Pesantrenku Bisa Bicara #3

54
Ilustrasi santri di pesantren

Ranting
Wan, kenapa ya setiap hari diterjang tanda tanya
Aku capek Wan, ingin sesekali ada titik yang sudah berbusana
Tapi tak kunjung mendapati itu semua
Apa aku belum cukup sempurna?

Huh, mana yang harus disempurnakan?
Jangan bilang PRET sebelum kau menyaksikan
Katanya, katanya, katanya masih bolong sana sini, typo sana sini
Emang kesempurnaan yang lagi trending itu yang bagaimana, Awan Sehati?

Tidakkah mereka melihat kesempurnaan itu dari seluruh pasukan yang berjuang?
Tidakkah mereka melihat kesempurnaan itu dari runyamnya perhatian?
Tidakkah mereka melihat kesempurnaan itu dari hitungan keringat yang tertelan?
Tidakkah mereka melihat kesempurnaan itu dari bagaimana kaki ini berdiri ketika berkali-kali dihantam tongkat kekejaman?

Sepertinya mereka perlu belajar BAHASA INDONESIA
Biar tau subjek, predikat, objek, dan keterangan telah mengakui kesempurnaan yang selama ini mereka beda
Hal sesederhana ini kenapa harus didusta
Piagamnya saja ada


Banting
Woi di mana anak-anak kami!
Woi di mana kau sembunyikan anak-anak kami!
Woi di mana anak-anak kami!
Di mana anak-anak kami!

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Jerit berdusun darah menggelegar di depan istana
Yang hilang dijadikan sandera
Yang ada dijadikan mangsa
Kurang pintar apa kau ini, Racun Dunia?

Kondisi apes tak kunjung reda
Tapi foyamu masih berjalan di atas roda
Apakah perlu lalu lintas depan kami silangkan
Jangan kau pikir pergerakan seseorang dalam kebenaran hanya berlaku ketika mereka ada di tempat formal

Pesantrenku bisa bicara!
Di mana pun tau tentang kelicikan, di situlah ia mengayunkan bibirnya
Jangan lupa setiap kakinya telah diberi teka-teki
Jangan lupa di setiap tangannya telah disinggahi belati


Genting
Pesantrenku  bisa bicara
Tapi ia tak membawa bencana
Apalah kau tak menyusun harga
Itu bukan tentang seberapa, tapi lihatlah parau yang disingkirkannya

Jika kau bicara perihal harga
Selayaknya saja
Tak perlu bawa-bawa ranjang sebagai metafora
La wong pesantren berdiri juga pakai tenaga

Ada sejuta ketulusan yang dibayar keikhlasan
Itu seharusnya cukup untuk menjadi contoh bahwa harga itu tak perlu diminta
Kenapa dijadikan propaganda
Satu saja tak sudi kau baca

Tunggu, sandalmu terbuat dari apa?
Besok ganti ya
Tak sopan pergi ke sana pakai daun huru-hara
Setidaknya, kau pakai daun kelapa

Baca Juga:

Pesantrenku Bisa Bicara
Pesantrenku Bisa Bicara #2



Penulis: Azizah Bounty
Editor: Rara Zarary