestasi dari kemalasan.

Penutup

Berdasarkan ulasan di atas, telah sampailah kita pada satu kesimpulan bahwa amat disayangkan apabila momentum Ramadan yang penuh keberkahan ini terlewati begitu saja hanya karena kita terbuai dalam lelap sepanjang hari. Oleh karena itu, mari kita laksanakan puasa sesuai dengan tujuan disyariatkannya, yakni sebagai sarana pelatihan disiplin dan peningkatan nilai kemanusiaan yang muaranya adalah kita tergolong sebagai orang-orang yang bertaqwa.

Dengan demikian, pada momentum Syawal kelak dan juga bulan-bulan setelahnya, kita telah bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik karena telah berhasil melampaui proses “pelatihan” spiritual selama satu bulan penuh di Bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Aamiin. Wallahu a’lam.

Baca Juga: Jangan Menghabiskan Waktu dengan Tidur Berlebihan


Penulis: Dhonni Dwi Prasetyo

Editor: Sutan