Para narasumber di atas panggung seminar internasional di Pesantren Tebuireng Selasa (03/05/2016)
Para narasumber di atas panggung seminar internasional di Pesantren Tebuireng Selasa (03/05/2016)

tebuireng.online–  Aula Bachir Ahmad Gedung KH. M. Yusuf Hasyim lantai 3 Pesantren Tebuireng kembali dibanjiri oleh para ulama dan kaum intelektual. Rabu (3/5/2016) kemarin Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng mengadakan acara akbar Seminar Internasional dengan mengusung tema “Sumbangsih Pemikiran KH. M. Hasyim Asy’ari Terhadap Umat Islam”.

Acara yang dihelat sejak pukul 10.00-13.30 WIB ini dihadiri oleh para santri, guru, mahasiswa, dosen, aktifis NU dan keluarga besar Pesantren Tebuireng. Peserta seminar begitu antusias dalam mengikuti serangkaian acara ini, mulai dari pembukaan oleh mahasiswa dan mahasiswi Unhasy, hingga acara inti. Narasumber yang didatangkan adalah Syaikh Dr. Ibrahim Sulaiman an-Nughoimshi (Duta Besar Arab Saudi), Prof. Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, M.A, KH. Syukron Ma’mun dan Dr. H. Miftahurrohim Syarkun, M.A.

Acara berlangsung sangat khidmat, ketika para narasumber menjelaskan tentang pemikiran-pemikiran Mbah Hasyim yang menjadi rujukan umat Islam sekarang khususnya umat Islam Indonesia. Bertindak sebagai moderator Ahmad Roziqi, Lc. dan Fathurrohman, M.Pd.I sebagai translator.

Dalam kesempatan yang diberikan, para narasumber menjelaskan perspektif masing-masing. KH. Syukron Ma’mun lebih menjelaskan tentang hubungan antara NU dan Wahabi. Beliau beranggapan bahwa perbedaan itu harus dicarikan titik temu agar tidak terjadi pertumpahan darah. Hal itu sepertinya disepakati oleh Duta Besar Arab Saudi, Syaikh Ibrahim. Beliau mengatakan bahwa perbedaan NU dan Wahabi hanya ada pada tataran masalah furui’iyah.

Sedangkan Prof. Ahsin Sakho lebih menitik beratkan bahasan pada kecenderungan masyarakat NU yang melupakan ajaran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Nama Hadratussyaikh sering disebut namun ajarannya jarang yang dikaji dan diterapkan. Hal itu senada dengan ucapan Dr. Miftahurrohim yang mengatakan bahwa geliat mengkaji pemikiran ulama NU, sangat minim sekali. Untuk itu Dr. Miftahurrohim mengajak mahasiswa Unhasy untuk memulai mengkaji secara mendalam pemikiran Hadratussyaikh.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sebelum acara diakhiri, diadakan dialog interaktif antara narasumber dan peserta seminar. KH. Musta’in Syafi’i menjadi salah satu peserta aktif dalam seminar tersebut. Beliau meminta saran kepada para narasumber tentang tuduhan plagiasi yang ditujukan kepada Hadratusyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari melalui karya Adabul Alim wal Muta’allim.

Acara kemudian diakhiri dengan penyerahan cinderamata oleh Prof. Haris Supratno selaku Wakil Rektor I Universitas Hasyim Asy’ari yang juga keynote speaker dalam seminar tersebut kepada Duta Besar Arab Saudi.  (Aulia/Abror)