
Belakangan ini, kajian mengenai keislaman yang biasa disebut dengan ‘Studi Islam’ tidak hanya dipandang sebagai sebuah agama belaka, yang berorientasi seputar wahyu ketuhanan saja, tapi Islam dikaji dari berbagai aspek kehidupan, sebagaimana politik, sejarah hingga kebudayaan.
Islam bukan hanya dapat dilihat sebagai realitas agama, melainkan ia juga sebagai realitas sejarah, budaya serta peradaban, sebab Islam sebagai agama telah bergumul dalam rentang sejarah yang sangat panjang. Sebagai agama, Islam diturunkan bukan dalam ruang yang kosong, tetapi dalam masyarakat yang berbudaya, memiliki tradisi, harapan- harapan, paradigma pemikiran, budaya, konstruksi sosial dan sejarahnya sendiri.
Agama adalah kebenaran absolut dan permanen, sementara kebenaran dalam budaya bersifat relatif (nisbi), hipotetis (iftiradi), dan dinamik (yü ‘allaq bi al-quwwa). Mengingat agama adalah sesuatu yang absolut maka kebenaran agama diterima dengan kepercayaan (al-yaqin), ketulusan (al- ikhlas) dan kepasrahan (al-islam), sementara kebenaran dalam budaya diterima dengan pemahaman logika, kepatuhan, emosi dan senantiasa dalam dinamika perubahan.
Baca Juga: perkembangan studi islam
Mengutip dari Nurhasanah Bakhtiar Marwan dalam bukunya ‘Metedologi Studi Islam’ bahwa agama sebagai obyek studi minimal dapat dilihat dari segi sisi:
- Sebagai doktrin dari Tuhan yang sebenarnya bagi para pemeluknya sudah final dalam artian absolute, dan diterima apa adanya.
- Sebagai gejala budaya, yang berarti seluruh yang menjadi kreasi manusia dalam kaitannya dengan agama, termasuk pada pemahaman orang terhadap doktrin agamanya.
- Sebagai interaksi sosial, yaitu realitas umat Islam.
Bila Islam telah dilihat dari tiga sisi tersebut, maka ruang lingkup dalam kajian studi Islam dapat dibatasi pada tiga sisi tersebut. Oleh karena sisi doktrin merupakan suatu keyakinan atas kebenaran teks wahyu, maka hal ini tidak memerlukan penelitian di dalamnya.
Sejarah Studi Islam sendiri sebagai sebuah disiplin, sebenarnya sudah dimulai sejak zaman dahulu. Studi ini memiliki akar yang kokoh di kalangan sarjana muslim dalam tradisi keilmuan tradisional. Mereka telah mengupayakan interpretasi mengenai Islam dan hal ini terus berlanjut hingga saat ini.
Pada perjalanan panjangnya Studi Islam bergumul dengan waktu yang cukup panjang dan sejarah adat budaya yang senantiasa berubah-rubah, Studi Islam saat ini tidak hanya dianggap sebagai sebuah dirkusus pembahasan yang ramai dibincangkan di dunia Timur Tengah saja, atau negara-negara Islam yang ada di dunia. Tetapi saat ini Studi Islam mengalami kajian-kajian yang sangat mendalam bagi kalangan ilmuwan dunia Barat atau yang biasa disebut dengan kaum orientalis.
Terdapat perbedaan yang cukup mendasar bagiamana para pengkaji Studi Islam di kawasan Timur Tengah dan negara-negara Islam dengan para ilmuwan yang berasal dari dunia Barat. Salah satunya adalah dalam aspek kajian tentang keilmuan, bila para pengkajian dari Timur Tengah mengkaji Studi Islam melalui teks-teks yang sudah ada dala karya-karya ilmuwan (ulama terdahulu), hal itu berbalik berbeda dengan para ilmuwan Barat (Orientalis) yang mengkaji Studi Islam justru melihat sebagai sebuah realitas sosial. Pada makalah ini, penulis hendak menguraikan perkembangan Studi Islam yang terjadi di dunia Timur Tengah dan Dunia Barat, sebagai sebuah acuan mendasar tentang pergesaran pengaruh Studi Islam pada abad ini bagi kehidupan.
