Bu Nyai Hj. Lelly Lailiyah Abdul Hakim foto bersama para peserta usai materi dengan simbol dua jari yang artinya angkatan kedua
Bu Nyai Hj. Lelly Lailiyah Abdul Hakim foto bersama para peserta usai materi dengan simbol dua jari yang artinya angkatan kedua

tebuireng.online— Sebelum menjadi pemimpin, seseorang harus mengenal diri sendiri. Itulah yang disampaikan oleh Bu Nyai Hj. Lelly Lailiyah, MM., istri Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, kepada para peserta Diklat Kader Tebuireng, Ahad (18/09/2016) di aula gedung diklat Jombok Ngoro Jombang.

Bu Nyai yang biasa disebut Bu Lelly ini, mengatakan bahwa sebelum memberikan keteladanan kepada santri, seorang pembina santri harus meteladankan dirinya sendiri terebih dahalu. Hal itu bertujuan agar, keteladanan yang diberikan selaras dengan keikhlasan hati dan kemantapan niat.

Selain itu, Bu Lelly juga mengutip beberapa ungkapan bijak para tokoh dunia, di antaranya adalah kata-kata bijak Filsuf Socrates, “Mengenal diri sendiri adalah awal dari kebijaksanaan,” dan kata-kata bijak Adous Huxley, “Hanya ada satu sudut di alam semesta ini yang bisa diyakin akan membaik adalah dirimu sendiri”. Dari dua pernyataan bijak di atas, lanjut Ibu dua anak tersebut, bisa diambil pelajaran bahwa mengenal diri sendiri adalah bagian penting dalam pengambilan proses menuju kebijaksanaan dan kesuksesan.

Ibu yang juga guru pelajaran Kimia ini, juga menjelaskan tentang teori 4 tempramen dasar, milik Florence Littauer, yaitu sanguinis (ramah dan optimis), melankolis (introvert dan pesimis), plegmatis (pasif dan damai), dan korelis (agresif dan aktif). Keempatnya memiliki ciri-ciri dan cara perlakuan yang berbeda. Untuk itu, beliau berpesan agar para kader Tebuireng dapat mengenali diri sendiri dulu kemudian mulai mengenal para santri di posisi manakah di antara empat itu, sebelum menentukan langkah.

Sebelum mengakhiri materi, Bu Lelly mengajak para peserta menentukan jenis tempramen dasar masing-masing dengan tabel ciri-ciri sifat dan perilaku. Untuk menggiring peserta memahami materi, Bu Leli juga memberikan cerita-cerita teladan tokoh-tokoh Tebuireng, seperti Gus Dur, Gus Sholah, Nyai Solichah, KH. Mahfudz Anwar, dan lain sebagainya. Usai materi Bu Leli dan peserta foto bersama untuk menambah keakraban dan ikatan ke-Tebuireng-an. (Abror)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
SebelumnyaMencari Soekarno Muda di Zaman “Wani Piro” (Bagian I)
BerikutnyaTerkait Peran Pembina Santri, Ibu Aisyah Muhammad: Kurangi Ego Pribadi!