Pecinta Alam ke Penggerak Lingkungan, Aries Serukan Tobat Ekologis di Forum Internasional

83
Pemaparan materi melalui zoom meeting di aula SMA A Wahid Hasyim Tebuireng (foto: ra)

Tebuireng.online– Majalah Tebuireng menggelar 2nd International Magazine Review bertajuk “Ecological Repentance: Religious Efforts to End Disasters” yang berlangsung di aula SMA Abdul Wahid Hasyim, Tebuireng. Kegiatan ini menghadirkan Soegiharto Aries Soebagiyo, Wakil Administratur Kepala Sub Kesatuan Pemangkuan Hutan Lumajang, sebagai salah satu pemateri bedah Majalah Tebuireng edisi Tobat Ekologis.

Baca Juga: Konsultan Jepang Soroti Krisis Ekologi Global di Bedah Majalah Tebuireng

Dalam kesempatan tersebut, Aries mengisahkan awal ketertarikannya pada dunia lingkungan yang tumbuh sejak masa sekolah sebagai pecinta alam. Ia mengaku sejak masa sekolah telah menjadi pecinta alam dan aktif melakukan pendakian gunung ketika masih menjadi mahasiswa. Kegemaran itulah yang menjadi titik awal tumbuhnya kecintaan mendalam terhadap ciptaan Allah.

“Dari situ muncul kecintaan saya terhadap ciptaan Allah, dan dengan kuasa-Nya saya bisa berkiprah di Perhutani, menangani masalah lingkungan hingga situs-situs budaya,” ujarnya di hadapan Siswa SMA AWH yang tergabung dalam organisasi Hipampala, Sabtu (9/5/2026).

Kecintaannya tersebut kemudian membawanya berkiprah di Perhutani untuk menangani persoalan lingkungan. Menurutnya, seluruh makhluk hidup yang berada di kawasan hutan harus dilindungi dengan baik karena merupakan bagian dari ciptaan Tuhan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selain itu, Ia juga menjelaskan bahwa pengelolaan hutan memiliki aturan ketat demi menjaga keseimbangan ekosistem. Semua makhluk hidup di hutan dilindungi, termasuk larangan menebang pohon dalam radius tertentu dari sumber mata air. Bahkan, lanjutnya, proses penebangan di Perhutani harus direncanakan dua tahun sebelumnya dan mendapat persetujuan dari kementerian. Bahkan dalam pengelolaan hutan jati, masyarakat diperbolehkan memanfaatkan hasil hutan selama tidak melakukan eksploitasi berlebihan.

Baca Juga: Santri Serba Ahli atau Setengah Jadi? Dibahas dalam Bedah Majalah Tebuireng di UPSI

Siswa sangat khidmat mengikuti forum bedah majalah edisi Tobat Ekologis di aula SMA AWH (foto: ra)

Lebih jauh, Aries menekankan bahwa bumi telah menyediakan kebutuhan manusia untuk keberlangsungan hidup. Namun, tidak sedikit manusia justru melakukan kerusakan terhadapnya. Ia kemudian menyinggung kisah Sunan Bonang yang menangis saat melihat rumput tercabut dari tanah. Kisah tersebut, menurutnya, mengandung pesan mendalam tentang pentingnya memperlakukan seluruh makhluk hidup dengan baik.

Baca Juga: Majalah Tebuireng Go International, Angkat Isu Integrasi Ilmu Agama dan Sains Pesantren

“Beliau menangis karena makhluk Allah yang namanya rumput tercabut dan tak ada manfaatnya. Maka perlakukan makhluk hidup dengan baik. Jangan merusak bumi,” tuturnya.

Aries juga mengajak masyarakat untuk aktif berkolaborasi dalam menjaga lingkungan, termasuk melaporkan tindakan perusakan alam. Menurutnya, kerusakan lingkungan, terutama pada sumber mata air, akan berdampak besar pada kehidupan di masa depan nanti. Ia mendorong gerakan sederhana seperti menanam pohon di sekitar rumah dan sumber mata air, termasuk tanaman produktif seperti buah-buahan.

“Tanam pohon di sekitar sumber mata air. Bisa dengan buah-buahan. Kalau lingkungan sudah tercemar, terutama air, kita tidak tahu bagaimana hidup kita ke depan,” pesannya.

Dalam forum yang diikuti para pelajar, guru, dan santri ini, Aries secara khusus mengajak para kiai dan para pendidik untuk terus menggaungkan pentingnya menjaga lingkungan. Ia bahkan berharap ke depan akan ada kajian hingga khutbah Jumat yang secara khusus membahas isu lingkungan.

Baca Juga: Majalah Tebuireng Tepis Tuduhan Feodalisme: Itu Tak Relevan dengan Tradisi Pesantren

“Saya berkomitmen untuk terus mengkampanyekan lingkungan,” tegasnya.

Menutup pemaparannya, Aries menyampaikan lima pesan utama. pertama, menanam pohon sebanyak mungkin. Kedua, tidak merusak lingkungan. Ketiga, mengampanyekan kepedulian melalui tulisan. Keempat, menjaga niat dan pikiran yang baik.

Terakhir, ia menyampaikan pesan singkat dalam forum itu, “wariskan mata air kepada anak cucu kita, jangan mewariskan air mata.” Pungkasnya.



Pewarta: Helfi Livia Putri

Editor: Rara Zarary