Puisi-puisi Robi’ah Machtumah Malayati

47
Ilustrasi perempuan dan puisi-puisinya (sumber: ai/ra)

Penantian

bulan sabit 3 Muharram cantik sekali. mirip ro’. begitu tipis. setipis perasaan. di batas rasa. di batas asa. bulan sabit 3 Dzulqo’dah diam-diam mengabarkan, bahwa purnama adalah sebuah keniscayaan. bersabarlah.

Harapan

bulan 10 Muharram malam ini sedikit merah, sayang. mirip syair yang ditembangkan kanjeng sunan. tapi kita tidak perlu bermain di pelataran. cukup bercerita saja. tentang nabi-nabi, yang terbebas dari ikan paus, yang selamat dari lalapan api, yang selamat dari kejaran Firaun. Juga, pertemuan Adam dan Hawa. seperti kata pujangga, tiada duka yang abadi. pun, tiada suka yang terus terpatri. maka, yakinlah, sayang. setiap azam tidak selamanya terbenam. setiap harap akan terungkap. setiap desir mimpi akan terurai-terburai lantas terangkai menjadi semi.

Perawan

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

akan ada cerita satu rembulan banyak bintang. tepatnya malam 11 Rabiul Awal. tidak mendung. pun cerah. sudah masanya ketika perawan berbunga. banyak bintang bertebaran terbentang. ketika bintang menyaksikan bulan menyembul-nyembul. tertawa geli mengikik. ternyata bukan, bintang bukan waktunya mendekat. berjarak. tapi tetap menyimak. tentang bulan yang bergoyang-goyang. tentang bulan yang berjingkat-jingkat. atau tentang bulan yang bergelayut pada awan serupa selaput. manja sekali. tapi, nanti. iya, nanti. pada putarannya, akan bersanding. ketika kalimat kun fayakun menggelinding.

Kebelet

bulan sabit 4 Rabiul Awwal kebat-kebit. tiada sabar menjadi besar. belum. belum. ini belum purnama. jangan kau curiga. bahwa Pencipta sedang bermain dusta. jangan menyalak, mengira nasib cuma belagak. jangan cemburu, mengira takdir ragu-ragu. tidak. dia hanya sedang menunggu. pada masanya, akan membundar berpendar-pendar. saat itu bukan hanya senyummu yang melebar, tapi setiap penciptaan akan bersorai-sorai semebyar.

Bermain-main

bulan padang jingglang. ini purnama. ayo nyanyi bareng-bareng gendingan, mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane. ada yang jinjit-jinjit beringsut. diam-diam ada yang ikut. menepi dari sorai pelataran. menyingkir dari ramai kerumuman. di balik titian, sembunyi. gemeluduk-gemeluduk suaranya. krusek-krusek desahannya. tenggelam di antara gelak tawa. atau, tidak ada yang mengalahkan nikmatnya. tapi hanya sesaat. ketika keluar. satu gembira, satu nelangsa. rupanya sekedar bermain-main belaka.

Sajak Ar-Rum 21

bulan, entah setebal nun atau setipis ro’. suatu waktu keduanya akan terdhommahkan. berkumpul. menjadi nur.  bercahaya. saat itulah nun, nisa’ serupa bahtera nuh yang siap mengarungi samudera. ro’, rijal memuja rembulan yang indah menentramkan hati. melesat sendiri, kemudian terdhommahkan, berkumpul kembali. menari-nari. melesat kesana kemari. ada kala purnama, ada kala menganga, ada kala menepi. Itulah bulan, entah setebal nun atau setipis ro’. suatu waktu keduanya akan terdhommahkan. berkumpul. menjadi nur. bercahaya. ayat-ayat ilahi robbi.



Penulis: Robi’ah Machtumah Malayati, penulis novel Rahasia Diary Pegon dan Opera Osirella, tinggal di Jombang Jawa Timur