Jasa yang Tak Terucap

35
Seorang tokoh dalam cerita, Larasati

Larasati baru saja menutup laptopnya setelah tiga jam berkutat dengan draft memoar seorang pengusaha sukses, ketika pintu kantornya diketuk pelan. Linda menemui Larasati sore itu, ketika mendung menggantung rendah di langit kota. Menciptakan suasana temaram yang entah mengapa terasa selaras dengan raut wajah tamu yang duduk di hadapannya. Dia ingin Larasati menuliskan sebuah surat panjang—sebuah wasiat emosional—untuk adiknya yang sedang menempuh pendidikan di pesantren.

Baca sebelumnya: Memoar yang Belum Usai 

​”Nanti saja dia tahu kebenarannya, Mbak. Kalau sekarang, biarlah dia menikmati rasa bangganya dulu tanpa harus merasa berhutang budi,” ucap Linda lirih.

Suaranya tenang, namun ada kelelahan yang amat dalam di matanya, jenis kelelahan yang tidak bisa hilang hanya dengan tidur semalam dua malam.  Larasati mulai mencatat, dan perlahan, mesin waktu di kepala Linda mulai berputar balik, membawa mereka ke masa di mana pengorbanan dimulai tanpa pernah meminta tanda terima.

​***

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tahun-tahun itu adalah masa yang gelap. Saat teman-teman sebaya Linda sibuk memilih baju untuk acara kelulusan SMA dan meributkan kampus mana yang paling keren untuk dikunjungi,  Linda justru sibuk menghitung sisa beras di karung yang kian menipis. Kebangkrutan orang tua mereka menyisakan lubang besar yang harus segera ditutup, dan sebagai anak tertua, Linda merasa lubang itu adalah tanggung jawabnya.

​Linda menatap ijazah SMA-nya yang masih berbau tinta baru, lalu menatap Nia, adiknya yang masih kecil, yang sedang asyik mengaji dengan suara cempreng namun merdu.

​”Pak, Bu, Linda tidak usah kuliah,” putusnya malam itu di bawah sorot lampu neon yang berkedip-kedip. Suaranya mantap meski hatinya hancur berkeping-keping karena ia tahu mimpinya baru saja mati.

“Linda kerja di pabrik saja. Biar Nia bisa lanjut sekolah di pesantren yang bagus. Linda ingin Nia punya ilmu agama yang benar, supaya keluarga kita dihormati orang lagi. Nggak apa-apa Linda yang banting tulang, asalkan Nia nanti bisa jadi orang sukses.”

***

Sejak hari itu, masa muda Linda habis di antara bising mesin pabrik dan lembur yang tak berkesudahan. Kulit tangannya yang dulu halus kini mulai kasar dan pecah-pecah karena zat kimia dan gesekan logam.  Setiap rupiah yang ia hasilkan, langsung ia serahkan kepada Ibunya.

“Katakan ini kiriman dari Bapak,” pinta Linda selalu.

Ia sengaja menghapus jejaknya sendiri. Ia tidak ingin adiknya merasa terbebani oleh hutang budi padanya. Ia ingin Nia fokus belajar dengan kepala tegak, tanpa merasa kasihan pada kakaknya yang berpeluh di lini produksi.

​***

“Lalu, bagaimana hubungan Mbak dengan Nia sekarang?” tanya Larasati hati-hati. Pena di tangannya menggantung sejenak di atas kertas.

​Linda tersenyum getir, sebuah senyuman yang lebih menyakitkan daripada tangisan.

“Dia malu punya kakak seperti saya, Mbak. Ilmu yang ia pelajari rupanya belum sampai ke hati untuk melihat siapa yang membangunkan jembatan untuk masa depannya.”

​***

​Nia pulang dari pesantren saat liburan semester. Ia kini tumbuh menjadi gadis remaja yang cerdas, dengan jilbab lebar dan tutur kata yang (seharusnya) santun. Namun, sikapnya pada Linda sangat dingin, seolah-olah Linda adalah noda di tengah kesucian jubah yang ia kenakan.

