sumber gambar: sehatq.com

Oleh: Rafiqatul Anisah*

Membentuk karakter merupakan tugas utama orang tua. Sebab pada dasarnya keluarga adalah rumah pertama bagi anak untuk mendapat segala pengajaran, pengalaman, dan kasih sayang. Sedangkan guru sebagai pihak pendukung yang dapat membantu untuk mencerdaskan anak dengan pengajaran dan pendidikan di sekolah.

Ada yang berpendapat bahwa kecerdasan seorang anak merupakan faktor genetik (turunan). Secara tidak langsung dari pendapat tersebut akan diartikan jika si ibu memiliki gen cerdas maka akan melahirkan anak cerdas pula, begitupun sebaliknya.

Dikutip dari buku “Mencerdaskan Anak” karya Suharsono, penulis menyertakan dialog kecil antara seorang bintang film cantik tetapi bodoh dengan Einsten sang genius, tetapi tidak tampan. Betapa idealnya kata bintang film yang cantik itu jika ia kawin dengan Einsten.

“Tentu kita akan memiliki keturunan yang cantik seperti diriku dan cerdas seperti dirimu.” Lalu jawaban Einsten, “Apa yang saya khawatirkan adalah jika anak kita itu sebodoh dirimu dan sejelek wajahku”.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dari percakapan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor genetik tidak melulu menjadi faktor dominan untuk kelangsungan hidup dan membentuk kepribadian anak. Sejak masih janin pun dengan peka akan menerima berbagai macam pendekatan untuk membentuk karakter si anak nantinya. Oleh sebab itu, faktor genetik pintar atau tidak tentu bukan menjadi tolok ukur kecerdasan anak.

Akan percuma jika orang tua yang cerdas akan tetapi tidak menyalurkan kecerdasannya kepada anaknya, sebab pola asuhnya diberikan kepada orang lain yang biasa kita kenal baby sitter misal. Berbeda dengan orang tua yang biasa saja akan tetapi dengan sepenuh hati menjaga dan merawat anaknya sendiri dengan tekad bagaimana kelak si anak bisa lebih baik dari dirinya.

Ekspresi diri terbagi menjadi tiga, yaitu Diri Biologis; bentuk tubuh, tinggi badan, warna kulit, postur wajah, dan sebagainya. Yang kedua Diri Fenomenal; pengalaman hidup, cita rasa, sikap, kebiasaan, minat, dan sebagainya. Yang ketiga Diri Noumenal; berdasarkan perspektif Al-Qur’an tentang manusia baik secara potensial (fitri) maupun aktual (muttaqin).

Pada dasarnya setiap anak itu cerdas, yaitu cerdas pada bidangnya masing-masing. Baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Sebagaimana fitrah manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari.

SebelumnyaTak Mau Kalah, Begini Strategi Santri Hadapi Era Digitalisasi
BerikutnyaCukuplah Kematian Menjadi Pengingat