
Larasati menatap naskah di depannya, sebuah biografi keluarga yang terasa terlalu “berisik” oleh pencapaian sang ayah dan kenakalan sang kakak sulung. Lembar-lembar kertas itu penuh dengan foto penghargaan, guntingan berita koran tentang jabatan Bapak, hingga catatan-catatan suram mengenai rehabilitasi Mas Galih. Namun, ada satu nama yang nyaris tak memiliki catatan kaki di sana: Hana.
Cerpen Terkait:
Memoar yang Belum Usai
Jasa yang Tak Terucap
Sebagai penulis, Larasati tahu bahwa dalam setiap buku keluarga, anak tengah seringkali hanya menjadi tanda koma—penghubung yang dianggap ada namun jarang dimaknai kehadirannya. Hana seolah hanya menjadi latar belakang yang buram dalam sebuah foto keluarga yang megah. Larasati mengusap pinggiran kertas yang tajam, merasakan ironi dari sebuah keluarga yang tampak sempurna di luar namun meninggalkan satu jiwa tertinggal di dalam kesunyian.
”Hana itu anak yang paling mandiri,” ujar klien Larasati singkat, seolah itu adalah pujian tertinggi. Larasati tersenyum tipis, pena di tangannya bergerak lincah, namun pikirannya melesat mundur ke sebuah memori yang menyesakkan. Mandiri, bagi Larasati, seringkali hanyalah kata halus untuk seseorang yang dipaksa dewasa sebelum waktunya karena tidak ada tangan yang mengulur untuk membantunya. Baginya, mandiri adalah bentuk pertahanan diri yang paling menyedihkan.
***
Hana ingat betul bau keringat Bapak dan aroma jamu yang melekat di baju Ibu. Saat itu, mereka belum punya apa-apa. Mereka hidup di sepetak ruang kontrakan dengan atap yang sering bocor saat musim hujan tiba. Suara rintik hujan yang jatuh ke ember plastik adalah musik latar masa kecil mereka. Hana kecil dan Mas Galih, si sulung, sering berbagi satu telur dadar untuk berdua. Hana menjadi saksi hidup betapa kerasnya orang tua mereka membangun karir dari nol. Di mata Hana, mereka adalah tim kecil yang solid. Susah dipikul bersama, senang dinanti bersama. Dulu, meski miskin, Hana merasa pusat dunianya Bapak dan Ibu.
Hingga kemudian, roda itu berputar ke atas. Sangat tinggi. Bapak menjadi pejabat yang disegani, dan Ibu memiliki bisnis yang berkembang pesat. Namun, tepat di puncak kejayaan itu, sebuah kabar datang: Ibu hamil lagi. Kehadiran si Bungsu, seorang adik laki-laki, tiba-tiba menggeser poros dunia Hana. Kasih sayang yang dulu ia nikmati bersama Mas Galih, tiba-tiba hilang karena orang tua mereka fokus mengurus adik bayi yang baru lahir. Hana kehilangan statusnya sebagai “anak kecil” di rumah itu, tapi ia juga tak pernah benar-benar dianggap “dewasa” seperti Mas Galih. Ia terjepit di tengah, seperti sebuah halaman yang terselip di tengah buku tebal, yang orang seringkali lupa membacanya. Ia ada di sana, tapi keberadaannya tidak pernah mengubah alur cerita.
***
”Apakah Hana pernah mengeluh?” tanya Larasati pada kliennya, matanya menatap tajam mencari celah di balik wajah bangga wanita di depannya.
Larasati ingin tahu, adakah satu kali saja orang tuanya melihat air mata yang disembunyikan Hana di balik tumpukan tugas sekolahnya.
“Tidak pernah. Itulah hebatnya. Saat Mas Galih mulai berulah, Hana justru yang paling tenang,” jawab si klien bangga.
“Dia seperti batu karang, Mbak. Tetap diam meski dihantam ombak.”
Larasati terdiam. Ia tahu “ketenangan” itu bukan berarti tidak ada badai. Terkadang, laut yang paling tenang adalah laut yang paling mematikan bagi siapa pun yang tenggelam di dalamnya. Atau mungkin, batu karang itu sebenarnya sudah retak di banyak ssi, hanya saja tak ada yang cukup peduli untuk melihatnya lebih dekat.
