
Sebagai manusia yang hidup dalam dunia yang fana, setiap detik membawa kita pada kepastian bahwa apapun yang kita cintai, baik itu harta hingga orang terdekat, akan lenyap. Konsep kefanaan ini telah diatur dengan indah dalam firman Allah melalui surat yang disesuaikan berdasarkan salah satu sifat agung-Nya, Ar-Rahman. Dari berbagai deskripsi nikmat dan kepastian akan kehancuran, al-Quran menyampaikan pengumuman yang menenangkan sekaligus menjadi perenungan mendalam. Ayat tersebut adalah QS. Ar-Rahman [55]: 27 berikut:
وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِۚ ٢٧
Artinya: “(Akan tetapi,) wajah (zat) Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.”
Banyak pertanyaan yang timbul dari ayat ini, seperti apakah Allah memiliki ‘wajah’ seperti makhluk?. Lalu bagaimana pendapat ulama dalam memaknai wajah Allah dalam konteks sifat. Sepanjang sejarah Islam, terutama pada masa kehidupan Imam al-Qurtubi (abad ke-7 H/ke-13 M), muncul kelompok yang secara harfiah menafsirkan ayat-ayat sifat (sifat khabariyah), yang berpotensi menjerumuskan umat pada pemahaman antropomorfisme atau tajsim (menggambarkan Allah berwujud fisik).
Sebagai umat Islam, tentu kita harus paham mengenai prinsip dasar akidah Islam bahwa Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan, yang tidak serupa dengan makhluk apapun. Jadi, konsep wajah ketika disandarkan kepada Allah harus dimaknai sesuai keagungan-Nya, bukan wajah dalam arti fisik seperti makhluk.
Meluruskan Akidah: Prinsip Tanzih dan Metode Ta’wil
Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut para ulama memberikan penjelasan mendalam bagaimana makna ‘wajah Allah’ agar kita tidak terjerumus pada kesalahan dalam memaknainya. Tafsir al-Qurtubi menjadi salah satu tafsir yang otoritatif dalam menjelaskan istilah tersebut. Pendekatan utama yang digunakan al-Qurtubi dan sebagian ulama Ahlussunnah wal Jama’ah adalah tanzih yaitu menyucikan Allah dari segala kekurangan dan keserupaan dengan makhluk. Karena tidak mungkin bagi Allah Yang Maha Agung memiliki tubuh yang terikat dengan ruang dan waktu, maka lafaz ‘Wajh’ harus dipahami secara non-harfiah.
Al-Qurtubi menjelaskan bahwa kalimat wajhu rabbika dalam Q.S. Ar-Rahman ayat 27 tidaklah mengarah pada anggota tubuh, melainkan keberadaan dan Dzat-Nya yang Maha Suci. Penjelasan ini diselaraskan oleh al-Qurtubi dengan syair yang artinya “Ia telah menetapkan kematian atas makhluk-Nya. Maka segala sesuatu selain-Nya pasti binasa.”
Selain itu, al-Qurtubi juga mengaitkan ayat ini dengan Q.S. Al-Baqarah ayat 115 yang artinya Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah Wajah Allah. Dalam ayat ini, disajikan beberapa pendapat ulama seperti Ibn Furak, Abu al-Ma’ali al-Juwayni, dan Ibn ‘Abbas ra. yang menafsirkan ‘wajah’ dengan Dzat Allah dan pendapat ini dengan tegas dibenarkan. Dengan demikian, wajhullah menurut penafsiran al-Qurtubi bukan dalam wujud fisik, melainkan ungkapan yang menunjukkan kemurnian tauhid dan keabadian Allah.
Lalu Mengapa Disebut Wajah?
Bahasa Arab kaya dengan gaya bahasa. Kata ‘wajah’ sering digunakan untuk menunjukkan bagian yang paling mulia dan tampak dari suatu hal, sehingga ia menjadi simbol eksistensi dan identitas. Akan tetapi, kembali kepada pernyataan sebelumnya, bahwa wajah yang kita gunakan dalam kehidupan ini berbeda dengan ‘Wajah’ Allah.
Para ulama juga ada yang mengatakan bahwa wajhullah adalah arah peribadatan dan kedekatan seorang hamba kepada Allah. Wajah juga bermakna segala amal yang dilakukan dengan ikhlas hanya karena-Nya, yang mana sejalan dengan Q.S. Al-An’am [6]: 52 yang artinya “Apapun yang kamu lakukan hendaklah karena mencari wajah Allah.” artinya di sini mencari ridha dan kedekatan dengan-Nya.
Begitulah penafsiran wajhullah dalam tafsir al-Qurtubi yang menjadi jembatan bagi kita ketika memahami makna Wajah Allah. Dua pelajaran penting yang bisa diambil dari pembahasan ayat ini adalah:
Pertama, keteguhan tauhid. bahwa Allah tidak dapat disamakan dengan makhluk atau apapun itu. Semua akan lenyap, dan hanya Allah yang abadi. Keyakinan ini harus selalu dijaga dan menjauhkan diri dari membayangkan Alah dalam bentuk apapun, serta mengingay bahwa kekuasaan dan keberadaan-Nya mutlak.
Kedua, arah hidup sejati, karena semua yang fana akan sirna, fokus kita seharusnya diarahkan pada wajah yang kekal. Artinya setiap napas, langkah, dan amal kita hanya ditujukan untuk mengharap ridha (Wajah) Allah semata.
Semoga kita menjadi hamba yang mengarahkan segala kebaikan kita hanya untuk mencari Wajhullah, memahami bahwa yang abadi hanyalah Dia semata.
Baca Juga: Bagaimana Syiah, Sunni, dan Mu’tazilah Menafsirkan Sifat Allah dalam Al-Quran?
Penulis: Ines Febrianti
Editor: Muh. Sutan


















