
Perempuan yang Kini Lebih Memilih Diam
bukan karena hatinya tak lagi ingin dicintai,
melainkan karena terlalu banyak orang datang
hanya untuk memastikan:
“semenarik apa dirinya jika dimiliki?”
Mereka hadir seramai hujan di awal musim,
membawa perhatian, memberi nyaman,
lalu pergi setelah rasa penasarannya selesai.
Yang tertinggal hanya seorang perempuan
yang diam-diam belajar curiga pada semua niat baik.
Bukan ia tak ingin membuka hati,
ia hanya lelah menjadi tempat singgah
bagi orang-orang yang tak pernah berniat menetap.
Maka jika suatu hari ia terlihat ragu,
jangan buru-buru menyebutnya terlalu takut.
Sebab beberapa luka memang tidak membuat seseorang membenci cinta,
hanya membuatnya lebih hati-hati
pada siapa ia mempercayakan rasa.
Ada Begitu Banyak Musim
yang pernah singgah tanpa permisi di hidupku
membawa riuh yang melelahkan,
meninggalkan sunyi yang sulit dijelaskan.
Beberapa datang seperti hujan deras,
mengguyurkan sesak hingga mataku tak lagi pandai membedakan
mana air langit,
mana yang jatuh diam-diam dari pelupukku sendiri.
Aku pernah berdiri di titik
di mana hati terasa terlalu rapuh untuk dipeluk kata-kata,
dan malam menjadi tempat paling mengerti
betapa lelahnya aku berpura-pura kuat.
Namun waktu mengajariku sesuatu;
bahwa tidak semua kehilangan diciptakan untuk menghancurkan,
ada yang sengaja Tuhan hadirkan
agar langkahku kembali pulang kepada-Nya.
Sedikit demi sedikit aku belajar menata diri,
merapikan doa-doa yang sempat berantakan,
lalu menggantungkan harap
dengan lebih tenang dari sebelumnya.
Dan kini aku percaya,
setelah begitu banyak musim yang kulewati,
akan ada satu waktu
di mana semesta datang membawa tenang
yang selama ini diam-diam kupanjatkan.
Aku Memilih Sunyi
di tengah dunia yang berlomba menjadi ramai.
Saat banyak orang mengukur bahagia
dari lampu café,
aku justru nyaman pulang sebelum malam terlalu larut.
Saat orang lain sibuk mengejar rupa yang sedang dipuji semesta,
aku sibuk menjaga diri
agar tidak hilang hanya demi diterima.
Aku belajar bahwa tidak semua sapaan harus dibalas lama,
tidak semua kedekatan harus diumbar suara,
dan tidak semua perhatian harus dipertontonkan
agar dianggap berharga.
Tapi rupanya,
dunia sering salah menerjemahkan ketenangan.
Diam disebut dingin,
menjaga jarak dianggap sombong,
kesederhanaan dikira tak menarik,
dan menjadi diri sendiri
malah terdengar seperti kesalahan.
Kadang aku bertanya pelan pada langit,
apakah menjadi berbeda memang seasing ini?
Namun di antara riuh penilaian manusia,
aku masih menyimpan percaya
bahwa suatu hari nanti
akan ada seseorang
yang tidak datang untuk mengubahku menjadi “lebih mudah diterima”,
melainkan tinggal
karena ia mengerti cara hatiku bekerja.
Seseorang yang melihat
bahwa di balik sikap yang dianggap terlalu hati-hati,
ada hati yang sedang menjaga dirinya
agar tidak jatuh pada tangan yang salah.


















