Anak Kecil yang Menyelamatkan Senja

32
Anak laki-laki yang bekerja keras di pinggir jembatan

Langit sore itu seperti menahan sesuatu. Abu-abu, menggantung rendah, seolah tahu isi kepala Arga sedang tidak baik-baik saja.

Langkahnya berat menyusuri jalan pulang. Sepatu yang ia pakai sudah kusam, sama kusamnya dengan hari-hari yang ia jalani belakangan ini. Di kepalanya masih berputar kata-kata yang terlalu sering ia dengar di rumah.

“Percuma kamu sekolah tinggi kalau tetap saja tidak berguna.”

“Lihat anak orang lain! Sudah bisa bantu orang tua. Kamu apa?”

“Jangan jadi beban di rumah ini.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kalimat-kalimat itu tidak pernah diucapkan sekali saja. Ia datang setiap hari, seperti hujan yang tidak pernah berhenti turun.

Arga sebenarnya tidak pernah berniat menjadi beban. Ia hanya seorang anak lelaki yang kebetulan lahir di keluarga yang penuh tuntutan. Ayahnya sakit-sakitan. Ibunya lelah dengan keadaan. Dan entah sejak kapan, semua harapan itu ditaruh di pundaknya.

Pundak yang bahkan belum benar-benar kuat.

Ia mencoba menjadi baik. Belajar keras. Menghemat uang. Menahan diri untuk tidak mengeluh. Tapi semakin ia berusaha, semakin terasa bahwa semua itu tidak pernah cukup.

Selalu kurang.

Selalu salah.

Hari ini cacian itu datang lagi. Lebih keras dari biasanya. Lebih dalam menusuk.

Ketika Arga keluar dari rumah, tidak ada tujuan jelas. Ia hanya berjalan. Jalan terus. Sampai langkahnya membawanya ke jembatan kecil di ujung jalan kampung.

Air sungai di bawahnya mengalir pelan.

Arga berdiri di sana cukup lama.

Angin sore meniup rambutnya. Ia menatap air yang berwarna coklat keruh itu, lalu memejamkan mata.

“Capek…”

Kata itu keluar dari bibirnya pelan sekali.

Ia membayangkan betapa tenangnya jika semua ini berhenti. Tidak ada lagi suara yang menyalahkan. Tidak ada lagi tuntutan. Tidak ada lagi perasaan gagal yang terus menghantuinya.

Di kepalanya hanya ada satu pikiran sederhana: berhenti saja.

Tepat saat ia hendak melangkah lebih dekat ke pembatas jembatan, sebuah suara kecil terdengar dari belakang.

“Mas… semir sepatu?”

Arga menoleh.

Seorang anak laki-laki duduk di trotoar tak jauh dari jembatan. Di depannya ada kotak kayu kecil, kaleng semir, dan sikat yang sudah agak rusak.

Anak itu tersenyum.

Tubuhnya kurus. Rambutnya acak-acakan. Salah satu kakinya terlihat tidak sempurna, sedikit mengecil dan membuatnya duduk dengan posisi miring.

Arga diam beberapa detik.

“Sepatunya kusam, Mas. Tak semirin? Lima ribu aja.”

Arga menatap sepatu yang ia pakai.

Memang kusam.

Ia berjalan mendekat tanpa banyak bicara, lalu duduk di bangku kecil di depan anak itu.

Anak itu bekerja dengan cekatan. Mengoleskan semir, lalu menggosok sepatu Arga dengan serius seperti sedang mengerjakan sesuatu yang sangat penting.

Beberapa menit berlalu dalam diam.

Arga akhirnya bertanya, pelan.

“Kamu sendirian di sini?”

Anak itu mengangguk sambil tetap menyikat sepatu.

“Iya.”

“Orang tua?”

“Di rumah.”

“Kamu yang cari uang?”

Anak itu tersenyum kecil.

“Iya. Buat bantu ibu.”

Arga memperhatikan wajahnya lebih dekat. Anak itu masih sangat kecil. Mungkin sepuluh tahun.

“Capek?” tanya Arga tanpa sadar.

Anak itu berhenti menyikat sebentar. Lalu mengangkat wajahnya.

“Capek sih, Mas.”

Arga menatapnya lama.

“Terus kenapa masih lakukan?”

Anak itu mengangkat bahu, lalu tersenyum lagi. Senyum yang anehnya terasa tulus.

“Kalau aku berhenti, ibu makan apa?”

Jawaban itu sederhana.

Tapi seperti palu yang menghantam sesuatu di dalam dada Arga.

Anak itu kembali menyikat sepatu dengan hati-hati.

“Mas kelihatan sedih,” katanya tiba-tiba.

Arga kaget.

