tebuireng.online– Hari libur bukan berarti belajar juga libur. Hal ini terlihat dari semangat peserta Sekolah Menulis Jilid III Sanggar Kepoedang (Komunitas Penulis Muda Tebuireng) Jombang. Disaat para santri lain menghabiskan hari Jum’at untuk bermain, tidur, nonton film dan lainnya, di Kantor Unit Penerbitan Pesantren Tebuireng, mereka menghabiskan hari Jum’at dengan mengasah kemampuan dibidang tulis-menulis.

Pada pertemuan ke-4 Jum’at ini (17/04/15) kelas fiksi mengupas tentang  bagaimana cara membuat cerpen. Kali ini pematerinya adalah Robiah Machtumah Malayati, cerpenis sekaligus penyiar Radio Tebuireng Jombang.

“Membuat cerpen itu mudah dan nggak perlu panjang-panjang. Hanya terdapat satu konflik dan satu konklusi saja. Kita nggak boleh latah”. Ungkapnya. Latah yang dimaksud Rabiah berarti kita hanya memerlukan satu konflik pembicaraan saja.

Perempuan yang juga aktif menulis cerpen di Radar Mojokerto ini mengungkapkan bahwasannya letak kekuatan seorang cerpenis berada pada pendeskripsian seorang tokoh, latar waktu dan tempat yang didramatisir. Jika seorang penulis mampu membawa pembaca merasakan bahkan ikut andil dalam cerita itu, maka ia dikatakan penulis yang sukses. Menurutnya, untuk memperoleh referensi kosa kata dalam mengembangkan sebuah deskripsi, maka kita juga harus rajin-rajin membaca karya sastra.

Selain itu, perempuan yang juga aktifis Griya Baca Anak Bumi Kita Untuk Semua (ABUKUS) Mojowarno Jombang tersebut, mengatakan bahwa cerpen juga dapat diciptakan melalui ide-ide yang tersedia disekeliling kita. “Bahkan dari sebuah botol ini pun kita dapat membuat sebuah cerpen” tuturnya sambil menunjuk sebuah botol yang ada didepannya. (nia/abror)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
SebelumnyaMelukis Senja di Paris*
BerikutnyaTanpa Pancasila, China dan India Maju