Sumber foto: https://pixabay.com/en/buildings-mosque-sunset-silhouette-203194/

Oleh: KH. Fawaid Abdullah*

Para salafus shalih begitu taat dan banyak ibadahnya kepada Allah SWT. Ketika mendirikan shalat menghadap Allah SWT dilakukan dengan penuh khusyu’. Ketika mengingat tanda-tanda kebesaran Allah SWT air matanya mengalir sebagai tanda rasa sangat takut kepada-Nya. Mereka benar-benar takut kepada Allah dan cinta kepada-Nya.

Diceritakan, pernah suatu ketika Sahabat Ali karramallahu wajhah kakinya ditimpa semacam duri atau sesuatu yang besar masuk ke dalam kakinya yang menyebabkan rasa sakit yang luar biasa. Ketika waktu shalat tiba, Sahabat Ali tenggelam dalam kekhusyuan shalatnya, lalu Sahabat yang lain mencabutnya. Tidak terasa sakit sama sekali. Itulah yang dirasakan Ali karramallahu wajhah. Dalam riwayat lain, bukan tertancap duri, melainkan terpanah saat perang.

Para Salafus Shalih itu selalu menyempatkan ibadah malam, seperti qiyamul lail. Membaca Al Quran. Siang hari, mereka pergunakan berjuang di jalan Allah. Berdagang, bekerja mencari keutamaan Allah, serta bertani atau berkebun dan naf’il bilad. Itulah kehidupan para Salafus Shalih di jaman nya.

Sahabat Abu Bakar ra. merupakan seorang pedagang di jaman Baginda Nabi SAW. Hampir semua harta bendanya diperuntukkan di jalan kebaikan, yaitu di jalan Allah. Ketika beliau diangkat menjadi Khalifah, menggantikan Rasulullah SAW sebagai kepala negara, semua yang berkaitan dengan dagangnya dilepas olehnya. Ia benar-benar konsentrasi mengurusi negara dan umat.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Beda dengan kondisi saat ini, seorang pengusaha tatkala menjadi pejabat negara atau menjadi penguasa di suatu wilayah, justru melanggengkan kekuasaan bisnisnya, memperluas kerajaan bisnis demi kemakmuran diri, keluarganya, dan kelompoknya. Ini berbanding terbalik dengan Sahabat Abu Bakar RA bukan?.

Para Salafus Shalih sangat tidak suka berbohong dan khianat. Karena sifat ini adalah akhlak yang tercela. Mereka melaksanakan keadilan dan amanah sebagaimana yang dicontohkan Baginda Nabi Muhammad SAW.

Diceritakan, suatu ketika ada seorang Quraisy mencuri. Lalu dilaporkan kepada Usamah bin Zaid untuk diteruskan kepada Baginda Nabi SAW. Lalu Usamah berkata, “Apakah pencuri seorang Quraisy ini akan di Had (dihukum) dengan hukum-hukum Allah?”. Baginda Nabi lalu berpidato dan bersabda, “Apabila mereka yang mencuri itu dari golongan mulia dan kaya, maka tinggalkan atau asingkan mereka. Dan ketika yang mencuri itu dari golongan lemah, dla’if maka laksanakan hukum had kepadanya. Demi Allah, Andai Fatimah binti Muhammad Rasulillah mencuri, maka aku potong tangannya”.

Hukum yang diterapkan Baginda Nabi SAW tidak pernah diskriminatif, tidak pilah-pilih alias tidak berat sebelah, tidak tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Para Salafus Shalih selalu mengikuti apa yang dilakukan dan dicontohkan Baginda Nabi SAW baik aqwal (perkataan) maupun af’al (perbuatan)nya.


*Santri Tebuireng 1989-1999, Ketua Umum IKAPETE Jawa Timur 2006-2009, saat ini sebagai Pengasuh Pesantren Roudlotut Tholibin Kombangan Bangkalan Madura.


Disadur dari kitab Irsyadul Mukminin, karya Allahyarham Gus Ishom Tebuireng yang Legendaris.

SebelumnyaKe Tebuireng, Hj. Shinta Nuriyah Mampir Jenguk Gus Sholah
BerikutnyaKeunikan Pondok Ramadan Lansia di Masjid Jami’ Cukir