
Tebuireng.online— Majalah Tebuireng mengangkat edisi ke-99 bertajuk “Santri Serba Ahli, atau Setengah Jadi?”. Edisi tersebut dibedah langsung oleh Dr. H. Mohammad Anang Firdaus selaku Ketua Tebuireng Media Group sekaligus Wakil Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, bersama Dr. Samsuddin bin Abd Hamid selaku Koordinator II Centre Ulul Albab dan dosen di UPSI Malaysia, Kamis (8/1/2026).
Dalam pemaparannya, Dr. Samsuddin bin Abd Hamid menjelaskan bahwa Majalah Tebuireng edisi 99 Juli–Agustus tersebut secara khusus menyoroti isu integrasi ilmu dalam sistem pendidikan, khususnya di lingkungan pesantren dan lembaga pendidikan Islam.
“Kalau kita kembali kepada perbincangan di dalam majalah ini, dapat kita lihat dalam pelbagai topik dan kolom yang ada, semuanya berfokus pada perbincangan integrasi ilmu atau isu-isu yang relevan dengan sistem pendidikan,” ujarnya.
Baca Juga: Majalah Tebuireng Go International, Angkat Isu Integrasi Ilmu Agama dan Sains Pesantren
Ia juga menegaskan bahwa secara keilmuan, khazanah pendidikan Islam antara Malaysia dan Nusantara, khususnya Indonesia, memiliki banyak kesamaan dan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
“Jika kita menelusuri integrasi ilmu dan pendidikan, saya kira hampir sama. Di Nusantara, pengajian ilmu agama bermula dari pondok atau pesantren. Di Malaysia, kita menyebutnya dayah. Sistem ini pada dasarnya sama, baik di Indonesia, Malaysia, maupun Thailand,” jelasnya.
Meski demikian, Dr. Samsuddin menilai bahwa perkembangan pondok pesantren di Indonesia dan dayah di Malaysia kerap menghadapi tantangan yang serupa, terutama terkait ruang gerak dan kewenangan kelembagaan.
“Dari satu sisi, perkembangan pondok pesantren dan dayah ini mengalami keadaan yang hampir sama, yakni tidak selalu diberikan ruang yang luas untuk bergerak lebih jauh, baik dari sisi sistem maupun kewenangan,” ungkapnya.
Namun, ia menekankan bahwa dari waktu ke waktu tetap muncul berbagai inisiatif positif yang mendorong pembaruan dan penguatan lembaga pendidikan Islam. Salah satunya melalui pengembangan kurikulum yang lebih adaptif dengan memasukkan nilai-nilai dan elemen pendidikan yang lebih luas.
Baca Juga: Direktur Media Tebuireng Diskusikan Integrasi Ilmu Agama dan Sains di UPSI Malaysia
“Dari sisi positif, pelbagai inisiatif baru diwujudkan, seperti usaha membina kurikulum yang baik dengan memasukkan nilai-nilai serta elemen-elemen pendidikan yang relevan. Ruang-ruang ini berlaku sama, baik di Indonesia maupun di Malaysia,” tambahnya.
Di akhir pemaparannya, Dr. Samsuddin menyebutkan bahwa perkembangan positif tersebut melahirkan berbagai model lembaga pendidikan baru, salah satunya Ma’had Tahfidz dengan pendekatan integrasi ilmu.
“Dampak dari perkembangan itu, kita lihat muncul institusi yang dinamakan Ma’had, di mana sudah ada integrasi antara sains dan agama. Di Malaysia sendiri, kita mengenal Ma’had Tahfidz Integrasi,” tuturnya.
Menurutnya, Ma’had Tahfidz Integrasi menggabungkan pendidikan Al-Qur’an dengan ilmu sains dan teknologi, sehingga santri tidak hanya unggul dalam keilmuan keagamaan, tetapi juga memiliki bekal pengetahuan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Pewarta: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Rara Zarary


















