• Judul               : Diary Ungu Rumaysha (DUR)
  • Penulis            : Nisaul Kamilah
  • Penerbit           : Telaga Aksara
  • Cetakan           : VI, Juni 2020
  • Tebal               : 504 halaman
  • Peresensi         : Umdatul Fadhilah*

Rum adalah kita. Kita, para perempuan yang sedang berproses menjadi baik. Karena baik, adalah proses berkesinambungan. Tidak instan.

-DUR-

Kehidupan remaja menjadi masa paling indah bagi sebagian yang lain. Dimana segala beban hidup tidak menjadi prioritas. Sekolah, belajar, dan bermain menjadi lingkaran kebahagiaan remaja. Begitupun Rumaysha Nahrasiyah Wicaksono atau Rum sangat menikmati masa remajanya. Dari SMA Rum selalu berprestasi. Rum bukan sembarang gadis, ia mampu memanfaatkan peluang yang ada. Termasuk dalam membantu Bune berjualan.

Rum termasuk siswa yang cerdas di sekolahnya, sampai datanglah sosok pria yang kemudian mampu merebut tahta intelektual dirinya.

Bagaimana bisa Alfaraby mengawinkan tugas Biologi mengenai hewan filum Arthopoda, dengan kisah syahdu dalam sejarah kenabian? Alfaraby Wiradbaja, baik dari nama, pengetahuan, maupun gesturnya, sangat tidak sinkron dengan bentuk wajah dan kulit yang serba oriental.” (halaman 19).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Keduanya akrab dan menjadi teman baik. Alfaraby senang bercerita tentang anggrek kepada Rum, Bune juga kak Salma yang mondok di Darul Qur’an (DQ). Dulu Ki Wicaksono, bapak Rum dan Salma, semasa hidupnya suka mendalang di pondok tersebut. Rum kecil juga beberapa kali diajak ke tempat itu.

Ketika kelulusan kian dekat, Alfaraby menumpahkan perasaan lewat hadiah Diary Ungu untuk Rum. Keraguan Rum akan cerita Bune dari Kak Salma membuatnya urung dalam menerima Al. Ketertarikan keduanya tidak bisa berlanjut karena Bune mempermasalahkan masa lalu keluarga Al yang heterogen dalam keyakinan beragama.

Dua tahun kemudian Rum dihadapkan pada wasiat sang Kakak yang meninggal satu bulan menjelang pernikahan. Sang Kakak yang tahfidz dijodohkan dengan putra kiai dari pondok DQ. Rum yang memang manut dengan Bune, dan hanya Bune perempuan satu-satunya, berusaha membuat Bune bahagia dengan menerima sebagai badal pengantin.

Rum yang tidak pernah mondok, Rum yang hanya belajar dari sekolah umum tiba-tiba harus belajar menjadi menantu seorang kiai dengan para santrinya. Berbeda dengan Salim Abdullah Asy Syathiri atau Gus Asy. Sosok lulusan Al-Azhar yang sedari dulu berkecimpung di dunia pesantren berusaha untuk menerima Rum. Meski Rum bukan Salma. Meski mereka sangat berbeda. Tetapi Rum lah yang akhirnya menjadi jodohnya.

Gus Asy sendiri mengenal Ki Wicaksono dan biasa memanggilnya ki Dalang, orang Sumberboto memanggilnya Ki Sono. Beliau banyak memberi nasihat.

Ki Sono bercerita bahwa kalau pas lebaran, semua orang harus mengakui kesalahan dan meminta maaf. Tradisi sungkeman mengajarkan babakan Kupat. Laku Papat. Yakni Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan. Lebaran, artinya telah usai waktu puasa Ramadhan. Luberan bermakna melimpah ruah, yang diwakili dengan tradisi zakat fitrah dan zakat maal. Leburan, artinya sudah terkikis habis semua kesalahan dan dosa karena saling memafkan. Terakhir Laburan. Labur identik dengan kapur pemutih dinding. Makna filosofinya, usai manusia berpuasa, mengeluarkan zakat, saling memafkan, maka jiwanya akan kembali fitrah alias suci, bersih, putih tanpa dosa.” (halaman 272)

Ketika berusaha menyatukan perbedaan tampak lagi pada kebiasan mereka dalam mendengar maupun melihat sesuatu. Gus Asy yang terbiasa melihat Nabawi TV, berbanding terbalik dengan Rum yang suka K-Pop dan tembang-tembang Jawa. Namun, bagi Rum tembang Jawa lebih mendinginkan hati sekaligus sebagai sarana merenung. Menurutnya tembang macapat penuh dengan filosofi.

Menjadi badal pengantin tidaklah mudah. Rum yang masih 19 tahun harus merelakan masa mudanya dengan berbagai pergolakan batin. Belum lagi cibiran tentang Rum yang bukan putri kiai dan hafidzoh, seolah Rum tidak pantas menjadi bagian keluarga DQ. Semua Rum telan dengan keikhlasan. Rum meskipun demikian, ia perempuan kuat lagi cerdas.

Perjanjian Maskumambang yang dibuatnya dengan Gus Asy menjadi problematika sendiri bagi Rum. Rum belum siap untuk menceritakannya, terlebih perjanjian Rum dan gengnya sepakat tidak akan menikah dini, setidaknya sebelum wisuda semua anggota harus menjomblo. Sekarang malah terbelenggu dengan kalimatnya sendiri. Ia butuh waktu untuk menceritakannya pada The Queens. Hingga kesalahpahaman terjadi. Sahabatnya menyukai Gus Asy. Lalu kedatangan Alfaraby kembali dengan keseriusan.

Pada akhirnya cinta yang bertahan ialah cinta yang sudah terikat diantara dua keluarga. Rum kini sangat mencintai Gus Asy. Begitu pula Gus Asy yang sudah mampu menerima Rum sebagai kekasih halalnya. Melalui ikhlas Rum mampu mengelola hatinya. Rum mampu menempatkan diri layaknya perempuan cerdas dalam berpikir. Penulis menceritakannya dengan apik, ada berbagai nasihat Jawa maupun syair yang penuh filosofi. Perpaduan bahasa dengan ilmu pengetahuan alam dan sejarah mampu menyihir pembaca hanyut dalam kisah.

*Mahasiswa Unhasy Tebuireng Jombang.

SebelumnyaPeran KH. Yusuf Hasyim Membebaskan Sandera PKI Madiun
Berikutnya4 Rahasia Kesempurnaan Akhlak