Pendidikan Sejak Dini, Mewujudkan Impian di Masa Depan

Naureen Safia Zahra, santriwati pondok putri Tebuireng dan siswi SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng pasca menjuarai olimpiade bahasa Inggris di MAN 3 Jombang, (22/08)

Pendidikan karakter dimulai sejak dini, bahkan sejak di dalam kandungan sekalipun. Dari pendidikan tersebut akan membentuk kebiasaan sehingga melahirkan kedisiplinan. Seperti yang dikatakan oleh Sayyidina Ali, “Usia 0-7 tahun, layanilah anak ibarat raja. Usia 8-14 tahun, jadikan anak seperti tawanan perang dimana anak punya kewajiban sekaligus hak. Usia 15 – 21 tahun perlakukan ia seperti sahabat. Menjadi teman ngobrol, curhat, diskusi, bahkan mencari solusi dari masalahnya”.

Naureen Safia Zahra salah satu santri Pondok Putri Tebuireng asal Jakarta yang baru saja masuk kelas VII SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng. Sosok yang sedari kecil tidak menyukai bahasa Inggris, akan tetapi selalu diarahkan orang tuanya untuk mengenal dan mendalami bahasa Inggris.

Seorang ibu yang ia panggil bunda sejak kecil sudah mengenalkan bahasa Inggris melalui kartun-kartun di TV (yang ber-subtitle bahasa Inggris) namun Naureen belum langsung suka. Ketika di bangku TK,  Naureen dibina untuk les bahasa Inggris, namun itu berlangsung saat TK saja. Setelah menginjak bangku Sekolah Dasar, Naureen mulai kembali bosan, ia tak lagi les bahasa Inggris.

Ketika kelas 3 SD, Naureen baru menyukai bahasa Inggris dengan sungguh-sungguh. Sejak itu pula teman-teman Naureen mulai mengenalkan Youtube kepadanya. Di sana ia bisa mengakses berbagai film maupun lagu-lagu barat. Kelas 4 SD,  Naureen mulai mengenal sosial media. Ia berteman dengan orang-orang luar negeri. Karena pembiasaan tersebut, lambat laun mampu meningkatkan kemampuan bahasa Inggris Naureen secara akademik di sekolah, seolah-olah ia paling mampu di kelas, serta tidak terlepas dari motivasi guru dan teman-temannya.

“Dari dulu bercita-cita untuk mengikuti ajang lomba, dan bisa juara. Ingin mendapat prestasi sebelum berusia 12 tahun,” terang Naureen yang menjadi motivasi sejak dulu.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Belum genap tiga bulan di Pesantren ataupun di sekolah, Naureen bisa menggapai salah satu impiannya. Di bangku SMP A. Wahid Hasyim, peminatannya di bidang bahasa Inggris semakin kuat. Ketika ada ajang perlombaan, mulanya dalam diri Naureen hanya ingin coba-coba saja, ia mengajukan diri lalu diseleksi. Setelah melalui proses seleksi, Naureen lolos sebagai salah satu siswi untuk mengikuti Olimpiade Bahasa Inggris. Betapa senangnya Naureen bisa berkesempatan dalam ajang tersebut.

🤔  Shalat 'Id Pondok Putri Tebuireng dan Teladan Ibadah Kurban

Olimpiade Bahasa Inggris diselenggarakan oleh MAN 3 Jombang yang dikemas dalam kegiatan Exact Fun Day (EFD). Ada 261 peserta yang lolos semifinal berdasarkan seleksi online,  dan 40 peserta masuk final. Naureen peringkat ke- 15 dari 40 peserta yang masuk final. Di babak final tersebut, Naureen sempat minder karena merasa yang lain lebih baik darinya, ragu, takut sebab ini merupakan olimpiade pertamanya, sementara lawan yang lain mayoritas lebih berpengalaman dan lebih senior darinya.

Sekitar satu setengah jam, hasil olimpiade diumumkan. Tak henti-hentinya Nuareen membaca Al- Fatihah dan Al- Insyiroh.  “Tidak harus dapat emas atau perak, dapat perunggu saja udah seneng,” harapnya dalam hati. Nama demi nama juara diumumkan. Diantaranya sudah ada beberapa siswa/i SMP AWH disebut namanya sebagai juara. Naureen merasa sudah tidak punya harapan lagi. Ternyata setelah juara 3 diumumkan, selanjutnya nama Naureen. Naureen yang dipanggil dan mendapat juara 2 dalam Olimpiade Bahasa Inggris Tingkat SMP/MTs Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh MAN 3 Jombang dalam ajang Exact Fun Day (EFD) pada tanggal 22 Agustus 2019. Naureen mendapat medali emas dan uang pembinaan sebesar Rp. 1.000.000, sungguh diluar dugaan.

Ketahuilah, setelah mendapat pengumuman bahwa Naureen lolos semifinal, setiap shalat tahajud, shalat hajat, shalat taubat, dan witir sebagaimana yang telah menjadi rutinitas santri Pondok Putri Tebuireng, Naureen berdo’a agar bisa pulang membawa medali emas. Alhamdulillah, Allah mengabulkan do’anya. Naureen meraih prestasi pertamanya di olimpiade pertamanya, serta sebelum usianya 12 tahun. Tepat tanggal 28 Agustus 2019 ini, Naureen genap berusia 12 tahun. Sungguh kado terindah baginya.

Naureen berharap mampu mengikuti ajang olimpiade lagi bahkan di tingkat yang lebih tinggi. Ia berharap, dengan prestasinya tersebut dapat melanjutkan studinya dengan beasiswa.


Pewarta: Anis