
Negeri yang Sibuk Berisik
Kami hidup di negeri yang sibuk berisik,
semua ingin bicara,
tak banyak yang mau mendengar.
Layar-layar menyala lebih terang dari nurani,
angka-angka lebih dipercaya
daripada luka manusia.
Yang miskin diminta sabar,
yang lelah diminta bersyukur,
sementara janji-janji berdiri megah
tanpa pernah benar-benar bekerja.
Kami diajari patuh sejak kecil,
bukan berpikir.
Diajak tenang,
bukan bertanya.
Negeri ini tak kekurangan suara,
hanya kekurangan keberanian
untuk jujur pada dirinya sendiri.
Belajar Pulang
Di usia yang terus berjalan,
kita makin pandai pergi
dan lupa caranya pulang.
Pulang ke diri sendiri,
ke hati yang dulu sederhana,
yang tak menimbang segalanya dengan untung-rugi.
Kita lelah mengejar peran,
hingga lupa bertanya:
apakah kita bahagia
atau hanya terlihat baik-baik saja?
Malam mengajari pelan-pelan:
tak semua yang terlambat itu gagal,
dan tak semua yang cepat
benar-benar sampai.
Kadang hidup hanya ingin kita duduk sebentar,
menarik napas,
lalu mengingat siapa diri kita
sebelum dunia meminta terlalu banyak
Generasi yang Bertahan
Kami adalah generasi yang belajar bertahan,
bukan karena kuat,
tapi karena tak punya banyak pilihan.
Kami bekerja tanpa jaminan,
bermimpi dengan cemas,
dan menabung untuk masa depan
yang belum tentu ramah.
Kami diajari bermimpi tinggi,
tapi tak diberi tangga.
Disuruh sabar,
padahal perut dan pikiran sama-sama lapar.
Namun anehnya,
di tengah segala ketidakpastian,
kami masih percaya:
bahwa hidup tak selamanya kejam.
Barangkali harapan bukan tentang menang,
melainkan keberanian
untuk tetap manusia
di dunia yang sering lupa caranya adil.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