***
Di rumah besar mereka yang baru, perhatian orang tua seolah terbagi habis. Separuh untuk si Bungsu yang sedang lucu-lucunya dan membutuhkan perhatian ekstra, dan separuh lagi untuk Mas Galih yang mulai kehilangan arah karena merasa tertekan oleh ekspektasi tinggi Bapak. Hana hanya bisa menonton dari balik pintu kamar saat Bapak pulang dengan wajah merah padam, menyeret Mas Galih yang baru saja tertangkap tawuran. Suara pintu dibanting dan makian Bapak mengguncang dinding-dinding rumah yang dingin. Bau alkohol tercium hingga ke ruang tengah, menandakan bahwa si sulung sedang mencoba melarikan diri dari kenyataan. Ibu menangis histeris, meratapi kelakuan putra sulungnya yang mulai kecanduan minuman keras. Setiap malam, rumah itu hanya berisi dua kutub: tangis bayi di satu sisi, dan bentakan Bapak pada Mas Galih di sisi lain.
Hana? Ia duduk di meja makan sendirian, mengerjakan tugas sekolahnya dalam diam. Piringnya berisi makanan yang sudah dingin, dan tak ada yang menyadari bahwa ia belum makan malam. Ia tidak berani membuat masalah karena ia tahu orang tuanya sudah kewalahan. Tapi ia juga tidak punya ruang untuk berprestasi, karena pencapaiannya selalu dianggap “sudah seharusnya”. Hana menjadi anak yang transparan. Ia ada, ia membantu menyuapi adiknya saat ibu kelelahan menangis, ia membantu membersihkan bekas muntahan kakaknya sebelum Bapak melihatnya dan marah lagi. Tapi tak ada yang pernah bertanya, “Hana, bagaimana harimu? Hana, apa kau juga merasa lelah?”
Hana belajar satu hal pahit: di rumah ini, perhatian adalah komoditas yang hanya diberikan kepada mereka yang paling lemah atau mereka yang paling bermasalah. Jika kau ingin diperhatikan, kau harus hancur terlebih dahulu. Dan hana memilih untuk tetap utuh, meski hatinya perlahan mengeras.
***
Larasati menutup buku catatannya. Suara gesekan kertasnya terdengar nyaring di tengah ruangan yang mendadak sepi. Ia menatap kliennya dengan tatapan dalam.
”Ibu,” suara Larasati tenang namun tegas.
“Dalam ilmu komunikasi, pesan yang paling kuat terkadang adalah pesan yang tidak disampaikan. Dan dalam sebuah keluarga, suara yang paling penting adalah suara yang paling sering dibungkam oleh kesunyian.”
“Maksud Mbak Laras?” klien itu tampak bingung.
“Anak yang paling tidak merepotkan biasanya adalah anak yang paling banyak menyimpan luka. Hana tidak diam karena ia tidak punya masalah. Ia diam karena ia merasa tidak ada lagi ruang baginya untuk bersuara. Dia merasa jika dia bicara pun, suaranya akan kalah oleh tangis adiknya atau teriakan kakaknya.”
Sore itu, di bawah langit yang mulai jingga, Larasati memutuskan untuk memberikan porsi lebih banyak bagi tokoh Hana dalam memoar yang sedang ia susun. Ia ingin dunia tahu bahwa menjadi penengah di antara badai adalah pekerjaan paling melelahkan. Ia ingin menceritakan tentang Hana yang selalu mematikan lampu ruang tengah setelah semua orang tidur, tentang Hana yang selalu memastikan pintu terkunci, dan tentang Hana yang selalu menelan mimpinya sendiri agar rumahnya tidak semakin berisik.
Sebab, bagi Larasati, setiap “anak tengah” berhak untuk berhenti sejenak, meletakkan bebannya, dan sesekali menjadi pusat perhatian—meski hanya dalam sebuah bab di buku cerita. Sore itu Larasati menuliskan sebuah judul baru untuk bab tentang Hana: “Tiang yang Tak Terlihat”.
Penulis: Anik Wulansari
Editor: Rara Zarary


















