Pesantren Riyadlul Banin, Jejak Geliat Nyantri di Mojogeneng Mojowarno

1194
Hj. Mahsunah, ibunda pendiri Pondok Pesantren Riyadhul Banin Mojogeneng Mojowarno menaiki tangga hendak menunjukkan pesantren peninggalan almarhum putranya.

Oleh: Robiah*

Pondok Pesantren Riyadlul Banin Mojogeneng Gedangan Mojowarno Jombang dulu menjadi tempat santri belajar kitab kuning. Sudah banyak santri yang lulus mempelajari kitab kuning, lantas mempraktekkannya baik dalam keseharian atau diajarkan pada masyarakat. Sayangnya, ketika Ustadz Dlomirin, pengasuh pesantren tersebut berpulang ke rahmatullah, Riyadlul Banin berangsur-angsur ditinggalkan santrinya. Saat ini (2017) bersisa 5 orang santri kalong saja, itu pun hanya belajar mengaji Al Quran.

Ketika memasuki Dusun Mojogeneng Desa Gedangan Mojowarno Jombang kita tidak akan tahu kalau dulu ada sebuah pesantren, tempat santri belajar Al Quran dan kitab kuning. Bahkan ketika sampai di rumah pengasuh pesantren tersebut kita hanya menjumpai bangunan rumah sebagaimana hunian lain yang ada di dusun itu. Akan tetapi, ketika masuk lebih dalam, maka akan terlihat sebuah pesantren yang diberi nama Pondok Pesantren Riyadlul Banin.

Pondok tersebut tidak cukup luas, hanya sekitar 3×6 meter persegi. Ketika memasukinya harus menaiki empat tangga. Sebab, pondok tersebut berbentuk panggrok atau panggung. Bangunannya khas dan klasik. Berdinding gedek, berlantai dan berpagar bambu. Di dalamnya hanya ada satu bilik saja yang digunakan untuk shalat berjamaah dan mengaji. Ada dua rak yang digantung sebagai tempat Al Quran dan kitab. Selain itu, sebuah mikrofon disediakan sebagai pengeras ketika mengaji.

Pondok Pesantren Riyadlul Banin didirikan 15 tahun lalu, sekitar tahun 2002, usai Ustadz Dlomirin muda merampungkan pendidikannya di Pondok Pesantren Lirboyo selama 7 tahun. Sebelumnya, ia nyantri di Pesantren Tebuireng selama 6 tahun.

Hj. Mahsunah, ibunda Ustadz Dlomirin menuturkan, dulu putranya itu pamit untuk menghafal Kitab Alfiyah ke Pesantren Lirboyo agar bisa diajarkan. Dan sepanjang nyantri, Ustadz Dlomirin muda kerap riyaadhah mulai dari berjalan kaki ketika awal berangkat nyantri ke Pesantren Lirboyo, hingga tidak makan nasi, akan tetapi makan jagung.

Ustadz Dhomirin termasuk pribadi yang sederhana. Menurut penuturan Hj Mahsunah, salah satu wujud kesederhanaannya adalah bangunan pondok pesantren yang berdinding gedhek, yang sekalipun tidak direnovasi menjadi gedhong. “Saya pernah menawarkan untuk direnovasi dan ditembok, dia (Ustadz Dlomirin, red) tetap tidak mau. Masjid saja sudah banyak di-gedhong, masak pondoknya tetap gedhek. Bahkan, sampai ia wafat, ada santrinya yang di-impeni (dimimpikan, red) agar bangunannya tetap dibiarkan seperti sedia kala,” kenang wanita 75 tahun itu. Alhasil, bangunan pondok tetap berdinding sesek dan berlantai bambu.

  SANTRI MENIKAHI PELACUR, Silahkan !!

Untuk itu, pondok tersebut hanya diperkokoh saja dengan mengganti pondasinya menggunakan lumpang. “Warga dengan sukarela menyerahkan lumpang sebagai pondasi atau kaki penyangga, agar bisa kokoh berdiri dan tidak ambruk ketika santri naik-turun pondok,” ungkap wanita tamatan Madrasah Muallimat Pondok Pesantren Walisongo Cukir yang kala itu diasuh Kiai Adlan Aly tersebut.

Di awal, Pondok Pesantren Riyadhul Banin mendidik sampai 40 santri putra dan putri. Santri-santri tersebut berasal dari desa sekitar, seperti Menganto, Gedangan, Berjo, Gondek dan beberapa desa lain. Santri putri tidur di rumah pengasuh, sedangkan santri putra di pondok panggung tersebut. Pengajian kitab dilaksanakan secara sorogan dan bandongan setiap bakda subuh dan maghrib. Diantara mereka ada yang sampai mumpuni membaca kitab kuning untuk diajarkan.

Sayangnya, Ustadz Dlomirin tidak berusia panjang. Ia berpulang ke rahmatullah dikarenakan sakit dengan meninggalkan seorang istri dan seorang putra. Usai kepergian Ustadz Dhomirin, Pondok Pesantren Riyadlul Banin sempat vakum tanpa satupun aktivitas pengajian. Hingga, akhirnya perawatan dan pengajian diteruskan oleh kakak iparnya, dengan mengajar ngaji Al Quran.

“Tidak ada yang bisa meneruskan. Kitab-kitabnya (Ustadz Dlomirin, red) tersimpan di kamarnya, masih rapi. Sekarang santrinya ada 5, hanya mengaji al-Quran dan istikamah rutin jamaah maghrib,” tuturnya.

Menurut Hj. Mahsunah, sekarang ini tidak mudah mengajak anak muda untuk belajar agama. Alih-alih kitab kuning, istikamah membaca Al Quran saja juga sudah sangat jarang. “Anak jaman sekarang susah. Pamitnya ngaji, tapi mampirnya ke tempat lain. Ya, ada 5 santri kalong saja sekarang ini. Semoga walaupun santrinya sedikit bisa menjadi jariyah,” ungkapnya.

Meski tidak mendapat dukungan dari manapun, Hj. Mahsunah dan menantunya bertekad untuk merawat dan tetap membuka pengajian Al Quran bagi siapa saja yang ingin mengaji di Pondok Riyadhul Banin tersebut. Tanpa pamrih, niat baik putranya adalah inspirasi baginya meneruskan bangunan gedhek itu tetap menjadi tempat mencari ilmu, walau terus dimakan usia, dan kalah saing dengan pesantren-pesantren lain yang beranjak berkembang.


*Penyiar senior di Radio Suara Tebuireng