Bencana dalam Diri

40
Sebuah ilustrasi menghadapi bencana (sumber: youtube-bnbp)

Diam yang Kutumbuhkan
Aku mulai berhitung,
Bukan pada waktu,
Tapi pada energi yang terbuang

Untuk memahami orang-orang
Yang hanya datang ketika butuh,
Dan pergi ketika aku butuh kembali.

Aku dulu menjelaskan,
Berusaha menjelaskan,
Sampai akhirnya aku sadar,

Orang yang berniat salah paham
Tidak butuh penjelasan
Mereka hanya butuh panggung.

Sekarang aku diam,
Bukan kalah,
Bukan lelah,

Tapi memilih damai
Daripada terus dipaksa mengerti
Orang yang tidak pernah berniat mengerti.


Teman yang Tak Lagi Teman
Ada masa ketika tawa kita tulus,
Cerita kita mengalir seperti sungai.
Tak ada curiga,
Tak ada topeng.

Tapi waktu pelan-pelan menyingkap
Ada hati yang iri,
Ada mulut yang manis di depan,
Tapi pahit di belakang.

Aku belajar satu hal penting:
Tidak semua yang berjalan bersamamu

Ingin melihatmu sampai tujuan.
Beberapa hanya ingin memastikan
Kau tidak berjalan lebih cepat dari mereka.

Dan aku
Pelan-pelan belajar pergi
Tanpa harus membenci siapa pun.


Melepaskan Tanpa Ribut
Aku sudah terlalu capek
Membalas energi dengan penjelasan,
Membalas sikap dengan alasan,
Dan membalas luka dengan sabar yang dipaksa.

Sekarang aku memilih menjauh,
Bukan memutus tali,
Tapi menarik hatiku kembali.

Karena tidak semua hubungan harus dilawan
Ada yang cukup dibiarkan selesai
Tanpa salam perpisahan
Tanpa debat panjang
Tanpa penyesalan.

Kadang,
Dewasa itu bukan menahan
Tapi merelakan
Yang tidak lagi layak ditahan.



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary

 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online