Kusebut Dia Favorite Person

58
Perempuan yang berdiri di tepi impiannya (ilustrasi: ai/ra)

Sejak 2025, perempuan itu hidup dengan sebuah kebiasaan yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun: menunggu tanpa meminta. Ia tidak menggenggam siapa-siapa, tetapi juga belum sepenuhnya melepaskan. Ia berdiri di antara dua keadaan, tidak memiliki, namun masih berharap.

Ia menyebutnya favorite person. Sebutan yang ia simpan rapat-rapat, sebab bahkan menyebut nama saja terasa terlalu berisik bagi perasaan yang begitu sunyi. Ia bukan kekasih, bukan pula seseorang yang bisa ia klaim. Ia hanyalah sosok yang kehadirannya pernah membuat hidup terasa lebih hangat, lalu kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang tak kunjung terisi.

Di tahun itu, perempuan tersebut percaya bahwa waktu bisa menjadi jembatan. Bahwa jika ia bersabar sedikit lagi, jika ia tetap baik dan tidak menuntut, mungkin semesta akan mempertemukan mereka kembali dalam versi yang lebih siap. Ia menunggu tanpa drama. Tidak mengirim pesan berlebihan. Tidak meminta kejelasan. Ia hanya tinggal, sambil berdoa pelan-pelan.

Tahun berganti. Kalender terus bergerak, sementara hatinya seolah berjalan di tempat. Orang-orang di sekitarnya mulai melangkah lebih jauh. Ada yang menikah, ada yang jatuh cinta lagi, ada pula yang belajar melupakan. Perempuan itu memilih diam. Bukan karena tidak terluka, tetapi karena ia lelah menjelaskan rasa yang tak pernah benar-benar memiliki bentuk.

Ia sering bertanya pada dirinya sendiri, bukan dengan nada marah, melainkan pasrah: apakah menunggu selalu berarti setia, atau justru bentuk lain dari menolak kenyataan?

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ia mencoba membuka hati pada orang lain. Ia belajar tersenyum, memberi kesempatan, bersikap sewajarnya. Namun setiap kali rasa baru mulai tumbuh, ia segera mundur. Bukan karena orang itu kurang baik, melainkan karena hatinya masih penuh oleh satu nama yang tak pernah benar-benar tinggal.

Malam-malam menjadi saksi paling jujur. Saat dunia terlelap, perempuan itu duduk bersama pikirannya sendiri. Ia tidak lagi menangis seperti dulu. Air matanya telah habis lebih awal. Yang tersisa hanyalah sesak yang tenang, tidak meledak, tetapi menetap.

Perlahan, ia berhenti berharap manusia favoritnya kembali. Harapan itu ia lipat rapi, seperti pakaian lama yang masih disimpan, meski tak lagi dipakai. Ia mulai memahami bahwa tidak semua pertemuan ditakdirkan untuk dimiliki. Beberapa orang hadir hanya untuk mengajarkan cara mencintai tanpa harus memiliki.

Sejak 2025 hingga hari ini, perempuan itu masih menyimpan rasa. Namun kini, rasanya berbeda. Ia tidak lagi menunggu dengan gelisah. Ia menunggu dengan ikhlas, atau setidaknya, belajar mengikhlaskan sambil tetap melangkah, meski perlahan.

Ia tidak membenci manusia favoritnya. Tidak pula menyalahkan dirinya sendiri. Ia hanya menerima satu kenyataan pahit yang akhirnya terasa jujur: cinta tidak selalu berakhir bersama, dan itu tidak membuatnya gagal mencintai.

Ia mulai mendoakan dari kejauhan, tanpa ingin diketahui. Mulai merelakan kebahagiaan orang lain, meski bukan bersamanya. Ia belajar bahwa ikhlas bukan berarti lupa, melainkan berhenti berharap lebih dari yang semesta izinkan.

Jika suatu hari rasa itu benar-benar pergi, perempuan itu tahu ia tidak kehilangannya. Ia hanya mengembalikan sesuatu yang sejak awal memang tidak pernah menjadi miliknya. Sebab cinta yang dewasa bukan tentang bertahan sampai menang, melainkan tentang berani mengalah agar hati tetap selamat.

Dan sejak 2025 hingga hari ini, perempuan itu masih berjalan. Tidak lagi menunggu sesuatu yang tak pasti, melainkan membawa kenangan sebagai pelajaran yang pernah menyayat hati. Terlebih ketika manusia favoritnya menulis di Instagram:

“2026, pilih manusia yang memilihmu. Jangan memaksa takdir bertahan pada sesuatu yang bukan untukmu.”

Di titik itulah, ia tahu, kisah ini akhirnya benar-benar selesai.



Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary