Remaja Santri

37
Ilustrasi santri dan aktivitasnya

Remaja Santri
Lantainya kering anginnya mesra
sore itu di pesantren
debu tembok
memenuhi sudut ruang berterbangan

senada dengan harapan besarnya
sandalnya menipis
seiring warnanya memudar

langkahnya kecil tetapi mimpinya besar tidak tua
pun juga bukan balita

derap kaki berdesak saling adu cepat
tak bertopi tapi berpeci
tak bercelana tapi bersarung
putih, barangkali seputih kafannya kelak

langitnya cerah, matahari berpulang perlahan
mereka bergelar “remaja”
berdahaga dan haus ilmu


Indahnya Syahidmu
Kala itu…
tidak panas tetapi hangat
tawanya lepas gemuruhnya terdengar bahagia
sesekali saling dorong tetapi bukan dengan bibir menyudut

ataupun mata memerah
sudut matanya menyipit
bibirnya senyum merekah giginya berunjuk manis
bagai pohon beringin akar kemesraan tertancap kuat

dahan rantingnya berjibaku meneduhkan
tangannya saling dorong
tetapi telapaknya saling bergandengan
pun hatinya bertaut

percikan air dilubang kran itu bergantian
menjadi kambing hitam atas kebahagian mereka
setiap perciknya adalah saksi dan amunisi bahagia
masih dengan irama yang sama

dan nikmatnya basuhan mensucikan
setiap tubuh yang teraliri
sehangat itu riuh tawa

saat mereka ingin berjumpa dengan Tuhannya
basuhan wudhunya telah selesai



Penulis: Amalia Dwi Rahmah
Editor: Rara Zarary

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online