KH. Yusuf Hasyim

Tiga tahun setelah kemerdekaan. Pemerintah Indonesia belum mampu mencapai kondisi stabil, kabinet masih sangat rapuh. Ini akibat dari munculnya ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah. Salah satu bentuk ketidakpuasaan itu memucak dalam peristiwa pemberontakan PKI di Madiun. Rencana rasionalis dan strukturisasi TNI yang merupakan kebijakan pemerintah Perdana Menteri Moh. Hatta, ditolak oleh sejumlah bridger dan kelaskaran. Kondisi ini dimanfaatkan betul oleh PKI dan sejumlah organisasi sayapnya.

Rasionalisasi dan strukturisasi TNI memang berakibat tergusurnya beberapa anggota kelaskaran dari pangkat semula. Seorang Letnan Kolonel misalnya, harus mengalami penurunan pangkat menjadi Kapten. Pak Ud (KH. Yusuf Hasyim) sendiri turun pangkatnya dari Letnan Kolonel menjadi Letnan Satu di bawah pimpinan Letkol Munasir. Menurut satu sumber, Letkol Munasir adalah teman dekat KH. Wahid Hasyim.

Penataan personel semacam ini, oleh pihak-pihak tertentu, dinilai sangat menyakitkan. Tak heran bila PKI, dengan kekuatan laskar dan sayap-sayapnya, berhasil membonceng situasi sehingga pecahlah pemberontakan Madiun. Berbeda dengan perang kemerdekaan, dalam pemberotakan kali ini Pak Ud harus berhadapan dengan bangsanya sendiri (yang ditunggangi PKI).

Beberapa hari sebelum Peristiwa Madiun, Pak Ud berada di Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM), Takeran, Magetan, untuk bersilaturahmi kepada pengasuhnya, KH. Muhammad Nur. Tak lama kemudian Pak Ud mendapat informasi perkembangan situasi yang makin memburuk. Akhirnya Pak Ud langsung bergabung dengan pasukannya yang sudah siap diberangkatkan ke Madiun.

Dalam upaya menumpas pemberontakaan PKI yang dimotori Form Demokrasi Rakyat (FDR) itu, dikembangkanlah startegi militer dengan cara mengepung kota Madiun dari berbagai arah. Pak Ud yang saat itu masih berusia 19 tahun, bergabung dengan pasukan yang bergerak ke arah timur. Dalam pasukan itu, Pak Ud didampingi kakanya, KH. Kholik Hasyim.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pasukan Pak Ud dipecah-pecah dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah sekitar 30-an orang. Pak Ud bergabung dengan kelompok kecil yang menuju Ponorogo untuk membebaskan Kapten Hambali yang sedang disekap di penjara Ponorogo. Menurut berita yang beredar, pagi harinya penjara Ponorogo akan diledakkan oleh PKI. Karenanya, pasukan Pak Ud memutuskan untuk segera menyerbu.

Ketika hari mulai gelap. Kota Ponorogo ikut gelap tanpa penerangan listrik. Dalam waktu sekejap, Penjara Ponorogo berhasil dikuasai. Di banyak bagian dari penjara itu telah terpasang bom dan dinamit yang siap meledak, dengan kabel-kabel pemicu yang sudah terpasang.

Tugas Pak Ud berhasil dilaksanakan dengan baik, bahkan tidak hanya Kapten Hambali saja yang berhasil dibebaskan, tetapi juga KH. Imam Zarkasi dan KH. Abdullah Sahal (kedua kakak-beradik ini pimpinan Pondok Pesantren Modern Gontor)

Nasib kedua pimpinan Gontor itu kemudian diserahkan kepada pemuda-pemuda Laskar Hizbullah. Di antara pemuda ini terdapat H. Muchari Hassan dan Syamserin Thayib. Pemuda-pemuda Hizbullah melarikan kedua pimpinan Gontor tersebut dengan jalan melingkar. Ketika sampai di Kecamatan Jetis, mereka mencapai Gontor melalui Desa Tegalsari, sebuah desa yang pernah berdiri pesantren terkenal yang dipimpin KH. Hassan Bessari, pesantren yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Modern Gontor.

Peran  serta KH. Yusuf Hasyim dalam menumpas PKI di Madiun, meningalkan kesan yang sangat mendalam di hatinya. Sebab, Pak Ud langsung menyaksikan kekejaman PKI membantai ribuan Muslim Madiun dengan cara-cara yang tidak manusiawi. Bahkan, diantara para korban terdapat keluarga Pak Ud sendiri. “Ada 16 orang kyai dari kerabat kami di wilayah Dagangan dan Kebonsari, Madiun dan Takeran Magetan, yang ikut menjadi korban.”

Sumber:

“Membebaskan Sandera PKI Madiun” (halaman 11-13)  dari Buku “Sang Pejuang Sejati” KH. Muhammad Yusuf Hasyim (di mata Sahabat dan santri). Editor: M Halwan & Yusuf Hidayat. Sebuah Pengantar: Salahuddin Wahid.

(Ditulis ulang oleh Dimas Setyawan, Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang).

SebelumnyaMengingat Kembali 1965/1966
BerikutnyaJustru Cinta Itu Tumbuh Saat Hati Ikhlas