Buku ‘Percakapan Menyambut Mentari’ karya SsalsabilaA. (foto: rarazarary)

“Aku berterima kasih pada Tuhan
yang mengirim waktu
yang tidak menjual harapan
sepeser pun di dalam doa hambaNya
namun menghujankannya
bersama dengan datangnya senja.” (hlm. 1)

Bait-bait itu menyiratkan betapa berterima kasih pada Tuhan sangat dibutuhkan –sayang sekali, hal ini tak jarang dilupakan- begitu juga soal berterima kasih pada diri sendiri. Kita disibukkan dengan hal-hal di luar diri, sehingga menyepelekan berbagai hal berharga yang datangnya dari dalam diri atau dari Tuhan; waktu, cinta, dan harapan, hingga pencapaian.

Pertanyaannya adalah seberapa sering kita berterima kasih pada Tuhan? Pada diri sendiri? Seberapa banyak kita mensyukuri pencapaian kita? atau kita terlalu fokus pada hasil orang lain dan lupa melihat ke dalam diri sendiri. Padahal, harusnya kita bisa merayakan apapun yang telah kita capai, sekecil apapun perayaan itu.

“Jika ini kusebut menjemput diri
lalu di mana dia selama ini?
jika ini kusebut menjenguk diri
lalu bagaimana ia selama ini?” (hlm. 29)

Di halaman 29, kita akan menemui bait di atas. Sebuah tulisan yang sedang mengilustrasikan betapa banyak dari kita ‘telah kehilangan diri sendiri’. Maka, sebelum semakin jauh berlari atau menghilang; mari kembali. Kembalilah menengok rumah terbesar, rumah terbaik yang ada dalam diri kita. rumah ternyaman yang banyak kita lupakan keberadaannya. 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sejatinya, andai kita mencintai diri, mungkin kita akan lebih banyak menghargai apapun yang menjadi proses dan hasil kita, bukan sebaliknya, kita menggantungkan harapan, mengandalkan orang, dan mengategorikan kebahagiaan versi orang lain. Itulah yang perlu kita sadari dan akui, bahwa selama kita tidak menerima diri seutuhnya, maka jangan berharap kita akan benar-benar merasakan seperti apa kebahagiaan yang sederhana itu.

Berangkat dari sebuah kekuatan, keresahan, harapan, bahkan kekecewaan, saya merasa Ssalsabilaa sedang mencoba menuangkan asam garam kehidupan melalui puisi dalam antologi yang begitu apik menyentuh emosi dan pemahaman pembaca. Dalam buku 114 halaman ini, puisi-puisinya menceritakan betapa bicara dan bercakap tak melulu soal perjumpaan, melainkan kesadaran diri dan cinta yang dahsyat dari diri hingga mampu memahami apa yang akan diungkap bahkan apa yang tak perlu dibicarakan.

“Aku menyimpan semua rindu
kepada puisi
termasuk kepada ibu
yang rela datang dua kali
dalam tujuh hari
untuk merengkuhku
merangkul pundakku.” (hlm. 75)

Baginya, menulis puisi adalah salah satu cara terbaik dalam menyampaikan gagasan, perasaan, dan apapun yang menurutnya tak perlu diungkapkan lewat percakapan panjang yang hanya akan membuang waktu, mempertanyakan percaya, dan meragukan lawan bicara. ‘Percakapan Menyambut Mentari’ hadir sebagai salah satu bukti bahwa merasakan dan mengekspresikan itu semua, bahkan dirasa sangat ampuh.

Puisi-puisi yang berusaha menyembuhkan, menyadarkan, dan menghibur ini secara tak langsung mengajak pembaca untuk tenggelam dalam kehidupan “diri”, dan sejenak berhenti membanding-bandingkan hidup dengan orang lain, termasuk bagaimana mengkonsep kebahagiaan.

“Aku adalah evakuasi
berbeda dengan pergi
tak sama dengan berlari
apalagi menghindari
aku hanya mencoba
menyelamatkan diri
semoga kau mengerti.”

Seperti juga penulis buku ini, orang lain atau mungkin kamu yang saat ini sedang membaca tulisan ini, ambillah-pilihlah langkah atau cara terbaikmu untuk mampu menyelamatkan dirimu, membuat dirimu bahagia (tanpa menyakiti orang lain), membuat dirimu menemukan kebebasan, dan tentu membuat kau selalu punya alasan untuk hidup. Kalau santri Walisongo ini memilih menulis untuk menemukan dirinya dan menyampaikan bicaranya, maka saya bisa memilih membaca buku ini untuk ikut merasakan kebesaran syukurnya yang telah menemukan diri dengan cara mencintai dan menulis. 

Begitu juga bagi anda, buku ini saya rekomendasikan. Buku yang tak perlu waktu lama untuk membacanya, tak perlu pikiran berat untuk memahaminya, dan tak perlu meninggalkan apapun atau siapapun untuk jatuh cinta pada kalimat-kalimatnya. Buku ini seperti cemilan yang begitu asyik dinikmati saat kesendirian atau bahkan di tengah keramaian, apa artinya? Buku ini sangat cocok dalam kondisi apapun. Terutama saat anda menikmati perjalanan panjang dan butuh teman. 

Judul Buku: Percakapan Menyambut Mentari
Penulis: Ssalsabilaa
Penerbit: AE Publishing
Tahun: 2022
Tebal: x+114 hlm
ISBN: 622187136325
Peresensi: Rara Zarary

SebelumnyaPimpinan Masjid Agung Sumedang ke Tebuireng, Ada Apa?
BerikutnyaAnak Investasi Dunia Akhirat, Baca 12 Tips Mempersiapkannya