Seragam Kehormatan

86
Sebuah ilustrasi keluarga (sumber: ai/ra)

Ruang makan itu rasanya selalu tahu kapan perdebatan akan dimulai. Biasanya dimulai dari suara sendok yang diletakkan terlalu keras di piring, atau helaan napas panjang sebelum kalimat pertama keluar. Pagi itu, hujan turun malas-malasan, dan ayah Ziyadah, Pak Aziz menatap koran yang sudah tak lagi memuat kabar baik tentang Pendidikan, atau mungkin memang tak pernah ada kabar baik.

“Besok kamu daftar PPG,” katanya tanpa menoleh.

Ziyadah berhenti mengaduk kopi sachet di gelasnya. Uap panas naik perlahan, seperti keberanian yang sedang ia kumpulkan.

“Yah,” katanya pelan, “aku sudah bilang… aku mau fokus ke usahaku dulu.”

Lelaki berkacama tanggung itu akhirnya menoleh. Tatapannya keras, seperti papan tulis tua di kelas yang tak pernah diganti. “Usaha? Jualan itu? Ziyadah, kamu kuliah empat tahun bukan untuk mainan internet dan kirim paket.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Istrinya, bu Rina sejenak menghentikan pekerjaannya. Ia yang sejak tadi melipat seragam di kursi ruang tamu ikut menimpali, “Ibu sama Ayah cuma ingin yang terbaik. Guru itu jelas jalannya. Terhormat.”

Kata terhormat menggantung di udara. Ziyadah menelannya bersama sisa kopi yang kini terasa pahit.

Ayahnya seorang guru honorer selama dua puluh dua tahun. Dua puluh dua tahun mengajar dengan gaji yang datang tak tentu, sering terlambat, kadang dipotong tanpa penjelasan. Tapi lelaki itu selalu mengenakan seragamnya dengan rapi, menyetrika sendiri setiap pagi, dan berdiri di depan kelas seolah dunia sedang menyimaknya.

“Guru itu bukan soal gaji,” sering katanya. “Ini soal pengabdian.”

Ziyadah tumbuh dengan kalimat itu. Ia menghafalnya, seperti hafalan wajib. Tapi semakin dewasa, semakin ia bertanya-tanya: mengapa pengabdian selalu diminta dari orang-orang yang paling sedikit diberi?

***

Usahanya kecil. Ziyadah menjual sambal kemasan buatan sendiri, resep turun-temurun dari neneknya. Ia memulainya dari dapur sempit, dengan botol-botol plastik yang dibelinya dari uang tabungan. Awalnya hanya dititipkan ke warung, lalu ke grup WhatsApp, kemudian merambah ke marketplace. Pelan-pelan, pesanan datang. Tidak besar, tapi nyata.

Namun di rumah, usaha itu tak pernah benar-benar dianggap ada.

“Kalau kamu jadi guru, Ayah bisa bangga,” kata ayahnya lagi, suatu malam. “Bisa bilang ke orang-orang, anakku guru.”

Ziyadah ingin bertanya: Bangga pada siapa? Pada aku, atau pada seragam itu?

Pertengkaran mereka bukan sekali dua kali. Tapi malam itu berbeda.

Hujan turun deras, memukul atap seperti amarah yang akhirnya tumpah. Listrik sempat padam. Dalam gelap, suara Pak Aziz terdengar lebih berat.

“Kamu tahu rasanya jadi guru honorer?” katanya. “Dihormati di depan murid, tapi dipinggirkan oleh sistem. Ayah ingin kamu aman. Jadi PNS. Punya seragam, punya kepastian.”

Ziyadah menyalakan senter ponsel. Cahaya kecil itu menyorot wajah ayahnya, lelaki yang punggungnya mulai bungkuk, rambutnya memutih sebelum waktunya.

“Ayah ingin aku hidup seperti Ayah?” tanya Ziyadah lirih. Lelaki itu terdiam.

“Maaf,” lanjut Ziyadah, suaranya bergetar, “aku menghormati Ayah. Aku bangga Ayah guru. Tapi aku tidak ingin mengulang luka yang sama.”

Kata luka membuat ibunya terisak pelan. Ia tahu betul bagaimana setiap akhir bulan mereka menghitung uang dengan hati-hati. Bagaimana suaminya pernah menunda berobat demi membayar SPP Ziyadah.

“Ziyadah,” kata ibunya, “Ibu hanya takut kamu jatuh. Usaha itu tidak pasti.”

“Guru honorer juga tidak pasti, Bu,” jawab Ziyadah, kali ini lebih tegas.

Kata-kata itu seperti tamparan.          

***

Esoknya, Pak Aziz tidak berbicara. Ia berangkat lebih pagi dari biasanya, meninggalkan seragam yang digantung rapi. Ziyadah memperhatikannya lama. Seragam itu tampak gagah, tapi juga berat.

Siang hari, pesan masuk ke ponsel Ziyadah. Pesanan sambalnya meningkat drastis. Seorang food blogger lokal mengulas produknya. Ia hampir menangis karena senang, dan karena sedih, sebab tak ada yang bisa ia ceritakan.

Sore itu, ayahnya pulang dengan langkah gontai. Seragamnya basah oleh hujan. Ia duduk tanpa melepas sepatu.

“Sekolah dapat kabar,” katanya pelan. “Honor bulan ini dipotong lagi.”

Istrinya terdiam. Ziyadah menggenggam tangannya sendiri.

“Mereka bilang anggaran belum turun,” lanjut laki-laki yang tatapannya masih kosong ittu. “Katanya, sabar.”

Kata sabar terdengar usang.

Ziyadah berdiri. Ia mengambil satu botol sambal dari rak dapur dan meletakkannya di meja.

“Yah,” katanya, “ini hasil usahaku. Bulan ini aku bisa bayar listrik, beli beras, dan sisanya aku tabung.”

Ayahnya menatap botol itu lama. Seperti melihat sesuatu yang asing, tapi nyata.

“Kamu tidak ingin Ayah bangga?” tanyanya pelan.

“Aku ingin Ayah bangga pada aku,” jawab Ziyadah, air matanya jatuh. “Bukan pada seragam yang tidak pernah benar-benar melindungi.”

Sunyi menyelimuti ruang tamu.

***

Beberapa hari kemudian, Pak Aziz datang ke dapur. Ia melihat Ziyadah menempelkan label pada botol-botol sambal.

“Ajari Ayah,” katanya singkat.

Ziyadah tertegun. “Ajari apa?”

“Ini,” jawab ayahnya, menunjuk botol. “Cara hidup di dunia yang kamu pilih.”

Di balik pintu, ibu Rini tersenyum samar, mengintip anak dan suaminya yang mulai bekerja sama dengan baik.

***

Pak Aziz tidak berhenti menjadi guru. Ia tetap mengenakan seragamnya. Tapi kini, ia tak lagi memaksakan seragam itu untuk Ziyadah. Ia belajar bahwa mendidik bukan hanya tentang menurunkan cita-cita lama, tetapi memberi ruang bagi masa depan yang berbeda.

Dari semua perjalanan itu pula, Ziyadah belajar satu hal penting: kadang, perjuangan paling sunyi bukan melawan dunia, melainkan melawan cinta yang ingin mengatur hidupmu.

Seragam itu masih tergantung di dinding. Tidak lagi sebagai paksaan. Hanya sebagai pengingat bahwa hormat tidak selalu berbentuk sama dan pengabdian tidak harus mengorbankan mimpi.



Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary