
Mengobrol hingga larut malam sudah menjadi kebiasaan Sabil dan Zaky. Hari-hari mereka selalu dihabiskan untuk bermain dan jalan-jalan. Rumah bagi mereka hanyalah tempat makan gratis.
Suatu sore, di warung kopi langganan mereka, Zaky dan Sabil sedang mengobrol dengan serius.
“Bil, gua mau ngomong serius nih sama lu,” ujar Zaky.
“Etdah, ngomong tinggal ngomong. Kayak sama siapa aja lu, emang gua menteri sampai lu kayak gitu,” ucap Sabil bercanda.
“Enggak, Bil. Ini gua serius,” ujar Zaky, meyakinkan Sabil kalau kali ini ia benar-benar serius.
“Iya, iya. Kenapa emang?”
“Gua disuruh sama orang tua gua buat masuk pesantren, Bil.”
Mendengar itu, Sabil kaget. Ia tak menyangka kalau sahabatnya akan masuk pesantren.
“Yang bener lu, Ky…” ucap Sabil, masih tak terima.
“Iya, besok gua berangkat,” ujar Zaky pasrah.
“Hah!? Besok? Yang bener lu. Kapan lu daftarnya? Kok enggak pernah cerita sama gua sih?” Mimik wajah Sabil yang tadinya penuh senyum kini berubah menjadi tegang.
“Aslinya gua udah mau ceritain ini lama, cuma enggak ada waktu yang pas menurut gua.”
Zaky dan Sabil memang selalu bercanda dan susah diajak serius. Zaky enggak mau merusak waktu-waktu bahagia mereka.
“Terus gimana? Kita enggak bisa main bareng lagi dong,” ucap Sabil sedih.
“Ya… gimana lagi. Ini orang tua gua yang maksa. Paling kita main kalau gua lagi liburan,” ujar Zaky, ikut sedih.
Tak mau menyia-nyiakan waktu bersama, Sabil mengajak Zaky jalan-jalan malam itu.
***
Malam itu tak terasa berbeda dari biasanya. Suasana hati dua sahabat ini tercampur aduk antara sedih dan bahagia. Mereka berkeliling kota, membeli ini itu, hingga tak terasa waktu subuh pun tiba.
Mereka harus berpisah untuk waktu yang lama. Sedih bagi Zaky meninggalkan sahabat masa kecilnya, tapi mau bagaimana lagi, semua ini demi orang tuanya.
Belum sempat Zaky tidur, orang tuanya sudah mendesaknya untuk bersiap-siap. Mau tak mau, Zaky harus mandi lalu segera berganti baju. Orang tua Zaky sudah menunggu di dalam mobil. Setelah semuanya beres, Zaky beranjak menuju mobil.
Selama perjalanan, tidak ada obrolan di antara mereka. Zaky tertidur di dalam mobil saking capeknya. Sesampainya di lingkungan pesantren, Zaky tampak kebingungan karena belum terbiasa dengan suasana pesantren.
Sebelum ditinggal orang tuanya, Zaky menyempatkan diri mengabari Sabil. Namun, tak ada jawaban. Zaky berpikir mungkin Sabil masih tidur, jadi ia hanya meninggalkan pesan agar bisa dibaca nanti.
Setelah itu, orang tua Zaky pulang, meninggalkannya. Zaky dipasrahkan kepada Ustaz Ilham yang akan mengajaknya berkeliling pesantren.
Di minggu pertama, Zaky masih galau memikirkan rumah dan sahabatnya. Ia sama sekali belum terbiasa hidup berdampingan dengan banyak orang.
Berbeda dengan Sabil. Hari-harinya kini dihabiskan untuk mencari pacar, minum-minuman, maksiat, dan lain-lain.
Saat Zaky sibuk mengaji, Sabil malah sibuk party.
***
Dua bulan berlalu. Zaky mulai terbiasa dengan kultur pesantren.
Sedangkan Sabil masih sama seperti sebelumnya, hanya saja sekarang ia sudah memiliki pacar yang selalu menyita waktunya.
Zaky masih sering memikirkan Sabil. Ia sudah tak sabar menunggu liburan, ingin kembali berjalan-jalan dan begadang seperti dulu.
Akhirnya hari yang ditunggu tiba. Subuh itu Zaky terbangun dengan penuh semangat, tanpa rasa ngantuk sedikit pun. Hari ini ia akan pulang dan bertemu Sabil.
Setelah salat subuh, Zaky bersiap pulang. Hubungannya dengan orang tua kini lebih harmonis. Zaky banyak bercerita tentang kesehariannya di pesantren.
Sesampainya di rumah, Zaky langsung mengabari Sabil dan mengajaknya nongkrong seperti biasa. Namun, tak ada balasan. Zaky mengingat pesan Ustaz Ilham untuk selalu husnuzan kepada sesama muslim. Mungkin saja Sabil masih tidur, karena Zaky tahu sahabatnya itu memang tukang tidur.
Sudah siang, Sabil belum juga membalas pesan. Sorenya, Zaky akhirnya mendapat notifikasi dari Sabil yang mengatakan ia tidak bisa. Zaky sedikit kecewa.
Sudah satu minggu berlalu, tapi Sabil tetap sibuk. Liburan Zaky hampir selesai, namun mereka belum bermain sama sekali. Sabil selalu sibuk dengan pacarnya.
Zaky benar-benar kecewa. Sahabatnya telah berubah drastis. Dulu mereka selalu ada satu sama lain, kini Sabil lebih mementingkan pacarnya dibanding dirinya.
***
Dua hari sebelum Zaky kembali ke pesantren, ia sedang mencari perlengkapan. Di jalan, tak sengaja ia bertemu Sabil di sebuah warkop bersama teman-temannya yang asing bagi Zaky.
Tanpa pikir panjang, Zaky menghampiri mereka. Ternyata Sabil sedang minum-minuman.
Awalnya Zaky ragu, tapi ia teringat ucapan Ustaz Ilham, “Kalau mau menghidupkan lampu, bukan di tempat yang sudah terang, melainkan di kegelapan.”
Dengan penuh keberanian, Zaky ikut duduk bersama Sabil. Ia baru tahu kalau Sabil sedang putus cinta dan mabuk dijadikannya pelampiasan. Zaky perlahan menasihati Sabil dan teman-temannya.
Zaky sampai harus merelakan waktu belanjanya. Karena sudah sore, mereka pulang masing-masing. Zaky pulang bersama Sabil karena tak ingin sahabatnya pulang sendirian dalam keadaan mabuk.
Di depan rumah Sabil, ia meminta maaf atas sikapnya selama ini. Sabil ingin mereka tetap bersama seperti dulu. Sabil pun memutuskan untuk ikut Zaky masuk pesantren.
Mendengar itu, Zaky sangat senang. Akhirnya sahabatnya perlahan sadar dan mau melangkah bersamanya.
Penulis: Ali Irsat, Siswa SMK Plus Khoiriyah Hasyim


