“Kelihatan ya?”

Anak itu mengangguk.

“Iya. Dari tadi mukanya kayak orang yang kehilangan sesuatu.”

Arga tertawa kecil. Tawa yang pahit.

“Mungkin aku memang kehilangan.”

“Apa?”

Arga terdiam.

Lalu berkata pelan, hampir seperti berbisik.

“Semangat hidup.”

Anak itu berhenti lagi.

Ia menatap Arga dengan ekspresi bingung, tapi juga serius.

“Kenapa?”

Arga tidak tahu kenapa ia menjawab jujur kepada anak asing ini.

“Mungkin karena aku merasa semua yang aku lakukan salah. Selalu dimarahi. Selalu dianggap beban.”

Anak itu tidak langsung menjawab.

Ia menyelesaikan semiran sepatu kanan, lalu berpindah ke kiri.

Setelah beberapa saat, ia berkata pelan.

“Mas… boleh aku tanya?”

“Apa?”

“Mas masih punya dua kaki yang bisa jalan?”

Arga mengangguk bingung.

“Iya.”

“Mas masih bisa lihat langit?”

“Iya.”

“Mas masih bisa pulang ke rumah?”

Pertanyaan itu membuat Arga berhenti bernapas sejenak.

“Iya…”

Anak itu mengangguk kecil.

“Berarti Mas masih punya banyak hal.”

Arga menatapnya.

“Tapi rasanya berat sekali.”

Anak itu tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar.

“Aku juga capek, Mas. Kakiku sakit kalau duduk lama. Kadang orang marah kalau aku nawarin semir.”

Ia mengangkat sikat kecilnya.

“Tapi kalau aku berhenti, hidupku juga berhenti.”

Arga merasa dadanya seperti dipelintir.

Anak itu menatap Arga lurus-lurus.

“Kalau Mas berhenti sekarang, Mas nggak akan pernah tahu… mungkin besok hidup Mas berubah.”

Angin sore tiba-tiba terasa lebih dingin.

Air sungai di bawah jembatan masih mengalir, tapi sekarang Arga melihatnya berbeda.

Anak itu berdiri sedikit tertatih, lalu menepuk sepatu Arga.

“Sudah, Mas. Mengkilap.”

Arga menunduk melihat sepatunya.

Benar.

Mengkilap.

Entah kenapa matanya terasa panas.

Ia mengeluarkan uang dari saku. Bukan lima ribu, tapi jauh lebih banyak.

Anak itu kaget.

“Kebanyakan, Mas!”

Arga menggeleng.

“Enggak.”

Ia berdiri.

Lalu untuk pertama kalinya hari itu, menarik napas panjang.

“Aku hampir berhenti tadi.”

Anak itu mengerutkan dahi.

“Maksudnya?”

Arga menatap jembatan di belakangnya.

Lalu kembali melihat anak itu.

“Tapi kamu bikin aku ingat sesuatu.”

“Apa?”

Arga tersenyum tipis. Senyum yang sudah lama tidak muncul.

“Bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling berat bebannya.”

Ia berhenti sejenak.

“…tapi siapa yang masih mau berdiri meski bebannya berat.”

Anak itu tersenyum lebar.

Arga berbalik, berjalan meninggalkan jembatan.

Langkahnya masih berat.

Masalahnya belum hilang.

Cacian di rumah mungkin masih akan ia dengar.

Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arga tidak ingin berhenti lagi.

Karena di suatu sudut jalan, seorang anak dengan kaki yang tidak sempurna baru saja mengajarinya sesuatu yang sangat sederhana—

bahwa hidup, sekecil apa pun harapan yang tersisa, masih layak diperjuangkan.

Langkah Arga perlahan menjauh dari jembatan. Jalan yang sama yang tadi terasa gelap sekarang terasa sedikit lebih panjang, namun tidak lagi menakutkan.

Ia berjalan beberapa meter, lalu tanpa sadar menoleh ke belakang.

Anak penyemir sepatu itu masih di sana, duduk kembali di bangku kecilnya. Ia sedang merapikan sikat dan kaleng semirnya, seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan pekerjaan biasa.

Bagi anak itu, mungkin pertemuan tadi hanyalah satu pelanggan di antara puluhan pelanggan lain.

Tapi bagi Arga, percakapan itu seperti membuka pintu yang hampir ia tutup selamanya.

Ia berhenti berjalan.

Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.

Arga kembali melangkah mendekati anak itu.

“Mas?” anak itu menoleh bingung ketika Arga kembali.

Arga berdiri beberapa detik tanpa bicara.

“Kamu setiap hari di sini?”

Anak itu mengangguk.

“Iya. Dari sore sampai magrib biasanya.”

Arga mengangguk pelan.

