
Remaja Santri
Lantainya kering anginnya mesra
sore itu di pesantren
debu tembok
memenuhi sudut ruang berterbangan
senada dengan harapan besarnya
sandalnya menipis
seiring warnanya memudar
langkahnya kecil tetapi mimpinya besar tidak tua
pun juga bukan balita
derap kaki berdesak saling adu cepat
tak bertopi tapi berpeci
tak bercelana tapi bersarung
putih, barangkali seputih kafannya kelak
langitnya cerah, matahari berpulang perlahan
mereka bergelar “remaja”
berdahaga dan haus ilmu
Indahnya Syahidmu
Kala itu…
tidak panas tetapi hangat
tawanya lepas gemuruhnya terdengar bahagia
sesekali saling dorong tetapi bukan dengan bibir menyudut
ataupun mata memerah
sudut matanya menyipit
bibirnya senyum merekah giginya berunjuk manis
bagai pohon beringin akar kemesraan tertancap kuat
dahan rantingnya berjibaku meneduhkan
tangannya saling dorong
tetapi telapaknya saling bergandengan
pun hatinya bertaut
percikan air dilubang kran itu bergantian
menjadi kambing hitam atas kebahagian mereka
setiap perciknya adalah saksi dan amunisi bahagia
masih dengan irama yang sama
dan nikmatnya basuhan mensucikan
setiap tubuh yang teraliri
sehangat itu riuh tawa
saat mereka ingin berjumpa dengan Tuhannya
basuhan wudhunya telah selesai
Penulis: Amalia Dwi Rahmah
Editor: Rara Zarary


















