
Berbicara mengenai puasa Ramadhan, tentu banyak sekali keutamaannya. Bahkan di antaranya, dalam salah satu hadits qudsi yang masyhur, Allah SWT pernah berkata bahwasanya semua ibadah Bani Adam adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Karena sesungguhnya puasa adalah untuk Allah, dan Allah sendirilah yang lebih tahu tentang betapa agung balasan pahala yang diberikan kepada hamba-Nya yang berpuasa.
Terlepas dari keutamaan puasa Ramadhan, ada satu pertanyaan yang patut kita jawab. Yakni, bagaimana kita bisa mendapatkan keutamaan puasa yang amat agung tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu saja kita harus memperhatikan kualitas puasa yang kita lakukan. Logikanya, semakin tinggi kualitas puasa kita, semakin tinggi pula balasan yang Allah berikan kepada kita. Maka, kita mesti berpuasa secara totalitas, bukan sekadar formalitas untuk menggugurkan kewajiban syariat saja.
Nah, mengenai kualitas puasa sendiri, penulis jadi teringat klasifikasi tingkatan orang yang berpuasa yang dituturkan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Imam Al-Ghazali membagi tingkatan orang yang puasa menjadi tiga sebagaimana keterangan berikut:
إعلم أن الصوم ثلاث درجات صوم العموم وصوم الخصوص وصوم خصوص الخصوص: وأما صوم العموم فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة كما سبق تفصيله، وأما صوم الخصوص فهو كف السمع والبصر واللسان واليد والرجل وسائر الجوارح عن الآثام، وأما صوم خصوص الخصوص فصوم القلب عن الهضم الدنية والأفكار الدنيوية وكفه عما سوى الله عز وجل بالكلية ويحصل الفطر في هذا الصوم بالفكر فيما سوى الله عز وجل واليوم الآخر
Artinya, “Ketahuilah bahwa puasa ada tiga tingkatan: puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling khusus. Yang dimaksud puasa umum ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Puasa khusus ialah menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sementara puasa paling khusus adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah SWT. Untuk puasa yang ketiga ini (shaumu khususil khusus) disebut batal bila terlintar dalam hati pikiran selain Allah SWT dan hari akhir.”
Berdasarkan keterangan di atas, kita mesti merenung. Selama bertahun-tahun puasa hingga dewasa ini, kita sudah ada di tingkatan yang mana? Kalau pada tahun-tahun sebelumnya masih di tingkatan pertama (puasa umum), maka yuk kita berusaha menaikkan tingkatan puasa kita pada tingkatan kedua (puasa khusus). Kalau pada tahun-tahun sebelumnya sudah ada di tingkatan kedua, maka sebisa mungkin dipertahankan, syukur-syukur bisa naik level ke tingkatan ketiga.
Terlepas dari tiga tingkatan tersebut, ada satu hal yang menarik dan perlu dibahas pada tingkatan puasa khusus. Dalam tingkatan puasa khusus, disebutkan bahwa puasa yang dilakukan tidak hanya sebatas tidak makan dan minum, menahan syahwat, serta menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, melainkan juga ikut mengajak puasa anggota indera kita, yang salah satunya adalah lisan.
Menjaga Lisan saat Berpuasa
Ya, saat kita berpuasa jangan lupa untuk ‘mendidik’ lisan kita agar turut berpuasa. Puasa lisan ini sangat penting untuk kita perhatikan dan lakukan. Karena walaupun kita berpuasa rutin, tapi jika lisan kita masih suka ghibah atau berkata kotor, bisa saja pahala puasa kita rontok tak tersisa. Hingga yang kita dapatkan dari puasa hanyalah rasa lapar dan dahaga. Tak ada pahalanya. Rasulullah SAW pernah bersabda:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش
Artinya, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga” (HR An-Nasa’i).
Di samping tidak ghibah dan berkata kotor, termasuk wujud puasa lisan lainnya adalah kita tidak mengatakan sesuatu yang berpotensi menyakiti perasaan orang lain. Kita mesti sangat berhati-hati dalam hal ini. Karena, bila tidak demikian, bisa saja kita mengatakan sesuatu yang menurut kita bernilai kebaikan, tapi karena tidak memperhatikan situasi dan kondisi tertentu, kata-kata tersebut malah berpotensi menyakiti perasaan orang lain.
Misalnya, kita yang ndilalah (kebetulan) ditakdirkan Allah mampu dan berkesempatan melaksanakan shalat tarawih selama bulan Ramadhan secara rutin, suatu ketika bertemu dengan bapak-bapak yang masih bekerja saat malam hari. Lalu, sebagai wujud ‘syukur kita’, kita bercerita tentang betapa nikmatnya orang yang bisa shalat tarawih di hadapan bapak-bapak tersebut.
Bisa jadi perkataan semacam ini menyakiti dan melukai perasaan bapak-bapak pekerja tersebut. Karena mereka yang harus bekerja saat malam, sebenarnya juga ingin bisa berkesempatan melaksanakan shalat tarawih. Dalam hatinya pasti berkata begitu. Namun, sebab ada keharusan bekerja saat malam (mungkin terpaksa karena keadaan ekonomi atau sebab lainnya), mereka kehilangan kesempatan dan jadi tidak bisa menunaikan shalat tarawih tersebut.
Kalau memang kita ingin bersyukur sebab telah diberikan Allah nikmat berupa kesempatan ikut serta dalam ibadah shalat tarawih, maka lakukanlah dengan cara yang bijak. Mungkin dengan cara memberikan shodaqoh selepas shalat tarawih kepada bapak-bapak pekerja tersebut atau pihak lainnya yang membutuhkan.
Hal semacam ini akan lebih bagus dampaknya, karena apa yang kita lakukan tersebut dapat mengukir senyuman di wajahnya. Kita dibahagiakan oleh Allah lewat nikmat ibadah shalat tarawih, kemudian kita turut membahagiakan orang lain melalui shodaqoh yang kita keluarkan sebagai wujud syukur kepada-Nya.
Jangan malah berkata yang seperti tadi (meskipun niat awalnya ‘bersyukur’). Kita mesti pandai-pandai menjaga lisan kita, mengajak lisan kita berpuasa. Karena niat baik butuh kecerdasan membaca situasi dan kondisi. Sekali lagi, kita perlu membiasakan lisan kita untuk disiplin kata agar tak mudah menyakiti sesama.
Hal-hal semacam ini, bila kita perhatikan dengan seksama insyaallah akan berdampak positif ke depannya. Singkatnya, kalau kita terbiasa menjaga lisan saat Ramadhan, begitu lebaran tiba nantinya, kita juga akan jadi pribadi yang baik tutur katanya saat bersilaturahmi ke rumah saudara atau tetangga.
Insyaallah tidak akan ada lagi pertanyaan-pertanyaan penuh penghakiman atau penuh hasrat kekepoan terhadap urusan hidup orang lain yang muncul dari lisan kita saat forum halal bi halal. Dengan demikian, puasa yang kita lakukan selama sebulan menjadi ada artinya, membawa kebaikan bersama, dan tak sia-sia belaka.
Semoga kita semua diberikan kemudahan dan kemampuan, serta keistiqamahan oleh Allah SWT untuk menunaikan ibadah-ibadah di bulan suci ini, utamanya ibadah puasa Ramadhan, dengan lisan yang terlatih untuk berdisiplin kata agar tak mudah menyakiti sesama. Aamiin…
Wallahu a’lam.
Baca Juga: Melatih Anak Puasa Setengah Hari, Bagaimana Hukumnya?
Penulis: Dhonni Dwi Prasetyo


















