Pesta Kecil untuk Hati yang Retak

37
Ilustrasi hati patah (sumber: pngtree)

Belajar Menjadi
aku pernah menunggu
seperti sebuah jendala yang tak pernah ditutup
berharap akan ada yang mengetuk

tapi malam mengajariku
bahwa tidak semua sunyi perlu ditemani

dan aku pun merapikan rindu itu sendirian
menyapu sisa-sia harapan
yang dulu kamu tinggalkan tanpa pamit

sekarang aku duduk
bersama sepi yang dulu kutakuti
ternyata ia tidak sejahat itu

ia hanya jujur
dan tidak menjanjikan banyak hal
tidak juga pergi tanpa sebab

dan untuk pertama kalinya
aku tidak menunggu siapa-siapa lagi

aku pun pulang..
pada diriku sendiri
lagi…


Pesta Kecil untuk Hati yang Retak
hari ini aku merayakan sesuatu
yang dulu paling aku hindari:
kesendirian

aku menyalakan lilin
bukan untuk mengenangmu
tapi untuk menerangi bagian diriku
yang sempat hilang saat mencintaimu

aku tertawa pelan
diantara luka yang belum sepenuhnya sembuh

karena akhirnya aku mengerti
tidak semua kehilangan harus ditangisi
sebagian, cukup dirayakan
sebagai bukti bahwa aku bisa bertahan

aku adalah tamu
di pesta yang aku buat sendiri

dan anehnya,
aku tidak merasa sepi lagi.


Sunyi yang Kini Kupanggil Tenang
dulu aku takut malam
karena ia terlalu banyak menyebut namamu

sekarang aku memeluknya
seperti sahabat lama yang pulang

sunyi tidak lagi menggigit
ia hanya duduk di sampingku
mendengarkan tanpa menghakimi

aku tidak lagi mengejar langkah yang menjauh
tidak lagi menambal hati yang tak lagi utuh

aku biarkan semua pergi
seperti daun yang jatuh tanpa permisi

dan aku tetap di sini
tumbuh, meski pelan

kalau dulu aku kehilanganmu
hari ini aku menemukan sesuatu yang kembali utuh
diriku…
yang akhirnya tidak lagi bergantung pada siapa-siapa
untuk menutupi kesunyian hati yang hampa.



Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online