Tahlil dan Doa Bersama Mahasantri Ma’had Aly untuk Prof Djamal

Tebuireng.online– Pembancaan surah Yasin dan tahlil, serta doa bersama dilaksanakan Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari pasca mendapat kabar wafatnya Prof. Dr. KH. Jamaluddin Miri pada Kamis pagi (13/02/2020).  Bertempat di aula bawah Ma’had Aly, tahlil dipimpin oleh Ustadz Tantowi, surah Yasin dibacakan ustadz Maki, dan do’a  yang  dipimpin langsung oleh dosen Ma’had Aly Hasyim Asy’ari KH. Kamuli Khudlori.  

“Beliau adalah sosok yang berjasa dan benar-benar mengabdikan ilmunya. Hal yang paling saya salut dari beliau yakni ketika beliau mengajar tidak pernah membawa kendaraan pribadi. Beliau naik bus dari Surabaya ke Jombang. Nanti dijemput, biasanya dijemput sama anak-anak putra terus diantarkan ke kampus. Tapi kadang yang jemput telat atau lupa beliau naik bentor (becak motor) ke kampus, kalau bukan karena kemauan besar, kegigihan, itu merupakan hal yang sulit. Apalagi situasi beliau yang sakit, sering masuk rumah sakit juga, penyakitnya jantung,” ungkap Rofiqatul Anisah, salah satu Mahasantri, saat mengingat kenangan bersama Prof Jamal.

Lanjutnya, sempat pada waktu itu beliau opname gara-gara kambuh jantungnya. Malam hari setelah isya’ keluar dari rumah sakit, besoknya langsung mengajar. Luar biasa semangat, tulus, disiplin. Beliau alumni Tebuireng, pernah jadi Mudir di Ma’had Aly. Tidak pernah perhitungan, sayang kepada mahasantri, dan dianggap seperti anaknya sendiri.

Ketua Rayon PMII Yusuf Hasyim, Yasrul Ihza Saputra, juga mengatakan bahwa Prof. Jamaludin adalah alumni Tebuireng, dimana beliau itu murid dari KH. Idris Kamali. Beliau juga termasuk sahabat dekat dr KH. Said Aqil Siraj ketika di Ummul Qura, Makkah.

“Dulu saya pernah belajar kitab Taisir Mushtholah dan Tadribur Rowi sama beliau, ketika awal masuk Ma’had Aly Tebuireng. Beliau sangat konsisten waktu. Tidak pernah telat. Beliau itu sosok kyai yang sederhana. Buktinya selama menjabat menjadi mudir Ma’had Aly dari tahun 2006-2012, beliau selalu naik bus dari Surabaya ke Tebuireng. Padahal beliau sekelas Profesor, yang kapan saja mampu membeli mobil mewah seperti profesor lainnya. Mungkin itu yang membedakan beliau dengan dosen-dosen lainnya,” tutur Ihza Saputra.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
🤔  Gus Sholah: NKRI Bersyariah itu Tidak Ada

Pewarta: Adawiyah