Sejarah Studi Islam
Studi Islam Pada Era Klasik
Studi Islam merupkan sebuah proses panjang dala sejarah. Studi ini berjalan baik dari sisi umat islam maupun dari luar islam. Pendidikan Islam pada zaman awal dilakukan justru di masjid-masjid. Pusat-pusat studi Islam klasik ini adalah daerah Mekkah dan Madinah, Basrah dan Kufah, Damaskus dan Pelestina, dan Fistat (Mesir). Madrasah Mekkah dipelopori oleh Mu’adz bin Jabal; Madrasah Madinah dipelopori oleh Abu Bakar, Umar, Utsman dan Anas bin Malik; Madrasah Kufah dipelopori oleh Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud’ Madrasah Damaskus dipelopori oleh Ubadah dan Abu Darda, sedangkan Madrasah Fistat dipelopori oleh Abdullah bin Amr bin ‘Ash.
- Studi Islam Pada Kejayaan Islam
Pada zaman kejayaan Islam, Studi Islam dipusatkan di Ibu kota Negara, yaitu Baghdad. Yang kala itu berpusat di Istana Dinasti Bani Abbas pada zaman Khalifah al-Makmum, yakni putra dari Khalifah Harun al-Rasyid, yang mendirikan Bait al-Hikmah dan juga dijadikan untuk pusat pengemebangan ilmu pengetahuan dengan wajah ganda; sebagai perpustakaan serta sebagai lembaga pendidikan sekolah dan penerjemahan karya-karya Yunani Kuno ke dalam bahasa Arab untuk melakukan akselerasi pengembangan ilmu pengetahuan.
- Studi Islam Pada Era Modern
Studi Islam saat ini berkembang hampir di seluruh negara-negara di dunia, baik di Dunia Islam maupun bukan negara Islam sendiri. Di Dunia Islam terdapat pusat-pusat studi Islam, seperti Universitas Al-Azhar di Mesir dan Universitas Ummul Quro di Arab Saudi. Atau seperti di Indonesia Studi Islam dilakanakan di 14 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan 39 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) dan ada juga perguruan tinggi swasta yang secara khusus menyelenggarakan Pendidikan Tinggi Islam.
- Studi Islam di Negara-negara Non-Islam
Pada kajian studi Islam di negara-negara non Islam diselenggarakan di berbagai enagara, antara lain di India, Chicago, Los Angeles, London dan Kanada. Di Amerika studi Islam dikembangkan membahas sejarah studi Isla, bahasa-bahasa Islam selain bahasa Arab, sastra dan ilmu-ilmu soial. Studi Islam di Amerikan berada di bawah pusat Studi Timur Tengah dan Timur Dekat.
Perkembangan Studi Islam di Timur
Perkembangan studi Islam di Timur sangat variatif. di Iran terdapat Universitas Teheran dan Universitas Imam Sadiq, keduanya berada di Teheran. Di Universitas yang disebut pertama, studi Islam diselenggarakan dalam satu fakultas, yakni fakultas Agama (Kulliyat alIlahiyat), sedangkan di Universitas yang disebut kedua, diselenggarakan bersama dengan ilmu umum. di India juga terdapat dua universitas besar yang melakukan kajian Islam, Aligarh University dan Jamia Millia Islamia. Di perguruan tinggi pertama, studi Islam dikelompokkan pada dua bagian. Pertama, studi Islam dalam kerangka doktrin ditempatkan di Fakultas Ushuluddin dengan dua jurusan: Madhhab Ahli Sunnah dan Madhhab Shi‘ah. Kedua, studi Islam dalam kerangka sejarah dilaksanakan di Fakultas Humaniora Jurusan Islamic Studies, yang kedudukannya sejajar dengan Jurusan Politik, Sejarah, dan lain-lain.
Baca Juga: Urgensi Mempelajari Studi Islam
Di samping itu, variasi pengorganisasian studi Islam juga dialami oleh negara Islam lainnya seperti Syiria, Malaysia, Mesir, dan Indonesia. Di Universitas Damaskus, Syiria, misalnya, studi Islam ditempatkan pada Fakultas Syari‘ah (Kulliyat al-Shari‟ah) yang meliputi program studi ushuluddin, tasawuf, tafsir dan sebagainya. Di Universitas Islam Internasional, Malaysia, studi Islam secara umum ditampung di Fakultas Ilmu Kewahyuan dan Warisan Islam.
