Mengenang Perjalanan Hidup Gus Iim

235
Foto Gus Abdul Halim Mahfudz (Gus Iim) dalam kenangan (sumber foto: istimewa)

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kabar duka datang dari keluarga besar pesantren di Jombang. Pada Rabu, 8 April 2026, KH Abdul Halim Mahfudz (yang akrab disapa Gus Iim) berpulang ke rahmatullah. Beliau wafat setelah sebelumnya menjalani perawatan di RSUD dr. Soedono Madiun.

Jenazah diberangkatkan dari Madiun pada pukul 13.34 WIB dan tiba di Jombang sekitar pukul 15.33 WIB. Suasana duka menyelimuti keluarga, santri, dan para kerabat yang telah menunggu kedatangannya. Menjelang petang, tepat pukul 17.00 WIB, jenazah dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di Seblak, sebuah tempat yang menyimpan jejak panjang sejarah keluarga ulama besar di Jombang.

Kepergian Gus Iim meninggalkan kesedihan mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi banyak orang yang mengenalnya sebagai sosok yang sederhana, intelektual, dan memiliki perhatian besar pada dunia pendidikan, pesantren, serta komunikasi modern.

Gus Iim lahir di Jombang pada 17 Juli 1954. Ia merupakan putra dari KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj. Abidah Ma’sum. Dari garis keluarganya, Gus Iim terhubung dengan mata rantai ulama besar Nusantara. Ibunya, Nyai Abidah, adalah putri dari Nyai Choiriyah, yang merupakan putri dari KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus tokoh besar dalam sejarah keislaman di Indonesia. Dengan demikian, Gus Iim merupakan salah satu cicit dari KH Hasyim Asy’ari.

Baca Juga:  Mahbub Djunaidi Intelektual NU yang Merawat Moderasi Islam melalui Jurnalistik

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ayahnya, KH Mahfudz Anwar, dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Sunan Ampel di Jombang. Selain itu, beliau juga pernah menjadi pengasuh di pesantren yang didirikan oleh mertuanya, KH Ma’sum Ali, di Seblak. Lingkungan keluarga yang sarat dengan tradisi keilmuan dan pesantren inilah yang membentuk perjalanan intelektual Gus Iim sejak usia muda.

Masa kecil Gus Iim dihabiskan dalam suasana pendidikan yang kuat dengan tradisi keagamaan. Ia memulai pendidikan formal di Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama Parimono, Jombang, dan lulus pada tahun 1966. Setelah itu, ia melanjutkan ke Pendidikan Guru Agama (PGA) selama empat tahun. Pendidikan tersebut kemudian dilanjutkan ke Sekolah Persiapan (SP) IAIN Jombang pada tahun 1971.

Dalam salah satu kisah masa mudanya, ayahnya pernah meminta Gus Iim untuk belajar kepada sahabatnya, KH Ma’sum, di Lasem selama bulan Ramadan. Perjalanan menuntut ilmu ini bukan sekadar pengalaman akademik, melainkan juga bagian dari tradisi rihlah ilmiah yang lazim dilakukan oleh santri dan putra-putra kiai.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Gus Iim melanjutkan studi ke Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya. Di kampus tersebut, minatnya pada bahasa dan ilmu kemanusiaan semakin berkembang. Ia bahkan mulai mengajar Bahasa Inggris di lembaga bahasa yang ada di lingkungan kampus. Selain itu, ia juga pernah mengabdikan diri sebagai guru di MAN Surabaya dan MAN Sidoarjo.

Kehausannya terhadap ilmu pengetahuan tidak berhenti di sana. Gus Iim juga tercatat pernah belajar di Cornell University, Ithaca, New York, Amerika Serikat, untuk mempelajari sejarah Asia Tenggara. Pengalaman akademik di luar negeri ini memperkaya wawasan intelektualnya, terutama dalam melihat dinamika sejarah, budaya, dan masyarakat di kawasan Asia Tenggara.

Baca Juga: Biografi KH. Asy’ari (Keras) dan Sejarah Berdirinya Pondok Keras

Perjalanan karier Gus Iim kemudian bergerak melampaui dunia pendidikan formal. Ia sempat bekerja di Harian Surya di Surabaya, sebuah pengalaman yang membawanya masuk ke dunia media dan komunikasi. Dari sana, langkahnya berlanjut ke Jakarta, di mana ia bekerja di berbagai lembaga internasional, di antaranya Coca-Cola Indonesia dan Standard Chartered Bank.

Pengalaman bekerja di berbagai institusi besar membuat Gus Iim memiliki pemahaman luas tentang dunia komunikasi, strategi, dan manajemen modern. Pada tahun 2008, ia mendirikan Halma Strategic, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang komunikasi dan strategi bisnis. Perusahaan ini menjadi salah satu wadah bagi Gus Iim untuk mengembangkan gagasan-gagasan strategis dalam bidang komunikasi korporasi dan konsultasi bisnis.

Meski memiliki pengalaman panjang di dunia profesional, akar kehidupannya tetap terhubung dengan tradisi pesantren. Pada tahun 2017, Gus Iim menerima amanat untuk mengelola Yayasan Pendidikan dan Pesantren ROHMAH serta mengasuh Pesantren Seblak. Tempat ini bukan sekadar lembaga pendidikan bagi dirinya, melainkan juga ruang sejarah keluarga, karena di situlah kakek buyutnya dahulu mengabdi dan menanamkan tradisi keilmuan.

Dalam perjalanan hidupnya, Gus Iim dikenal sebagai sosok yang menjembatani dua dunia: dunia pesantren yang sarat tradisi keilmuan klasik, dan dunia modern yang bergerak cepat dengan dinamika komunikasi global. Ia menunjukkan bahwa nilai-nilai pesantren dapat tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.

Baca Juga: Mentadabburi Pesan KH. Hasyim Asy’ari kepada Para Guru

Kini, Gus Iim telah berpulang. Namun, jejak langkahnya, dalam dunia pendidikan, pesantren, komunikasi, dan pemikiran, akan tetap dikenang oleh keluarga, sahabat, dan para santri yang pernah merasakan sentuhan pemikirannya.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Al-Fatihah.



Penulis: Nurdiansyah Fikri Alfani
Editor: Rara Zarary