Tentang Menunggu, Sajak-Sajak Rara Zarary

sumber gambar : www.online-instagram.com

Tentang Menunggu

Di manakah waktu

Selain menunggu sebagai isyarat setia di wajahmu

Mungkinkah engkau yang menangis di pojok waktu senja tadi

Hujan debur sepi menghujam luka-luka basah semakin nyeri

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Bukan hanya riuh gemuruh angin memadamkan tubuhmu gigil dalam penantian

Suara-suara malam yang berbeda telah membicarakan hal yang sama tentang serdadu rindu memenjarakan asa dalam perjumpaan

Di manakah ruang untuk ku simpan pengharapan panjang

Menunggu sambil susuri jalan meringkas waktu hingga hujan bersahutan

Lalu kita sama basah dengan kenangan

Siapakah dia sanggup kuyub dengan pengkhianatan

Bila seseorang tak lagi datang menjumpai kerinduan

Di manakah waktu

Seperti menunggu hanya sebagai alasan kesetiaan

Dari para perindu

 Jombang, 2016


Aku Lupa, Ayah Pernah Ada

Aku lupa menulis riwayat tentang ayah

Waktu telah membinasakan sebuah kerinduan yang karat di dada

Tangis, doa, dan kenangan hanyalah soal hidup yang berhenti

Atau memulai dengan sesuatu yang lebih tidak pasti

Aku lupa

Rumah – rumah telah diisi manusia baru

Kau hilang di antara genangan canda yang membara

Melilit tangis ibu pada anak-anak yang berlumur dosa

Aku lupa

Ayah pernah ada dan pulang membawa ribuan asa

Tentang sebuah kemenangan dan ketenangan yang akan ku bawa pulang

Dan memahami takdir Tuhan soal kematian

Aku telah lama lupa, tentang Ayah dan jutaan doa yang pernah diminta bersama

Malang 2016


Sisa Purnama Semalam

Adalah hujan yang turun pelan-pelan

Di pundakmu

Pada pundakku

Cerita merayu manja soal rindu

 Malang, 2016


Gelombang Persaksian

Doa terlantar di lorong-lorong pendusta

Tuhan di pasung janji berpesta

Didih darahtak bersuara

Siapa yang singgah lalu pulang di kemakamkan?

Ditusuknya rumah keadilan

🤔  Posisimu dalam Doa

Neon-neon bergelantungan

Roh-roh gentayangan

Siapa yang mati tanpa sebuah persaksian?

Kebiadaban telah suka-rela

Melepas kesucian hidup bertahta

Rupa-rupanya mereka telah bersuara

Siapakah yang bisa mendengar lalu menolong ia dari neraka?

Tuhan,

Manusia telah berlomba menandingi kuasaMu

Menjerit aku seperti babu

Diam terkutuk – mati terpuruk

Aku bertanya

Tanpa ada menjawabnya

Berkali-kali

Dalam hidup penuh jani-janji

Malang, 2016


MANTRA PENGANTIN NESTAPA

Sudah hilang bau melati malam Jumat kliwon

Hinggap kelelawar di atas genteng gubuk tua

Harmonisasi cinta dimulai dengan doa-doa

Menjadi sejarah, diikat sepuluh dua puluh cinta

Lenyap bau tubuhmu dalam sesegukan napas

Rekap dekap takutku pada malam seribu malam

Cinta tumpah pada sesajen sumpah serapah

Kau menjanjikan surga, aku merelakan raga

Aku ingin terlelap malam ini saja

Singkirkan doa, lupakan cinta berkalung mantra

Rumah kita masih basah dari doa-doa dan rayuan semesta

Kita hanyalah sepasang manusia yang terpaksa merelakan usia

Aku ingin lelap malam ini saja

Dipeluk purnama dan sejuk semampai dingin Madura

Sumenep, 2016


*Penulis antologi Menghitung Gerimis, Hujan Terakhir, Hujan & Senja Tanah Rantau. Asal Sumenep, Madura. 

Publisher : Munawara, MS