“Mbak Linda nggak malu apa? Hari gini cuma lulusan SMA dan kerjanya kasar begitu,” ujar Nia ketus. Ia menggeser piringnya menjauh, seolah merasa terganggu dengan bau debu pabrik yang masih menempel di pakaian kakaknya.

“Lihat kakaknya teman-temanku di pondok, semuanya sarjana, bisa jadi panutan. Kalau Mbak, apa yang bisa aku banggakan? Malu aku kalau ditanya teman-teman, kakakku kerjanya apa.”

​Ibu dan Bapak hanya terdiam, menunduk dalam. Ada getaran hebat di bahu Bapak, dan Ibu meremas ujung daster lusuhnya di bawah meja. Mereka ingin bicara, ingin berteriak bahwa setiap butir nasi yang Nia makan, setiap lembar kitab kuning yang ia baca, hingga biaya listrik yang menyalakan lampu belajarnya adalah hasil keringat Linda yang rela berhenti sekolah. Namun, janji pada Linda untuk merahasiakan semua itu membuat lisan mereka terkunci seperti gembok yang sudah berkarat.

​Linda hanya tersenyum tipis sambil terus mencuci piring. Suara denting piring beradu dengan air menyamarkan rasa sesak yang menghantam dadanya. Ia menerima cacian adiknya sebagai bayaran atas masa depan Nia yang cerah. Baginya, tak apa dianggap tak berilmu, asalkan adiknya menjadi orang berilmu. Ia sedang menanam pohon yang buahnya tidak akan pernah ia cicipi sendiri.

​***

Larasati berhenti menulis. Ia menatap Linda dengan rasa hormat yang membuncah. Kasus ini mengingatkan Larasati pada dirinya sendiri saat menjadi “Cahya”—tentang bagaimana keluarga seringkali memiliki pahlawan tanpa tanda jasa yang justru dianggap musuh oleh orang yang ia selamatkan. Namun, ada perbedaan besar: Cahya berjuang supaya kemampuannya diakui, sedangkan Linda rela menghapus mimpinya sendiri demi kebahagiaan orang lain.

​”Mbak Linda,” ujar Larasati lembut, suaranya kini terdengar seperti pelukan bagi jiwa Linda yang terluka.

“Menuliskan ini adalah langkah yang benar. Tapi ingat, kebenaran juga punya waktunya sendiri untuk terungkap. Pesantren mengajarkan tentang adab, dan suatu hari Nia akan sadar bahwa adab tertingginya seharusnya diberikan kepada kakak yang menjadi jembatan bagi pendidikannya. Ilmu tanpa adab adalah kesia-siaan, dan Nia hanya butuh sedikit waktu untuk benar-benar ‘melek’ secara batin.”

Sore itu, di kantor kecilnya yang mulai riuh dengan suara azan Magrib dari kejauhan, Larasati berjanji dalam hati. Ia tidak akan membiarkan pengorbanan Linda terkubur begitu saja. Ia akan menyusun setiap kata dalam surat panjang ini bukan sekadar sebagai laporan masa lalu, melainkan sebagai sebuah wasiat emosional yang sangat mendalam.

Larasati ingin memastikan bahwa suatu saat nanti, ketika Nia membaca lembar demi lembar tulisan ini, ia tidak hanya melihat tinta di atas kertas, tetapi juga merasakan tetesan keringat dan cinta tulus seorang kakak yang rela menjadi pijakan agar adiknya bisa mencapai langit. Melalui tulisan ini, Larasati berharap Nia akan tersadar dan mengerti, bahwa pahlawan sesungguhnya dalam hidupnya adalah orang yang selama ini paling sering diremehkan.



Penulis: Anik Wulansari
Editor: Rara Zarary