Lalu tiba-tiba bertanya, “Namamu siapa?”

“Rafi,” jawab anak itu cepat.

“Arga.”

Rafi tersenyum lagi, seolah mereka baru saja resmi menjadi kenalan.

Arga menatap kaki Rafi yang tidak sempurna itu. Ada bekas luka lama di betisnya.

“Dari lahir?” tanya Arga hati-hati.

Rafi menggeleng.

“Dulu kecelakaan motor sama bapak. Bapak meninggal.”

Kalimat itu diucapkan begitu sederhana, tanpa dramatisasi.

Justru kesederhanaannya membuat dada Arga terasa semakin sesak.

“Terus… kamu nggak pernah marah sama hidup?”

Rafi mengerutkan dahi, seperti sedang berpikir keras.

“Marah?”

“Iya. Karena hidup terasa tidak adil.”

Rafi tertawa kecil.

“Kadang sih.”

“Terus?”

Anak itu menatap langit yang mulai berubah jingga.

“Ibu bilang, kalau marah terus sama hidup, kita cuma capek sendiri.”

Arga terdiam.

“Ibu juga bilang,” lanjut Rafi pelan, “Allah nggak pernah kasih hidup yang sia-sia.”

Angin sore bertiup lebih kencang.

Kalimat itu sederhana, tapi terasa seperti mengetuk sesuatu yang lama terkunci di hati Arga.

Ia tiba-tiba teringat satu hal yang hampir ia lakukan beberapa menit yang lalu di jembatan itu.

Tangannya sedikit gemetar.

“Rafi.”

“Iya, Mas?”

Arga menatapnya serius.

“Tadi… kalau kamu nggak manggil aku…”

Ia berhenti sebentar.

“…mungkin aku sudah tidak ada.”

Rafi terlihat bingung.

“Tidak ada gimana?”

Arga menoleh ke arah jembatan.

Anak itu mengikuti arah pandangannya.

Beberapa detik berlalu. Lalu wajah Rafi berubah pelan-pelan, seperti mulai mengerti.

Ia tidak berkata apa-apa.

Tidak memarahi.

Tidak panik.

Rafi hanya berkata pelan.

“Untung aku manggil, ya.”

Kalimat itu sederhana sekali.

Tapi Arga tiba-tiba tertawa kecil, diikuti air mata yang akhirnya jatuh.

Bukan tangisan keras.

Hanya air mata yang diam-diam keluar setelah terlalu lama ditahan.

Rafi terlihat sedikit canggung.

“Mas jangan nangis… nanti orang-orang kira aku yang bikin.”

Arga mengusap wajahnya sambil tertawa pelan.

“Enggak. Justru kamu yang nyelamatin.”

Rafi menggaruk kepalanya yang berdebu.

“Padahal aku cuma nawarin semir sepatu.”

Arga menatap sepatu yang kini mengkilap di kakinya.

Lalu berkata pelan,

“Kadang hidup berubah… bukan karena hal besar.”

Ia menatap Rafi.

“Tapi karena seseorang yang datang di waktu yang tepat.”

Azan magrib mulai terdengar dari kejauhan.

Suara itu mengalun pelan di antara jalanan yang mulai sepi.

Rafi segera merapikan kotaknya.

“Mas, aku pulang dulu. Ibu pasti sudah nunggu buat buka puasa.”

Arga mengangguk.

Rafi berdiri, sedikit tertatih, lalu memanggul kotak semirnya.

Sebelum pergi, ia menoleh lagi.

“Mas Arga.”

“Iya?”

Rafi tersenyum lebar.

“Besok kalau sepatu Mas kusam lagi, datang ke sini ya.”

Arga tersenyum.

“Kamu yakin cuma sepatu yang kusam?”

Rafi tertawa kecil.

“Kalau hati kusam juga boleh.”

Anak itu lalu berjalan perlahan menjauh.

Arga berdiri cukup lama di tempat itu.

Langit kini berubah menjadi oranye gelap.

Suara azan semakin jelas.

Ia menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, napas itu terasa penuh.

Hidupnya belum berubah.

Masalahnya masih ada.

Rumahnya mungkin masih penuh kata-kata yang melukai.

Tapi hari ini, Arga belajar satu hal yang tidak pernah ia pahami sebelumnya—

bahwa selama seseorang masih berjalan pulang, selama ia masih memilih untuk bertahan, selama ia masih mau mencoba satu hari lagi…

maka hidup belum selesai.

Dan kadang, alasan seseorang untuk tetap hidup bisa datang dari tempat yang paling tidak terduga

seorang anak kecil di pinggir jalan, dengan kotak semir sepatu, dan senyum yang jauh lebih kuat daripada keputusasaan.



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary