Puasa Tasu’a: Azam Nabi sebagai Dasar Kesunnahan

14
Sebuah ilustrasi bulan Muharram

Oleh: Muhammad Fatkhun Niam*

Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Di antara amalan yang paling dikenal pada bulan ini adalah puasa ‘Asyura pada tanggal 10 Muharram. Namun, terdapat satu amalan lain yang hampir selalu menyertai pembahasan ‘Asyura, yaitu puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram.

Menariknya, puasa Tasu’a memiliki karakteristik yang unik. Rasulullah t idak tercatat pernah melaksanakannya, tetapi para ulama tetap menetapkannya sebagai sunnah. Hal ini menimbulkan pertanyaan: bagaimana suatu amalan dapat berstatus sunnah meskipun belum sempat dikerjakan oleh Nabi?

Baca Juga: 10 Keutamaan Berpuasa di Bulan Muharram

Dalam kajian hadis, sunnah umumnya dipahami sebagai segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah Saw, akan tetapi, kasus puasa Tasu’a menunjukkan bahwa azam atau keinginan Nabi juga memiliki nilai penting dalam pembentukan sunnah. Oleh karena itu, puasa Tasu’a menjadi salah satu contoh menarik untuk melihat bagaimana kehendak Rasulullah  dapat menjadi dasar kesunnahan suatu amalan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dasar utama pembahasan ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas ra.:

حَدَّثَنِي إِسْمَاعِيلُ بْنُ أُمَيَّةَ؛ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا غَطَفَانَ بْنَ طَرِيفٍ الْمُرِّيَّ يَقُولُ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما يَقُولُ: حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ! إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ». قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ

Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa ketika Rasulullah  berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, mereka mengingatkan bahwa hari tersebut juga diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Rasulullah  kemudian bersabda, “Jika datang tahun depan, insyaAllah kita akan berpuasa pada hari kesembilan.” Namun, sebelum Muharram tahun berikutnya tiba, Rasulullah  telah wafat.[1]

Untuk memahami latar belakang hadis tersebut, para ulama menjelaskan sejarah puasa ‘Asyura. Mulla ‘Ali al-Qari menerangkan bahwa ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Ketika ditanya, mereka menjelaskan bahwa hari tersebut merupakan hari kemenangan Nabi Musa as. Dan Bani Israil atas Fir’aun.

Baca Juga: Hari Asyura, Satu Hari Seperti Satu Tahun

Nabi kemudian mengatakan bahwa kita lebih utama daripada musa (نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى ) . Karena itu beliau berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkan para sahabat untuk melaksanakannya. Namun, ketika para sahabat mengingatkan bahwa hari ‘Asyura juga diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani, Rasulullah  menyatakan keinginannya untuk menambah puasa pada hari kesembilan Muharram:

Berikut keterangan Syaikh Mulla ‘Ali al-Qari:[2]

لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ مُهَاجِرًا مِنْ مَكَّةَ رَأَى الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ الْعَاشِرِ مِنَ الْمُحَرَّمِ فَسَأَلَهُمْ عَنْهُ فَقَالُوا: هَذَا يَوْمٌ نُعَظِّمُهُ أَظْفَرَ اللَّهُ فِيهِ مُوسَى – ﷺ – وَبَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ، فَقَالَ النَّبِيُّ – ﷺ -: ««نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى»» أَيْ بِمُوَافَقَتِهِ فَصَامَ – ﷺ – ذَلِكَ الْيَوْمَ (وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ) أَيْ أَجَابَهُ أَوَّلًا بِالْوُجُوبِ ثُمَّ بَعُدَ النَّسْخُ بِالنَّدْبِ، فَلَمَّا كَانَتِ السَّنَةُ الْعَاشِرَةُ مِنَ الْهِجْرَةِ (قَالُوا) أَيِ الصَّحَابَةُ (يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ) أَيْ يَوْمُ عَاشُورَاءَ، فَتَقْدِيرُ ابْنِ حَجَرٍ هَذَا مَوْضِعٌ أَنَّهُ مُخَالِفٌ لِلْأُصُولِ الصَّحِيحَةِ (يَوْمٌ يُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى) أَيْ وَتَجِبُ مُخَالَفَتُهُمْ فَكَيْفَ نُوَافِقُهُمْ عَلَى تَعْظِيمِهِ (فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – ﷺ -: لَئِنْ بَقِيتُ) أَيْ فِي الدُّنْيَا أَوْ لَئِنْ عِشْتُ «إِلَى قَابِلٍ» أَيْ إِلَى عَامٍ قَابِلٍ وَهُوَ السَّنَةُ الْآتِيَةُ «لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

Menurut al-Qari, keinginan tersebut menunjukkan upaya Rasulullah ﷺ untuk menyelisihi tradisi Yahudi dan Nasrani sehingga umat Islam memiliki identitas ibadah yang khas dan berbeda dari mereka.

Hikmah dianjurkannya puasa Tasu’a juga dijelaskan oleh Imam al-Nawawi  bahwa para ulama memberikan beberapa alasan mengenai anjuran puasa tersebut. Hal tersebut Imam Nawawi jelaskan dalam kitabnya Majmū‘ Syarḥ al-Muhadzdzab.

