Pasar Kebaikan

44
Ilustrasi aktivitas di pasar (gambar: ai/ra)

Angin pagi itu datang bersama aroma tanah yang baru tersentuh hujan semalam. Dingin memang, tetapi tidak begitu menusuk. Seolah ada sesuatu yang akan datang, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Di jalanan yang biasanya lengang, orang-orang mulai berbisik tentang sebuah pasar aneh yang muncul hanya pada hari Jumat, tepat setelah azan Subuh berkumandang. Tidak ada yang tahu kapan ia berdiri, atau siapa yang membangunnya. Namun konon, di sanalah manusia dapat membeli apa saja yang tak mungkin dibeli dengan uang.

Orang-orang menyebutnya: Pasar Kebaikan.

Aku pertama kali mendengarnya dari seorang anak kecil yang lewat di depan rumah, membawa sekantong roti dan selai cokelat di tangannya. Dengan polos ia berkata, “Ibu bilang, di pasar itu kita bisa beli bahagia, asal punya bekal kebaikan,” lalu melenggang pergi, meninggalkanku sendiri.

Aku hanya tersenyum saat itu. Di usiaku yang kedua puluh tiga, aku sudah berhenti percaya pada hal-hal ajaib yang aneh. Hidup terasa terlalu nyata, dan kenyataan terlalu keras. Namun rasa penasaran yang ganjil perlahan muncul di dadaku—sebagaimana manusia pada umumnya yang selalu ingin tahu akan sesuatu yang baru. Entah dorongan dari hati, atau mungkin dari sepi yang terlalu lama bersarang.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pagi itu aku melangkah pergi. Jalan menuju pasar diselimuti kabut tipis, seolah dunia sedang disamarkan. Namun langkah-langkah orang di depanku terasa nyata: tua, muda, miskin, kaya, semuanya berjalan diam-diam menuju arah yang sama di ujung sana.

Di ujung jalan tanah, berdirilah deretan tenda kecil yang berjajar rapi. Tidak ada spanduk, tidak ada harga, dan tak ada penjual yang meneriakkan dagangannya. Namun di setiap meja tampak benda-benda yang tak lazim: botol berisi cahaya, kantong berisi tawa anak-anak, dan cermin-cermin kecil yang menampilkan wajah seseorang yang sedang tersenyum damai dan tulus.

“Selamat datang.”

Suara seorang perempuan tua menyapaku dari balik meja kayu di depanku. Rambutnya putih seperti kapas, matanya jernih seperti air hujan.

“Apa yang kamu cari di pasar ini, anak cantik?” tanyanya lembut.

Aku sempat ragu sebelum menjawab, “Entahlah… mungkin ketenangan batin.”

Ia tersenyum pelan. “Itu barang mahal, Nduk. Tapi bukan berarti tak bisa kau dapatkan.”

“Tapi aku tidak membawa uang,” jawabku lirih.

“Di sini uang tak berlaku,” katanya lembut. “Yang kami terima hanyalah kebaikan yang pernah kamu lakukan.”

Hatiku menegang. Kebaikan?

Aku berusaha mengingatnya, namun tak banyak yang muncul. Hidupku terlalu sibuk menyesali diri, bukan memperbaiki diri. Aku jarang menolong orang, jarang berbuat tanpa pamrih. Kalaupun pernah, aku sering berharap balasan dari apa yang telah kulakukan.

“Aku tak punya apa pun untuk ditukar,” bisikku.

Perempuan tua itu menatapku dalam. “Kalau begitu, mungkin kamu tak datang untuk membeli. Mungkin kamu datang untuk belajar memberi.”

Ia lalu menggenggam tanganku, meletakkan sebuah koin perak di telapakku. Hangat, namun entah mengapa terasa berat.

“Pergilah ke tenda di ujung barat,” katanya sambil menunjuk. “Di sana, setiap kebaikan kecil bisa menjadi awal dari segalanya.”

Aku menuruti arahannya.

Di ujung pasar, seorang pemuda sedang membagikan air kepada pengunjung yang kelelahan. Ia tersenyum kepada siapa pun yang lewat tanpa banyak bicara. Aku ikut membantunya—menuang air ke gelas-gelas kecil, menyalami orang tua, menunduk sopan pada anak-anak. Tidak ada transaksi. Tidak ada harga. Hanya tangan yang memberi dan hati yang perlahan menjadi tenang.

Waktu berjalan tanpa terasa. Matahari naik pelan di balik kabut.

Tiba-tiba, perempuan tua itu datang lagi. Di tangannya ada sebuah cermin kecil. Ia menyerahkannya kepadaku.

“Lihatlah,” katanya.

Dalam pantulan cermin itu, aku melihat wajahku sendiri. Namun ada sesuatu yang berbeda. Mataku tampak lebih teduh. Bibirku melengkung lembut. Bukan karena aku terlihat cantik, melainkan karena ada ketulusan yang baru lahir di dalam dada.

Rasanya amat damai, seperti pulang ke rumah setelah lama tersesat tanpa arah.

“Apa aku… sudah membeli ketenangan itu?” tanyaku pelan.

Ia tersenyum. “Tidak. Kau tak membelinya. Kau menumbuhkannya sendiri di dalam dirimu.”

Angin pun berhembus pelan, membawa wangi tanah dan suara langkah yang mulai berkurang. Saat aku menoleh ke belakang, pasar itu mulai memudar. Tenda-tenda menghilang pelan-pelan, seperti kabut yang tersapu sinar pagi. Dalam sekejap, semuanya lenyap, menyisakan jalan tanah yang lengang dan dedaunan yang berjatuhan di sekelilingku.

Aku terdiam.

Di tanganku, koin perak itu masih ada. Namun perlahan, koin itu berubah menjadi setangkai bunga kecil berwarna putih. Entah bagaimana, aku tahu bahwa bunga itu adalah simbol dari kebaikan pertama yang lahir dengan tulus dari hatiku.

Sejak hari itu, aku tak pernah lagi melihat pasar itu.

Namun kadang, di tengah malam, saat aku menolong seseorang tanpa alasan, aku merasa angin berhembus lembut, dan ada suara lirih yang berbisik:

“Pasarmu sudah kaubawa di dalam hatimu, Nduk.”

Dan aku pun mengerti: kebaikan bukan sesuatu yang harus dicari tempatnya. Ia tumbuh di setiap niat yang tulus, sekecil apa pun itu.

Karena pada akhirnya, manusia tidak akan kaya karena hartanya, melainkan karena hatinya yang mau memberi tanpa berharap kembali.



Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary