
Untuk Ibu yang Selalu Ada di Ramadan
Ramadan selalu datang membawa bau dapur yang sama, Ibu.
Aroma bawang yang digoreng perlahan, suara sendok yang beradu dengan panci, dan langkah kakimu yang ringan di lantai rumah yang dulu terasa hangat.
Kini dapur itu masih ada, tetapi tidak lagi sama.
Aku berdiri di tempat yang dulu kau isi dengan sabar.
Menata kurma di piring kecil, menunggu adzan magrib seperti yang selalu kau lakukan.
Kadang aku ingin memanggilmu seperti dulu.
“Ibu, kolaknya sudah jadi?”
Tapi yang menjawab hanya sunyi.
Aku baru mengerti sekarang,
betapa Ramadan tidak hanya tentang menahan lapar dan dahaga,
tetapi juga tentang menahan rindu yang tidak bisa pulang.
Dulu aku sering melihatmu duduk sebentar menjelang adzan,
mengangkat tanganmu pelan,
berdoa dengan mata yang basah tapi tenang.
Saat itu aku tidak pernah bertanya apa yang kau minta pada Tuhan.
Sekarang aku tahu mungkin salah satunya adalah aku.
Ibu,
di setiap Ramadan yang datang tanpa suaramu,
aku belajar satu hal yang dulu tidak pernah kupahami
bahwa kasih seorang ibu tidak pernah benar-benar pergi.
Ia tinggal di dapur yang masih hangat,
di doa yang masih kuucapkan,
dan di rindu yang selalu pulang setiap adzan magrib.
Doa Ibu untuk Janin
Anakku,
Ramadan ini terasa berbeda sejak aku tahu kamu ada di dalam tubuhku.
Saat aku bangun sahur dalam kantuk yang berat,
aku merasakan kamu diam di dalam rahimku,
seperti bintang kecil yang Tuhan titipkan dalam gelap.
Aku sering berbicara padamu dalam hati.
Mungkin kamu belum bisa mendengar,
atau mungkin kamu sudah mengerti lebih dari yang aku kira.
Anakku,
jika kelak kamu lahir dan membaca dunia dengan matamu sendiri,
ketahuilah bahwa sebelum kamu melihat langit pertama kali,
aku sudah mendoakanmu di banyak malam Ramadan.
Di antara rakaat yang panjang,
aku menyebutmu dengan nama yang bahkan belum aku pilih.
Aku meminta kepada Tuhan
agar hidupmu tidak harus selalu mudah,
tetapi semoga hatimu selalu kuat.
Agar kamu tidak selalu terhindar dari luka,
tetapi semoga kamu selalu tahu cara bangkit setelahnya.
Jika suatu hari kamu merasa sendirian,
ingatlah bahwa bahkan sebelum kamu lahir,
kamu sudah dicintai lebih dulu.
Dan di Ramadan ini,
ketika aku menahan lapar dan haus,
aku belajar satu hal
bahwa menjadi ibu
adalah tentang menyiapkan hati
untuk mencintai seseorang yang belum pernah kita temui.
Rumah Kecil di Bulan Ramadan
Ramadan di rumah kecil kita selalu sederhana.
Tidak ada meja panjang penuh hidangan,
tidak ada lampu yang terlalu terang.
Hanya ada suara anak-anak yang bertanya,
“Masih lama azannya?”
Ada panci yang mendidih pelan di dapur,
dan kamu yang duduk di ruang depan,
membaca Al-Qur’an dengan suara yang tenang.
Kadang aku berdiri di pintu dapur memandang kalian.
Suamiku yang lelah sepulang kerja,
anak-anak yang masih belajar mengerti arti puasa.
Dan saat itu aku sadar,
bahwa kebahagiaan sering kali tidak datang dengan cara yang ramai.
Ia datang diam-diam.
Dalam nasi hangat yang kita makan bersama.
Dalam tawa anak-anak ketika kurma jatuh dari tangan mereka.
Dalam doa yang kita ucapkan sebelum tidur.
Aku tidak pernah meminta rumah besar,
atau kehidupan yang mewah.
Aku hanya meminta kepada Tuhan
agar rumah kecil ini tetap penuh suara kalian.
Agar anak-anak tumbuh dengan hati yang lembut.
Agar kamu selalu pulang ke rumah yang sama.
Dan agar setiap Ramadan yang datang
selalu menemukan kita
masih duduk bersama di meja yang sederhana ini.
Karena bagi seorang perempuan yang menjadi istri dan ibu,
surga sering kali bukan tempat yang jauh.
Ia ada di rumah kecil
yang di dalamnya
kita saling menjaga.
Penulis: Ummu Masrurah


















