Rumah yang Lebih Indah dari Dunia

33
Ilustrasi sebuah kesedihan kehilangan seorang sahabat

Langit sore itu berwarna keemasan. Udara kampung terasa begitu lembut menyapa diri, tetapi hati Nisa terasa sangat sesak. Di hadapannya, tanah merah baru saja ditaburi bunga melati yang semerbak wangi. Di bawah nisan putih itu, telah bersemayam seseorang yang selama ini menjadi cahaya hidupnya: Kak Hana, teman sekelasnya sekaligus sosok paling lembut yang pernah ia kenal.

Nisa masih belum percaya. Perempuan sebaik itu, yang selalu menolong, yang tak pernah meninggikan suara sekalipun disakiti, kini telah tiada. Hanya seminggu lalu mereka masih duduk di serambi pondok, membahas hafalan dan berbagi roti tawar tanpa pinggiran. Sekarang, yang tersisa hanya kenangan dan doa yang menggantung di bibir.

“Kenapa Allah ambil orang baik dulu, ya?” bisik Nisa pelan. “Kenapa bukan aku yang penuh dosa?”

Air matanya kembali menetes. Ia duduk di tepi makam, menggenggam tasbih yang dulu sering dipinjamkan Hana. “Kak Hana itu orang baik. Dia sabar sekali, tidak pernah marah meski disindir, meski dihakimi. Tapi kenapa Allah malah panggil Kak Hana duluan?” hatinya berteriak tanpa suara, dadanya semakin sesak.

****

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Beberapa hari berlalu. Pondok masih terasa hening tanpa tawa lembut Kak Hana. Di serambi belakang, Nisa duduk sendirian. Ia merasa sangat kehilangan arah; bahkan semangat ngajinya pun turun drastis. Hingga suatu sore, saat langit mulai jingga, Nyai Hamdanah datang menghampiri. Beliau membawa kitab kecil dan duduk di sampingnya.

“Nduk, Nisa,” suara beliau lembut. “Aku dengar kamu sering ke makam Hana. Kamu rindu dia, ya?”

Nisa menunduk. “Iya, Bu… saya belum bisa menerima ini. Orang sebaik Kak Hana kenapa harus dipanggil lebih dulu? Rasanya sangat tidak adil melihat yang sering melakukan maksiat malah hidup bahagia tanpa beban.”

Ibu Nyai Hamdanah tersenyum kecil. “Kamu tahu, Nisa, bunga yang paling harum biasanya tidak lama di taman. Karena tuan tamannya ingin meletakkannya di tempat terbaik, di ruang yang lebih indah dari dunia.”

Nisa mengerjap. Nyai Hamdanah membuka kitab kecilnya, membaca pelan ayat yang menenangkan hati:

“Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-An’am: 32)

“Orang baik, nduk, sering dipanggil lebih dulu karena Allah sudah cukup cinta. Allah tahu kalau mereka sudah menunaikan tugasnya di dunia. Terkadang Allah khawatir kalau mereka terlalu lama di dunia, dosa bisa menodai hatinya yang bersih. Maka dipulangkanlah mereka… bukan diambil.”

Ibu Nyai Hamdanah menatap ke arah langit yang mulai ungu. “Hana bukan pergi, nduk. Ia hanya pulang lebih cepat ke rumah yang abadi. Kalau kamu benar-benar mencintainya, cintailah seperti Allah mencintainya, dengan doa, bukan dengan tangisan yang menyengsarakan mereka.”

Ucapan itu membuat dada Nisa bergetar. Ia terdiam lama, lalu menatap tasbih di tangannya. Tiba-tiba ia teringat senyum Kak Hana yang dulu selalu berkata, “Kebaikan itu nggak butuh disorot, Nis. Cukup jadi saksi di hadapan Allah.”

Nisa menangis lagi, tetapi kali ini dengan senyum kecil di sela air matanya. Bukan karena kehilangan, tetapi karena mulai mengerti: bahwa kepergian orang baik bukan hukuman, melainkan anugerah dan ujian bagi yang ditinggalkan.

Beberapa minggu kemudian, Nisa kembali aktif mengaji. Ia bahkan melanjutkan amanah yang dulu dilakukan oleh Kak Hana: mengajarkan anak-anak membaca Al-Qur’an setiap sore. Dalam setiap lantunan ayat, ia merasakan kehangatan yang familiar. Seolah suara Kak Hana masih berbisik lembut, “Teruskan kebaikan itu, Nis. Jangan hanya berhenti di aku.”

Sejak itu, Nisa tidak lagi berkata, “Kak Hana sudah pergi.”

Ia menggantinya dengan kalimat yang lebih indah, “Kak Hana sudah dipulangkan oleh Allah, ke tempat yang lebih baik.”

Orang baik memang tidak benar-benar pergi. Allah hanya memanggil mereka lebih dulu karena cinta dan kasih-Nya. Mereka diselamatkan dari kerasnya dunia, dari kemungkinan dosa, dan diberi tempat di sisi-Nya yang penuh rahmat. Sedangkan kita yang ditinggalkan harus belajar ikhlas, sebab mencintai seseorang berarti juga ridha saat Allah lebih dulu merindukannya.



Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary