
Tebuireng.online– Majalah Tebuireng edisi ke-98 dengan tema “Feodalisme di Pesantren” dibedah di hadapan para santri Muallimin Hasyim Asy’ari Tebuireng, pada Senin malam (27/10) di Auditorium lantai 2 Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng.
Acara tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Yayan Musthofa, M.H., staf M2 Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, dan Fardan Hamdani, S.Fil., M.Ag., Pengasuh Pondok Khoiriyah Hasyim Seblak. Diskusi dipandu oleh Ahmad Fikri sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Ustadz Yayan Musthofa menjelaskan bahwa istilah feodalisme pada dasarnya merupakan konsep akademik yang berakar pada sistem ekonomi yakni struktur sosial yang memanfaatkan tenaga orang lain tanpa imbalan layak. Namun, menurutnya, konsep ini tidak dapat diterapkan secara langsung dalam konteks pesantren.
Baca Juga: Sikap Tawadhu’ dan Bantahan Tuduhan Feodalisme di Pesantren
“Feodalisme itu filosofinya ekonomi, sedangkan di pesantren konteksnya pendidikan dan pembentukan karakter. Misalnya, kalau santri tidak diajari menjaga kebersihan melalui kegiatan ro’an (bersih-bersih), maka mereka akan terbiasa melihat hal-hal kotor. Jadi, maknanya sangat berbeda,” jelasnya.
Ia menambahkan, di pesantren kerja sama dan kedisiplinan dibangun melalui praktik langsung, bukan paksaan.
“Kalau di feodalisme ukuran utamanya ekonomi, di pesantren ukurannya adalah karakter. Jika santri tidak dilatih tanggung jawab, termasuk dalam kebersihan, maka akan tumbuh sikap malas,” tambahnya.

Feodalisme Tak Relevan dengan Tradisi Pesantren
Sementara itu, Gus Fardan Hamdani menegaskan bahwa istilah feodalisme tidak tepat disematkan pada dunia pesantren. Menurutnya, penghormatan dan ketaatan santri kepada kiai adalah bagian dari adab dan epistemologi keilmuan dalam Islam, bukan bentuk perbudakan atau pemaksaan.
Baca Juga: Di Balik Tuduhan Feodalisme dalam Tubuh Pesantren
“Feodalisme di pesantren itu tidak ada. Kalau pun mau dipaksakan, mungkin lebih tepat disebut perbudakan, tapi jelas berbeda. Menghormati guru dan kiai adalah bagian dari adab, dan penerapannya berbeda-beda tergantung daerah,” ujar Gus Fardan.
Ia menjelaskan bahwa penghormatan dalam Islam memiliki dimensi epistemologis, yakni bagaimana seorang murid memuliakan sumber ilmu (baca. pemberi ilmu) dan orang yang menyampaikannya.
“Dalam Islam, ada konsep ilmu yang manfaat. Untuk mencapainya, ada syarat-syaratnya, salah satunya menghargai dan menghormati orang yang memberi ilmu. Jadi, ta’dzim kepada guru itu bagian dari epistemologi Islam. Hanya saja, bentuk atau ekspresi adab itu bisa berbeda-beda di setiap daerah,” jelasnya.
Sebagai contoh, ia menyebut misal di Mesir memperbaiki posisi sandal guru bisa dianggap mencurigakan seperti ingin mencuri, namun di Indonesia hal itu justru dianggap bentuk penghormatan.
Dalam sesi tanya jawab, beberapa peserta mengajukan pertanyaan kritis terkait praktik penghormatan di pesantren.
Nur Muhammad Ramadhan menanyakan bagaimana seharusnya santri bersikap kepada anak-anak kiai. Menanggapi hal itu, Gus Fardan mengutip kitab Ta’lim wal Muta’allim, bahwa menghormati anak guru tetap perlu dilakukan, namun tidak secara berlebihan.
Pertanyaan lain datang dari Salaf Al Hakim, yang menyinggung bentuk penghormatan yang berlebihan hingga menyerupai saat ibadah. Menjawab hal ini, Ustadz Yayan menjelaskan bahwa Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sendiri tidak membenarkan bentuk penghormatan yang berlebihan seperti berjalan ngesot di depan guru.
Baca Juga: Pesantren Tebuireng Tegaskan Peran Santri dalam Mengawal Indonesia Menuju Peradaban Dunia
“Secara teknis, sikap semacam itu lebih merupakan tradisi daerah, bukan ajaran pesantren,” tegasnya.
Sementara itu, Adam, salah satu peserta, menanyakan bagaimana santri sebaiknya merespons tudingan negatif di media sosial terhadap perilaku sebagian kiai atau nyai.
Menjawab hal ini, Gus Fardan mengajak para santri untuk tetap berdakwah dengan cara santun dan bijak di dunia digital.
“Kalau ada kiai atau guru yang bersikap tidak baik, itu oknum, bukan cerminan pesantren. Tugas kita adalah mengonternya dengan narasi yang baik dan berdialog secara santun. Banyaklah belajar agar tidak mudah terpengaruh oleh opini miring,” pesannya.
Di akhir acara, moderator Ahmad Fikri menyimpulkan bahwa diskusi ini tidak sekadar membedah istilah feodalisme, melainkan juga menjadi refleksi bersama bagi para santri untuk memahami kembali nilai-nilai adab, pendidikan, dan kesederhanaan yang menjadi ciri khas kehidupan pesantren.
Pewarta: Munawara, M.I.Kom
Editor: Rara Zarary


