Sementara itu, di Indonesia, seperti diketahui, terdapat lembaga khusus yang didirikan untuk mengembangkan keilmuan-keilmuan Islam, yakni berupa Institut Agama Islam (IAI), baik Negeri atau Swasta, dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI), baik Negeri atau Swasta. Kajian keilmuan Islam yang dikembangkan di perguruan-perguruan tinggi tersebut pada umumnya meliputi delapan bidang, yakni Ilmu al-Qur‘an Hadith, Ilmu Pemikiran dalam Islam, Ilmu Fiqh (Hukum Islam) dan Pranata sosial, Ilmu Sejarah dan Peradaban Islam, Ilmu Bahasa, Ilmu Pendidikan Islam, Ilmu Dakwah Islamiyah, dan Ilmu Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam.
Delapan bidang ini dirinci lagi ke dalam enam belas bidang keahlian: (1) Kependidikan Islam, (2) Pendidikan Agama Islam, (3) Pendidikan Bahasa Arab, (4) Ahwal Shakhsiyah, (5) Mu‟amalah, (6) Perbandingan Madhhab dan Hukum, (7) Jinayah Siyasah, (8) Komunikasi dan Penyiaran Islam, (9) Pengembangan Masyarakat Islam, (10) Manajemen Dakwah, (11) Bimbingan dan Penyuluhan Islam, (12) Tafsir Hadith, (13) Akidah Filsafat, (14) Perbandingan Agama, (15) Sejarah dan Peradaban Islam, serta (16) Bahasa dan sastra Arab.82 Bidang-bidang keilmuan Islam tersebut dikembangkan melalui lima fakultas, yakni Fakultas Adab, Dakwah, Syari‘ah, Tarbiyah, dan Ushuluddin.
Perkembangan Studi Islam di Barat
Munculnya studi Islam sebagai suatu kajian akademis tidak bisa dipisahkan dari semangat Orang Barat untuk mengetahui perihal kehidupan orang Timur dalam berbagai aspeknya. Mereka melakukan pengkajian dan penelitian terhadap berbagai aspek kehidupan orang Timur. Aktivitas ini kemudian lebih dikenal dengan pendasaran orientalisme.
Terdapat lima faktor yang mendukung pesatnya studi islam di dunia barat antara lain;
- Infrastruktur riset yang baik.
- Tradisi dan budaya riset yang kuat.
- Memiliki kemampuan teoritis-metodologis
- Memiliki refrensi yang lebih banyak
- Lebih terbukanya segala aspek keilmuan.
Sejak dua dekade terakhir ada kecenderungan baru dalam kajian Islam di Barat yang menarik untuk dikaji. Secara umum, kajian Islam di Barat sebelum dekade 70-an diwarnai oleh sikap curiga yang tinggi terhadap Islam. Ini terlihat dari karya-karya intelektual para orientalis yang kebanyakan menyudutkan Islam ataumemperlihatkan warna anti-Islam. Namun dua dekade terakhir terlihat arus balik kecenderungan kajian Islam di Barat yang mulai melunak.
Baca Juga: Meneropong Perkembangan Studi Islam dari Masa ke Masa
Motivasi untuk mengkaji Islam secara lebih tanpa prasangka di kalangan orientalis, terutama muncul dari keinginan universal akan pentingnya sikap dialogis di kalangan agama-agama besar di dunia. Kebutuhan saling memahami inilah yang kemudian menjadi acuan untuk membangun impian sebuah peradaban mondial yang penuh dengan perdamaian, kebersamaan,harmoni, sikap saling percaya yang didasari atas nilai-nilai spiritualitas.
Sejumlah hipotesis tersebut didukung oleh; Pertama, didirikannya pusat-pusat kajian Islam yang dimotori oleh para orientalis di sejumlah perguruan tinggi di Barat, seperti Amerika, Canada, Inggris, Belanda, Perancis, dan Australia. Pusat-pusat kajian ini sudah barang tentu bertujuan untuk melihat Islam dari dekat; Islam yang dipraktekkan oleh umat Islam sendiri. Mereka mencoba memasuki wilayah-wilayah religius yang sebenarnya agak riskan, dengan cara terlibat sebagai pihak insider.
Penulis: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Rara Zarary


















