Ramadan Terakhir di Rumah Itu

50

Bagi Angga, rumah bukan hanya sekedar bangunan. Di rumah itulah dia tumbuh, belajar mengaji, bermain dan mengenal arti menungu waktu berbuka puasa dengan sabar. Raka sangat merasakan bahwa Ramadan tahun ini berbeda. Ada sesuatu yang membuat dadanya berat, meski ia sendiri ragu untuk mengakuinya.

Langit sore mulai memerah di ujung kampung nan asri. suara adzan mulai menggema dari masjid-masjid. Di rumah kayu bercat hijau yang sudah mulai pudar itu, aroma kolak pisang ubi buatan ibu, juga bakwan memenuhi ruang tamu. Rumah itu memang tidak besar, tidak ada meja makan juga tapi selalu terasa hangat kala Ramadan tiba.

Ibunya masih sibuk berkutat masakan di dapur, mengaduk kolak di panci yang sudah sedikit penyok. Sementara ayahnya duduk di kursi dekat jendela, memandangi senja sambil memegang tasbih yang hampir setiap malam selalu menemani zikirnya setelah sholat tarawih.

“Angga, tolong ambilkan mangkok di lemari,” kata ibu dari dapur

“Iya, bu,” jawab Angga.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ia berdiri, membuka lemari kayu yang engselnya sering berderit. Di dalam lemari itu tersusun rapi piring-piring yang sebagian sudah retak halus. Piring-piring itu sudah ada sejak ia kecil.

Ketika adzan selesai berkumandang, mereka bertiga duduk di lantai beralaskan tikar pandan yang dianyam sendiri oleh ibunya. Ayah mengambil sebutir kurma dan berkata seperti biasanya, “bismillah”…

Tradisi sederhana keluarga mereka tidak pernah berubah. Kurma dan segelas air putih lalu sholat maghrib berjamaah di ruang sholat. Setelah itu barulah makan bersama.

Namun, malam itu Angga melihaat ada sesuatu yang berbeda dari ayahnya. Ayah tampak lebih banyak diam dan termenung. Sesekali menatap dinding rumah yang mulai kusam seperti sedang mengingat sesuatu.

Angga ingin bertanya, tetapi ia lapar. Ia berniat setelah makan nanti Angga akan memberanikan diri untuk bertanya.

“Ayah… rumah ini nanti tetap kita tempati, kan?” tanya angga dengan raut wajah yang nampak sedih.

Ayah tersenyum kecil, tapi malam itu senyumnya terasa berat.

“Kamu sudah dengar dari ibu?”

Angga menunduk, “sedikit…”

***

Beberapa hari sebelumnya, tanpa sengaja Angga mendengar percakapan orang tuanya. Ayah mengalami kesulitan dalam pekerjaannya. Hutang yang menumpuk membuat mereka harus menjual rumah itu.

Rumah yang selama ini menjadi tempat pulang. Rumah yang menyimpan semua kenangan.

“Rumah itu hanya tempat, nak…” kata ayah perlahan, “yang penting keluarga kita tetap utuh dan tetap bersama.”

Angga hanya menunduk saja. Tidak berani menatap ayah. Meskipun ayah sudah menjelaskan, tetapi tetap saja hatinya belum sepenuhnya menerima.

Malam itu Angga tidur dengan perasaan yang campur aduk.

***

Hari-hari Ramadan terasa lebih cepat berlalu. Setiap sudut rumag terasa lebih berarti. Angga memperhatikan hal-hal kecil yang dulu tak pernaah ia pikirkan; suara pintu kayu berderit, bau tanah setelah hujan di halaman rumah, bahkan retakan kecil di tembok dapur.

Seolah-olah semua itu sedang berpamitan.

Pada malam ke 27 Ramadan, Listrik sempat padam. Rumah itu hanya di terangi cahaya lilin.

Aneh, tapi suasananya justru terasa hangat.

Mereka duduk bertiga di ruang tamu. Berbincang sambil sekalian menungu sahur. Ayah bercerita tentang masa mudanya, tentang perjuangan hidup yang dulu juga tidak mudaah

“Kamu tau?” kata ayah, memulai cerita, “dulu ayah juga pernaah kehilangan rumah.

“Serius, yah?” Angga terkejut.

Ayah mengangguk, “waktu kecil, rumah kakek terbakar. Dan kami harus memulai semuanya dari nol lagi.”

“Lalu?” Angga semakin penasaran. Ayah tersenyum.

“Dari sanalah ayah bisa belajar satu hal. Bahwa sebenarnya rumah itu bukan sekedar tembok  atau atap, tetapi orang-orang di dalamnya.”

Angga menatap ayah dan ibunya. Untuk pertama kalinya sejak mendengar kabar rumah itu akan di jual, hatinya terasa lebih ringan.

Angga mulai bisa menerima semuanya. Benar memang bahwa ini adalah Ramadan yang teraknir di rumah itu.

Tetapi satu hal yang pasti. Menurutnya, selama ayah dan ibunya masih ada, selama mereka masih bisa duduk bersama saat berbuka dan tertawa di meja makan, rumah sebenarnya tidak pernaah benar-benar hilang.

Rumah itu hanya berpindaah tempat; ke dalam hati mereka.



Penulis: Nabila Rahayu

Editor: Rara Zarary