Memoar yang Belum Usai

36
Ilustrasi perempuan yang sedang menulis (ilustrasi: ai/ra)

Nama profesional saya adalah Larasati. Pekerjaan saya adalah mendengarkan, lalu menuliskan. Sebagai seorang ghostwriter spesialis memoar, saya telah masuk ke puluhan ruang tamu, menyesap ratusan cangkir teh, dan menjahit ribuan luka orang lain menjadi sebuah buku yang rapi. Tugas saya adalah menjadi bayangan bayangan; meminjamkan jemari saya agar orang lain bisa tampak bijaksana di atas kertas putih. Saya harus bisa membedakan mana tangis yang tulus dan mana narasi yang sengaja dikarang untuk menutupi kesalahan masa lalu.

Namun, di balik nama Larasati yang tenang dan kacamata bingkai hitam yang memberi kesan intelektual, ada identitas yang saya simpan rapat-rapat: Cahya. Si bungsu yang dulu pernah bersumpah akan mengubah arah angin keluarganya saat semua orang menganggapnya hanya sebagai pelengkap yang tak berdaya.

Sore itu, saya duduk di sebuah teras rumah tua yang asri, menghadapi seorang klien baru. Aroma melati dari kebun samping menusuk hidung, membawa ingatan saya melompat jauh ke belakang. Pikiran saya justru terbang ke sepuluh tahun lalu, ke ruang tamu rumah kami sendiri yang catnya mulai mengelupas seperti kulit yang terbakar matahari.

***

Tahun 2016 adalah tahun di mana “kerajaan” kecil Bapak runtuh. Sebagai anak bungsu yang baru masuk SMA, saya melihat transformasi itu dengan mata kepala sendiri. Bapak yang dulu dikenal sebagai sosok yang tangguh dengan relasi yang luas, tiba-tiba menjadi pria pendiam yang lebih banyak menatap kekosongan di halaman belakang. Tangannya yang dulu terbiasa menjabat banyak orang, kini sering gemetar saat memegang cangkir kopi dingin. Ibu, yang terbiasa mengelola keuangan dengan longgar, mulai mencatat setiap butir telur yang dibeli di pasar dengan raut wajah yang selalu diliputi kecemasan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kami tidak lagi dipandang. Tetangga yang dulu sering bertamu untuk meminjam modal atau sekadar mencicipi masakan Ibu, kini seolah mendadak amnesia saat berpapasan di jalan. Pintu pagar rumah kami yang biasanya terbuka lebar, mendadak terasa setinggi tembok penjara.

“Aku ingin kuliah, Bu. Aku ingin kita tidak diremehkan lagi,” ucapku suatu malam dibawah temaram lampu ruang tengah yang sengaja dikecilkan untuk menghemat listrik.

Ibu hanya mengusap rambutku, matanya berkaca-kaca. Beliau tahu, untuk makan sehari-hari saja kami sudah harus memutar otak.

“Sabar ya, Cah. Ibu doakan jalannya ketemu,” bisiknya, namun suaranya terdengar seperti permohonan yang putus asa.

Saya menoleh pada Mas Kurniawan, kakak sulung saya. Dia sudah berumah tangga, hidup dengan dunianya sendiri yang mapan. Baginya, tugasnya di rumah ini sudah selesai saat ia membiayai dirinya sendiri dulu. Dia datang hanya saat hari raya, membawa tawa yang terasa berjarak, tanpa pernah bertanya apakah uang sekolahku sudah lunas. Lalu ada Mbak Dewi, yang sudah bekerja di kota. Dia sering pulang membawa tentengan tas belanjaan bermerek, menceritakan hiruk-pikuk gaya hidup perkotaan yang gemerlap, tapi anehnya, matanya seolah buta pada tagihan SPP-ku yang menunggak tiga bulan.

Tak ada inisiatif. Tak ada diskusi di meja makan mengenai bagaimana si bungsu ini akan melanjutkan hidup. Di mata mereka, saya tetaplah “Cahya si Bungsu”, tanggung jawab Bapak yang sudah lelah dan Ibu yang tak berdaya. Mereka lupa bahwa si bungsu ini juga punya mimpi untuk menaikkan kembali derajat keluarga yang sedang di titik nadir. Saya merasa seperti paragraf tambahan di sebuah buku yang sudah selesai ditulis.

***

Alur hidup saya pun dimulai dari kemarahan yang saya ubah menjadi bahan bakar. Saya tidak merengek. Saya mulai mencari celah. Di sela waktu sekolah, saya menjadi buruh ketik tugas teman-teman, saya mencari beasiswa dengan gigih, hingga akhirnya saya menemukan jalan melalui tulisan. Setiap huruf yang saya ketik adalah doa, dan setiap honor kecil yang saya terima adalah bata yang saya susun untuk membangun kembali harga diri yang runtuh. Saya sadar, satu-satunya cara agar suara anak bungsu didengar adalah dengan menjadi orang yang memegang pena. Karena dunia hanya akan mendengarkan mereka yang mampu menuliskan keberhasilannya sendiri.

​”Mbak Larasati? Kok melamun?” suara klien saya membuyarkan lamunan.

Ibu di depan saya ini sedang bercerita tentang anak-anaknya yang berkonflik soal harta. Matanya yang sayu mengingatkan saya pada Ibu sepuluh tahun lalu, namun konteksnya berbeda. Ia tidak tahu bahwa orang di depannya ini sedang menahan sesak, merasa gema dari luka yang belum sepenuhnya kering.

“Maaf, Bu. Saya hanya teringat sesuatu,” jawab saya lembut, lalu kembali mencatat.

Jemari saya menari di atas kertas, mengubah keluh kesahnya menjadi kalimat-kalimat yang berwibawa. Kini, saya bukan lagi Cahya yang malang. Saya adalah Larasati, pribadi sukses yang berhasil menata kembali ekonomi keluarganya. Melunasi hutang-hutang lama Bapak dan merenovasi rumah agar Ibu bisa kembali tersenyum di terasnya yang kini catnya berkilau baru. Mas Kurniawan dan Mbak Dewi kini melihat saya dengan tatapan yang berbeda—ada rasa hormat, mungkin juga sedikit rasa sungkan saat mereka ingin meminta bantuan finansial atau sekadar meminta nasihat.

Namun, pekerjaan ini menyadarkan saya pada satu hal: kisah setiap anak dalam keluarga selalu punya sudut pandang yang berbeda. Mas Kurniawan mungkin merasa sudah cukup berkorban di masa mudanya saat membantu Bapak di masa jaya, dan Mbak Dewi mungkin sedang berjuang dengan ketakutannya sendiri akan kemiskinan sehingga ia begitu posesif pada barang-barang bermereknya.

Tugas saya sekarang adalah membantu orang lain menuliskan kebenaran mereka, sembari terus menulis bab-bab baru dalam hidup saya. Bahwa menjadi anak bungsu bukan berarti menjadi yang terakhir dalam keberhasilan. Kadang, anak bungsulah yang dikirim Tuhan untuk menjadi “Cahaya” penutup saat senja mulai menggelapkan rumah mereka. Saya menuliskan banyak memoar untuk orang lain, namun memoar saya sendiri masih terus berjalan, ditulis dengan tinta syukur dan kertas kesabaran.



Penulis: Anik Wulansari
Editor: Rara Zarary