
Malam itu hujan turun lebih deras daripada biasanya. Fatimah menggenggam erat sisi ranjang ketika rasa sakit pertama datang. Bukan nyeri biasa seperti selama berbulan-bulan terakhir. Ini berbeda. Rasa sakit yang datang dari kedalaman tubuh, lalu menjalar ke punggung dan pinggang seperti ombak yang memecah karang.
Ia menunduk, memejamkan mata.
“Hasan…” Suaminya yang sedang tertidur langsung bangun.
“Waktunya?” Fatimah mengangguk sambil menahan napas.
Air matanya menetes bahkan sebelum kontraksi berikutnya datang. Bukan hanya karena sakit. Tetapi karena ia tahu, setiap rasa sakit yang mendekatkannya pada kelahiran anak ini juga mendekatkannya pada perpisahan.
***
Rumah sakit kecil di kota kabupaten masih sepi ketika mereka tiba menjelang subuh. Lampu-lampu lorong menyala pucat. Bau obat dan cairan antiseptik memenuhi udara. Fatimah dibawa ke ruang bersalin. Hasan berjalan di samping ranjang dorong sambil menggenggam tangannya.
“Jangan takut.” Fatimah tersenyum tipis.
“Aku tidak takut melahirkan.” Hasan tahu apa yang dimaksud istrinya. Yang ditakuti Fatimah bukan proses melahirkan. Tetapi hari setelahnya. Hari ketika pelukan harus berubah menjadi perpisahan.
Persalinan berlangsung lama. Sangat lama. Kontraksi demi kontraksi datang seperti gelombang yang tidak memberi kesempatan bernapas. Fatimah menjerit. Tubuhnya menggigil.
Keringat membasahi seluruh wajahnya. Beberapa kali ia merasa tidak sanggup lagi. “Bu, sedikit lagi,” kata bidan. Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi seorang ibu yang sedang melahirkan, “sedikit lagi” bisa terasa seperti perjalanan sepanjang hidup.
Fatimah menangis. “Ya Allah…” Ia tidak tahu mana yang lebih sakit. Tubuhnya yang seperti terbelah. Atau hatinya yang sedang belajar melepaskan.
Setiap kali rasa nyeri datang, ia membayangkan wajah bayi yang belum pernah dilihatnya. Setiap kali kontraksi menghantam, ia bertanya dalam hati. Apakah aku cukup kuat untuk menjadi ibunya hanya tiga hari?
***
Menjelang zuhur, suara tangis bayi akhirnya memenuhi ruangan. Nyaring. Jernih. Indah. Dunia seolah berhenti sesaat. Bidan mengangkat bayi laki-laki kecil itu.
“Alhamdulillah… laki-laki.” Fatimah langsung menangis. Tangis yang berbeda dari semua tangis sebelumnya.
Tangis yang lahir dari rasa syukur, cinta, dan luka yang bercampur menjadi satu. Bayi itu kemudian diletakkan di dadanya. Hangat. Kecil. Wangi. Matanya masih terpejam. Jari-jarinya menggenggam udara seolah sedang mencari sesuatu. Fatimah memeluknya. Lama sekali.
“Anakku…” Hanya satu kata itu yang mampu keluar. Air mata mengalir tanpa henti. Hasan yang berdiri di samping ranjang ikut menangis.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Fatimah melihat suaminya menangis seperti anak kecil. Mereka berdua memandangi wajah bayi itu. Wajah yang selama berbulan-bulan hanya mereka bayangkan.
Kini benar-benar ada. Benar-benar hidup. Benar-benar menjadi bagian dari mereka. Malam harinya mereka memberi nama bayi itu. Ilham Rahmatullah. Karena seluruh perjalanan ini terasa seperti ilham yang Allah titipkan kepada hati mereka.
Nama itu diucapkan perlahan oleh Hasan di telinga anaknya.
“Namamu Ilham.” Bayi kecil itu membuka matanya sesaat. Seolah sedang mendengarkan. Fatimah kembali menangis.
***
Hari pertama berlalu. Hari kedua datang. Fatimah tidak pernah melepaskan Ilham terlalu lama. Ia menyusuinya. Mencium keningnya. Mengusap rambut halusnya. Menghafal setiap bagian wajahnya.
Bentuk hidungnya. Lengkungan alisnya. Garis bibirnya. Tanda kecil di dekat telinga kirinya. Ia menghafal semuanya seperti seseorang yang sedang menyimpan kenangan sebelum kehilangan.
Malam kedua, ketika semua orang tertidur, Fatimah duduk sendiri sambil menggendong Ilham. Lampu kamar redup. Hanya ada suara mesin infus dan napas bayi yang pelan.
“Nak…” Ia berbicara lirih.
