
Sahur dan buka yang berpindah alamat
Jam berdentang bukan dari dinding rumah.
meja makan berubah rupa
menjadi sudut kerja
dengan lampu putih dan sisa tugas.
Sahur disuapi tergesa,
buka disambut tanpa keramaian.
Tak ada suara piring bertemu,
hanya notifikasi
dan doa yang dibaca pelan.
Rindu duduk diam
lebih nyaring daripada lapar.
Ternyata tumbuh
juga berarti belajar
merayakan Ramadan
di tempat yang asing
dengan hati yang tetap pulang.
Dewasa yang melelahkan tanpa jeda
Dewasa datang
tanpa aba-aba.
Tiba-tiba hari-hari penuh daftar,
dan lelah tak lagi bertanya izin.
Bangun bukan karena siap,
bertahan bukan karena kuat.
Semua berjalan
karena berhenti
terasa terlalu mahal.
Ternyata dewasa
bukan tentang tahu arah,
melainkan terus melangkah
meski punggung condong ke belakang.
Capeknya tak dramatis,
ia tenang,
dan menetap.
Menunggu keajaiban
Kadang langit dipandangi
lebih lama dari biasanya.
Bukan mencari hujan,
melainkan tanda
bahwa segalanya bisa berubah.
Keajaiban tak diminta besar:
cukup satu kabar baik,
satu hari tanpa beban,
satu pagi yang tak berat.
Entah kapan ia datang.
Namun harapan tetap disisakan
seperti kursi kosong
di ruang paling sunyi—
siapa tahu,
hari ini
keajaiban memilih duduk.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















