Usai materi, Bu Aisyah Muhammad foto bersama peserta
Usai materi, Bu Aisyah Muhammad foto bersama peserta

tebuireng.online— Diklat Kader Pesantren Tebuireng angkatan kedua telah memasuki hari ke-13. Berbagai materi mulai dari militer, kedisiplinan, keremajaan, hingga kepemimpinan, telah diberikan. Tak terkecuali meteri kewalisantrian yang disampaikan oleh Mudir bidang Pondok Putri Ibu Nyai Hj. Aisyah Muhammad, pagi tadi (19/09/2016) di aula Gedung Lembaga Diklat Kader Pesantren Tebuireng Jombok Ngoro Jombang.

Ketua PC Muslimat NU Jombang tersebut lebih memaparkan tentang peran pembina santri dalam membentuk pribadi santri. Putri menantu Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Muhammad Baidhowi itu mula-mula menerangkan tentang tiga faktor pembentukan karakter anak, yaitu keluarga, sekolah, dan lingkungan. Faktor keluarga, menurut beliau, adalah yang paling dasar karena merupakan pembentuk karakter awal, baik melalui gen, pola asuh, hingga keteladanan.

Setelah itu Bu Nyai yang juga bertugas di Yayasan KH. Hasyim Asy’ari sebagai Sekreteris ini, menjelaskan tenang tugas pokok pembina santri, diantaranya adalah membuat dan melaksanakan program kerja. Pembina dituntut membuat program kerja melibatkan santri dan mengontrol pelaksanaanya. Pembina, lanjut beliau juga harus menanalisis kepribadian dan minat bakat, menjaga aset kamar, mengurus kesehatan dan kebersihan, dan mengontrol kedisiplinan santri.

Namun, menanggapi pelanggaran yang dilakukan santri, Bu Iis, panggilan akrab beliau, meminta agar pembina bersikap tegas, tetapi tidak sampai melakukan kekerasan. Dengan tugas yang berat tersebut, Bu Iis meminta agar mereka mengurangi ego masing-masing, menyelesaikan masalah pribadi sebelum bertugas, dan pintar-pintar membagi waktu. “Kalau ego anak-anak (red: peserta) tidak dikurangi, kemudian bertugas dan meluber, pasti mengalami stres,” pesan beliau mewanti-wanti.

Bu Iis memberikan hadiah kepada tiga peserta teraktif selama materi beliau
Bu Iis memberikan hadiah kepada tiga peserta teraktif selama materi beliau

Sebelum menutup materi Bu Iis mengajak peserta melakukan praktek membuat jadwal piket kelas, struktur organisasi, sistem perizinan santri, jadwal absensi shalat dan mengaji. Bu Iis berharap banyak ide segar yang akan ditelurkan oleh para alumni peserta diklat nantinya ketika sudah bertugas. Bu Iis juga memberikan hadiah kepada tiga peserta yang paling aktif dan interaktif ketika materi berlangsung, yaitu Imamul Mujahidin, Hubaidi, dan Talafusul Falasif. (Abror)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
SebelumnyaIbu Nyai Lelly: Pembina Santri Harus Kenali Diri Sendiri Dulu
BerikutnyaNegara Pancasilais