“Aku tidak tahu apakah nanti kamu akan mengingatku.” Air mata jatuh ke pipi bayi itu.
“Tapi ketahuilah… tidak ada satu hari pun aku tidak mencintaimu.” Ilham tertidur pulas.
Tidak mengerti apa-apa. Tidak tahu bahwa perempuan yang sedang menggendongnya sedang berjuang melawan salah satu perpisahan terbesar dalam hidupnya.
Hari ketiga tiba terlalu cepat. Pagi itu langit cerah. Justru itulah yang membuat hati Fatimah semakin sesak. Seandainya hujan turun, mungkin langit bisa ikut menangis bersamanya. Kiai Soleh datang bersama putrinya.
Perempuan yang selama bertahun-tahun hanya mengenal panggilan “istri”, tetapi belum pernah mengenal panggilan “ibu”. Matanya sudah merah bahkan sebelum memasuki ruangan.
Begitu melihat Ilham, tubuhnya gemetar. Fatimah memeluk bayi itu lebih erat. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Semua orang menangis. Bahkan Hasan memilih menunduk karena tidak sanggup melihat.
Ruangan kecil itu terasa penuh oleh sesuatu yang sulit dijelaskan. Cinta. Syukur. Kehilangan. Dan pengorbanan. Semuanya bercampur menjadi satu.
***
Fatimah mencium kening Ilham. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Lalu berkali-kali. Seolah ingin meninggalkan seluruh cintanya di sana.
“Nak…” Suaranya hampir tidak terdengar.
“Maafkan Ibu.” Tubuhnya bergetar.
“Maaf kalau Ibu tidak bisa membersamaimu setiap hari.” Air mata membasahi wajah bayi itu.
“Tapi percayalah… tidak ada satu langkah pun yang Ibu ambil tanpa cinta.” Putri Kiai Soleh menangis sesenggukan.
Ia berlutut di hadapan Fatimah. “Saya tidak sanggup menerimanya kalau panjenengan belum ikhlas.” Fatimah menggeleng.
Justru karena sangat mencintainya, ia belajar ikhlas. Itulah bagian yang paling menyakitkan. Lalu tibalah momen itu. Momen yang selama berbulan-bulan mereka takutkan. Dan sekaligus mereka persiapkan. Dengan tangan gemetar, Fatimah mengangkat Ilham.
Bayi itu masih tertidur. Wajahnya tenang. Tidak tahu bahwa hidupnya sedang berpindah pelukan. Fatimah menatapnya lama sekali. Seolah ingin menghentikan waktu. Seolah ingin dunia memberi beberapa menit tambahan. Tetapi waktu tidak pernah menunggu siapa pun.
Akhirnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Ia menyerahkan Ilham. Ke pelukan perempuan yang sudah tujuh belas tahun menunggu keajaiban. Begitu bayi itu berpindah tangan, Fatimah merasa ada sesuatu yang ikut tercabut dari dadanya.
Ia langsung menangis keras. Tangis yang selama ini ditahannya. Tangis seorang ibu. Tangis yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Hasan memeluknya. Sementara di hadapan mereka, putri Kiai Soleh memeluk Ilham sambil menangis tak terkendali.
“Ibu…” Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengucapkan kata itu sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Aku ibu…” Kalimat itu membuat seluruh ruangan kembali pecah dalam tangis.
Sebelum pulang, Fatimah mendekati Ilham untuk terakhir kalinya hari itu. Ia mencium keningnya sekali lagi. Lalu berbisik.
“Kalau suatu hari kamu bertanya siapa yang melahirkanmu, jangan marah pada takdir.” Air matanya jatuh perlahan.
“Karena sejak sebelum kamu lahir, Allah sudah menyiapkan dua perempuan untuk mencintaimu.” Ia tersenyum meski wajahnya basah oleh tangis.
“Satu yang melahirkanmu.” Ia mengusap pipi Ilham.
“Dan satu lagi yang membesarkanmu.” Ketika mereka meninggalkan rumah sakit, pelukan Fatimah terasa kosong.
Tangannya ringan. Terlalu ringan. Namun di dalam kekosongan itu, ada ketenangan yang perlahan tumbuh. Ia kehilangan seorang anak dari pelukannya. Tetapi pada saat yang sama, ia telah menghadiahkan dunia bagi seorang perempuan yang bertahun-tahun hidup dalam penantian.
Malam itu, saat langit mulai gelap kembali, Fatimah akhirnya memahami satu hal. Cinta terbesar bukanlah memiliki. Cinta terbesar adalah ketika hati tetap memilih memberi, meski tahu setelah itu ia akan menangis sendirian.
Penulis: Ummu Masrurah


