وَذَكَرَ الْعُلَمَاءُ مِنْ أَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ فِي حِكْمَةِ اسْتِحْبَابِ صَوْمِ تَاسُوعَاءَ أَوْجُهًا (أَحَدُهَا) أَنَّ الْمُرَادَ مِنْهُ مُخَالَفَةُ الْيَهُودِ فِي اقْتِصَارِهِمْ عَلَى الْعَاشِرِ وَهُوَ مَرْوِيٌّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَفِي حَدِيثٍ رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ» قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ وَصُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا وَبَعْدَهُ يَوْمًا «(الثَّانِي) أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ وَصْلُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ بِصَوْمٍ كَمَا نهى أن يصوما يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَحْدَهُ ذَكَرَهُمَا الْخَطَّابِيُّ وَآخَرُونَ (الثَّالِثَ) الِاحْتِيَاطُ فِي صَوْمِ الْعَاشِرِ خَشْيَةَ نَقْصِ الْهِلَالِ وَوُقُوعِ غَلَطٍ فَيَكُونُ التَّاسِعُ فِي الْعَدَدِ هُوَ الْعَاشِرُ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ

Hikmah dianjurkannya puasa Tasu’a diantaranya adalah: Pertama, untuk menyelisihi orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal sepuluh Muharram. Kedua, agar puasa ‘Asyura tidak berdiri sendiri, melainkan disertai puasa pada hari lain. Ketiga, sebagai bentuk kehati-hatian apabila terjadi kekeliruan dalam penentuan awal bulan sehingga tanggal sembilan yang dihitung bisa jadi merupakan tanggal sepuluh yang sebenarnya.[3]

Baca Juga: Hikmah Anjuran Puasa Ayyamul Bidh di Bulan Rajab

Penjelasan yang paling menarik datang dari al-Muẓhirī dalam Al-Mafātīḥ fī Syarḥ al-Maṣābīḥ. Ketika mengomentari hadis Ibn Abbas di atas, beliau menjelaskan bahwa Rasulullah  wafat sebelum memasuki Muharram tahun berikutnya sehingga tidak sempat melaksanakan puasa Tasu’a. Meski demikian, beliau menegaskan:

 فصار اليومُ التاسعُ من المُحرَّم صومُه سُنَّةً وإن لم يَصُمْه رسولُ الله  لأنه عَزَمَ على صومه

Puasa pada hari kesembilan Muharram menjadi sunnah meskipun Rasulullah  tidak sempat melaksanakannya, karena beliau telah berazam untuk melaksanakannya.”[4]

Pernyataan ini menunjukkan bahwa kesunnahan puasa Tasu’a tidak hanya bertumpu pada praktik yang telah dilakukan Nabi,  tetapi Azam Nabi  yang dinyatakan secara jelas. Bahkan al-Muẓhirī merumuskan sebuah kaidah penting:

وَكُلُّ مَا فَعَلَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَوْ عَزَمَ عَلَيْهِ أَوْ أَمَرَ بِهِ أَوْ رَضِيَ بِهِ كَانَ ذَلِكَ سُنَّةً إِنْ لَمْ يَكُنْ فَرِيضَةً

“Setiap perkara yang dilakukan Rasulullah atau yang beliau berazam untuk melakukannya, atau yang beliau perintahkan, atau yang beliau setujui, maka hal itu merupakan sunnah selama tidak termasuk kewajiban.”[5]

Dari keterangan ini dapat dipahami bahwa puasa Tasu’a merupakan salah satu contoh bagaimana azam Nabi  memiliki nilai normatif dalam syariat. Kesunnahannya lahir dari kehendak Rasulullah yang dinyatakan secara tegas, meskipun beliau belum sempat merealisasikannya karena wafat sebelum datangnya Muharram tahun berikutnya.

Baca Juga: Amalan di Bulan Muharram, Termasuk Puasa Asyuro


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.



[1] Muslim bin al-Ḥajjāj al-Qusyairī al-Naisābūrī, Ṣaḥīḥ Muslim, an-Nāsyir: Maṭba‘ah ‘Īsā al-Bābī al-Ḥalabī wa Syurakā’uh, al-Qāhirah. Juz 2, hlm. 797.

[2] Abū al-Ḥasan Nūr al-Dīn al-Mullā al-Harawī al-Qārī, Mirqāt al-Mafātīḥ Syarḥ Misykāt al-Maṣābīḥ, Dār al-Fikr, Beirut, Lebanon. Juz 2, hlm. 1412.

[3] Abū Zakariyyā Muḥyī al-Dīn bin Syaraf al-Nawawī ,  al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadzdzab, an-Nāsyir: Idārat al-Ṭibā‘ah al-Munīriyyah, Maṭba‘at al-Taḍāmun al-Akhawī, al-Qāhirah.

Juz 6, hlm. 383.

[4] Al-Ḥusain bin Maḥmūd bin al-Ḥasan al-Muẓhirī, Al-Mafātīḥ fī Syarḥ al-Maṣābīḥ, taḥqīq Nūr al-Dīn Ṭālib (Dār al-Nawādir, t.t.), juz 3, hlm. 37.

[5] Ibid hlm 38