sumber foto: detik.com

Oleh: Dimas Setyawan*

Pada era yang akan memasuki 5.0 ini dan segera meninggalkan era 4.0 memberikan bonus demografis yang sangat signifikan pada perkembangan arus teknologi dan informasi. Sederet ratusan bahkan ribuan kanal media mendampingi kehidupan masyarakat dalam menjalani kesehariannya, hingga kelekatan ini memiliki fungsi bagai pisau bermata dua; positif dan negatif.

Pesatnya perkembangan informasi ini disikapi sangat positif oleh salah satu instansi pendidikan di Indonesia yakni, pesantren. Sebagai instansi pendidikan agama tertua khususnya di Indonesia, pesantren selalu mampu mengimbangi perkembangan zaman. Kultur pendidikannya dapat mengimbangi perkembangan yang kian berubah-ubah dari satu masa ke masa lainnya.

Bila kita melihat peranan dan pendidikan pesantren pra-kemerdekaan Indonesia melakukan banyak gerakan membantu kemerdekaan kala itu, maka pasca-kemerdekaan, pesantren selalu berusaha mengisi nilai-nilai kemerdekaan tersebut dengan segala macam. Seperti mendirikan jaringan informasi yang dapat diakses tidak hanya oleh santri, tetapi oleh masyakarat secara luas.

Pesantren Tebuireng adalah salah satunya. Pesantren yang dirikan oleh Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pada 122 tahun silam, selalu mengisi nilai-nilai kepesantrenan dari masa ke masa. Bahkan di masa pandemi yang tak kunjung reda hingga hari ini, Pesantren Tebuireng melakukan edukasi kesehatan dan vaksinasi melalui salah satu platform media sosialnya yakni melalui akun YouTube Tebuireng Official.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dengan platform YouTube Tebuireng Official, Santri Pesantren Tebuireng menggelar acara  podcast pada Kamis (12/8) bersama Jurnalis Sahabat Anak (JSA) yang juga dimeriahkan oleh infeluncer Jombang, Sharla Martiza (the winner of the voice kids Indonesia 2017).

Pada kesempatan podcast tersebut menjadi sebuah ajang bagi santri Pesantren Tebuireng untuk mengajak masyarakat luas agar selalu mentaati protokol kesehatan, 5M dan ajakan untuk melaksanakan vaksinasi.

Selain mengajak mentaati 5M dan vaksinasi, salah satu pengurus pesantren mengisahkan bagaimana Pesantren Tebuireng menerapkan prokes di pesantren, seperti menjalani karantina beberapa hari terhadap santri ketika baru datang dari rumah, mengurangi kegiatan yang mengudang kerumunan dan menjaga pola hidup yang baik.

Hal ini di lakukan oleh pihak Pesantren Tebuireng untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yang tak kunjung reda, yang semoga ikhtiyar ini diterima dan diikuti oleh masyarakat.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari.

SebelumnyaCukuplah Kematian Menjadi Pengingat
BerikutnyaRahasia Besar di Balik Bacaan Istighfar