ilustrasi: www.google.com

Oleh: Fathur Rohman*

Umat Islam banyak yang berebut melabeli dirinya dengan istilah salafus sholih, tak jarang di antara mereka banyak yang mengaku dirinya sebagai salafi, salafiyah, atau pengikut ulama salaf. Secara bahasa istilah ini terdiri dari dua kata yaitu salaf dan sholih, kata salaf artinya adalah orang yang terdahulu dan kata sholih artinya adalah baik. Secara istilah didefinisikan beragam, diantaranya adalah golongan umat Islam yang hidup pada masa-masa awal Islam yaitu para sahabat dan para tabi’in. Sedangkan ulama lain mendefiniskan salafus sholih sebagai ulama yang sesuai dengan ulama Makah dan Madinah, serta ulama Al Azhar yang memiliki tauladan yang baik dalam menjalankan kebenaran.

Dari beberapa pengertian di atas, ada perbedaan cara pandang tentang bagaimana menjadi pengikut salafus sholih, diantaranya adalah:

Pertama, golongan umat Islam yang sangat berhati hati dalam memahami ajaran agama Islam yang berasal dari Al Quran dan Al Hadits, walaupun secara kemampuan perangkat ilmunya mereka memenuhi syarat, mereka tetap merujuk kepada kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama yang hidup di zamam para tabi’in dan merujuk kepada ucapan, perilaku, atau atsar para sahabat, karena mereka ingin memiliki pemahaman terhadap ayat-ayat Al Quran dan Hadits Nabi seperti pemahaman yang dimiliki oleh para salafus sholih tersebut. Pada umumnya umat Islam golongan ini biasanya lebih toleran, karena mereka terbiasa mendapati ragam pemahaman yang berbeda beda ketika mereka membaca kitab-kitab para ulama terdahulu, kitab-kitab para tabi’in, dan atsar-atsar para sahabat.

Kedua, golongan umat Islam yang ingin menjadi pengikut salafus sholih dengan cara meniru bagaimana cara salafus sholih memahami ajaran agama Islam yaitu dengan cara langsung membaca dan memahami ayat-ayat Al Quran dan Hadits Nabi sesuai dengan kadar kemampuannya masing-masing, latar belakang kemampuannya masing-masing yang berbeda-beda, dan bidang keilmuannya masing-masing. Pemahaman yang didapat melalui proses ini biasanya dianggap sebagai pemahaman yang paling benar, sehingga biasanya agak sulit menerima pemahaman orang lain yang berbeda dengannya, karena ketika proses menemukan pemahaman seperti itu, mereka tidak memahaminya melalui mengetahui ragam pemahaman yang berbeda-beda dan pemahaman itu hanya didapat dari sudut pandang dirinya sendiri, bukan membandingkannya dengan pemahaman orang lain.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kelompok pertama memahami bahwa cara menjadi pengikut salafaus sholih adalah dengan meniru pemahaman salafus sholih terhadap ajaran agama Islam, sedangkan kelompok kedua memahami cara menjadi pengikut salafus solih adalah dengan meniru caranya (bukan pemahamannya).

Dua cara yang berbeda untuk menjadi pengikut salafus sholih seperti di atas menjadi akar dari perbedaan tipe umat Islam dalam memahami ajaran agama Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kira-kira kita termasuk tipe yang manakah ketika kita berusaha menjadi pengikut salafus sholih? Dalam tipe yang manapun kita berada, semoga persatuan umat Islam tetap diutamakan sehingga persaudaraan sesama umat Islam tetap bisa terjalin dengan baik. Amin.

Allahu a’alam bis showab.

*Penulis adalah dosen dan Kaprodi Pendidikan Bahasa Arab Unhasy Jombang.

SebelumnyaPahami Cara Memperlakukan Istri-istrimu
BerikutnyaZainut Tauhid Jelaskan Program Strategis Kementerian Agama RI di Hadapan Ulama Jatim